Minggu siang itu, Syahrez tampak duduk gelisah di sofa ruang tengah Akinda. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat tegang. Ia baru saja menerima kabar buruk.
"Sorry ya, Bang, gue udah usaha semaksimal mungkin."
Syahrez hanya bisa menarik napas panjang. Malik baru saja memberitahunya bahwa grup band Wali tidak bisa memenuhi undangan—tentunya berbayar—untuk mengisi acara family gathering di rumah Syahrez dua minggu lagi. Jadwal mereka bentrok.
"Nyokap lo nggak mau grup lain apa? Harus Wali?" tanya Johan, yang duduk santai di sebelahnya sambil menyeruput es cendol yang baru saja dibeli dari gerobak yang lewat. Johan seolah mengerti betul raut wajah Syahrez yang penuh kekecewaan.
"Kagak. Maunya Wali doang," jawab Syahrez lemah.
"Yaudah, nggak ada Wali acaranya tetap jalan, kan?"
Syahrez tiba-tiba menegakkan posisi duduknya, menghadap Johan. Ekspresinya menunjukkan perpaduan antara kesal, bingung, dan marah.
"MASALAHNYA...."
Syahrez memukul pelan bantalan sofa di sebelahnya, melampiaskan kekesalan. "Nyokap gue udah bikin pengumuman di grup, bakal ada Wali!"
Rasa kesal itu muncul karena ibunya sudah mengumumkan hal yang belum pasti. Rasa bingung karena ia harus mencari cara menyampaikan pembatalan ini. Dan marah, karena ia yang selalu direpotkan dengan urusan tidak penting seperti ini, padahal pekerjaannya di kantor sedang menumpuk.
"Freak sih nyokap lo," komentar Johan santai sambil menikmati es cendolnya.
Syahrez hanya memelototi Johan, tetapi Johan sudah terbiasa dan tidak gentar. Hanya Syahrez yang memelototinya, kok.
"Tumben banget udah rapi lo semua jam segini?" Syahrez mengalihkan pandangannya, sedikit terkejut melihat Booby, Vernon, dan Dino sudah berpakaian rapi di hari Minggu siang. Biasanya, mereka masih betah ngebo di kamar masing-masing.
"Mau ngemol dong, ikut nggak, Bang?" ajak Booby, dengan semangat yang sudah kembali membara.
Syahrez langsung melambaikan tangannya. "Skip dulu, lagi mumet."
"Jangan bilang karena Wali?" tebak si Dino.
Syahrez mengangguk lemah. "Iye. Pusing gua."
"Coba undang Oma Irama aja, Bang?" usul Dino lagi.
Syahrez dan Johan kompak menatap Dino dengan tatapan bengis yang penuh ancaman. "Mending lo pergi sekarang deh," usir Johan sebelum terjadi keributan yang tidak penting.
Dino langsung terdiam, mematung.
"Yaudah, berangskut dulu ya, Bang," pamit Booby. Trio kwek-kwek itu—Booby, Vernon, dan Dino—langsung ngacir keluar kosan, pergi dengan mobil Booby.
"Udah happy lagi tuh si Booby, Han?" Syahrez sudah mendapat bocoran dari anak-anak Akinda tadi malam soal masalah keluarga Booby.
"Iya, tuh anak kan pusingnya bentaran doang. Biasalah, jiwa muda masih membara, orangtua kaya lo mana relate," Johan puas banget kalau sudah berhasil meledek Syahrez.
Syahrez mengusap wajahnya malas. "Gue cuma tua dua bulan dari lo ya, nyet!"
"Hahahahaha."
Percaya atau tidak, usia Syahrez dan Johan memang hanya berbeda dua bulan. Tapi entah mengapa, pembawaan Syahrez selalu terlihat seperti 20 tahun lebih tua dibanding Johan. Mungkin ini efek dari Johan yang masih cengengesan dan sering bertingkah ngabrut sana-sini, tidak pernah terlalu serius memikirkan hidup. Johan memang benar-benar berubah sejak gagal menikah beberapa tahun lalu. Sekarang dia jauh lebih santai, tetapi tetap saja, sifat bawel dan pikunnya kadang masih ada bahkan sangat terasa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kos Akinda
Fiksi PenggemarKos Akinda bukan sekadar tempat tinggal, ini adalah arena kehidupan yang penuh kejutan. Bayangkan tiga belas pria dewasa dengan karakter, latar belakang dan drama masing-masing, dipaksa berbagi atap yang sama. Ada yang sibuk mengejar cinta, ada yang...
