05. Vernon Keracunan!

1.8K 149 0
                                        

Juna mengucek-ngucek matanya untuk memastikan benar-benar nama siapa yang muncul di layar ponselnya.

"Bule."

Nama itu terpampang jelas. Ia mengerutkan kening. Ngapain si Vernon nelepon subuh-subuh begini? pikirnya, separuh ngantuk, separuh cemas.

"Hallo?" sapanya, masih dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.

"Bang... tolongin gue," ucap Vernon di seberang sana. Suaranya nyaris nggak kedengaran, lirih dan terdengar sangat lemah.

"Kenapa, Bul?" Juna, yang memang selalu memanggil Vernon dengan sapaan khas itu, langsung duduk tegak.

"Help me, gue muntah udah 10x kayanya bang."

Nggak banyak tanya, Juna langsung matikan teleponnya dan bergegas keluar dari kamar menuju lantai dua untuk melihat kondisi Vernon. Langkahnya cepat, nyaris lari.

"Kenapa Jun?" tegur Wisnu yang baru saja balik dari luar setelah buang sampah. Ia tampak heran melihat Juna yang mendadak panik seperti itu.

"Si Bule nelpon gue barusan. Katanya udah muntah sepuluh kali," jawab Juna, napasnya sedikit terburu.

"Lah... masuk angin?" Wisnu spontan mengernyitkan dahi

"Keracunan kayanya, Nu. Dia suka asal makan kan?"

Mendengar itu, Wisnu ikut panik dan langsung mengikuti Juna naik ke lantai dua menuju kamar Vernon.

Begitu sampai, mereka langsung membuka pintu tanpa basa-basi. Dan benar saja, Vernon sudah terkapar lemas di atas tempat tidurnya. Kamar mandi dalamnya terbuka lebar. Lantainya basah. Sepertinya dia sudah bolak-balik muntah sejak tadi.

Juna buru-buru menghampiri dan memegang keningnya. "Lo pusing?" tanyanya pelan, tapi penuh kekhawatiran.

Vernon mengangguk pelan. Matanya sayu, napasnya berat. "Perut gue juga sakit banget, Bang. Sumpah, sakit banget," keluhnya pelan.

"Telepon Bang Joshua, Nu," ujar Juna cepat. Tanpa pikir panjang, Wisnu langsung mengambil ponselnya dan menelepon Joshua.

Sekitar lima menit kemudian, Joshua datang dengan mata setengah terpejam. Bersama dia, ikut juga Syahrez dan Johan yang tampak masih linglung. Tapi ekspresi khawatir mereka nggak bisa disembunyikan.

Belum sempat Joshua berbicara, Vernon tiba-tiba bangkit dan lari ke kamar mandi. Muntah lagi. Joshua langsung mengejarnya, menepuk-nepuk punggungnya sambil mengawasi.

"Buatin teh anget dah," perintah Joshua sambil menoleh sekilas ke arah Wisnu.

Tanpa perlu disuruh dua kali, Wisnu langsung bergegas. Untungnya dispenser Vernon nyala dan masih ada teh serta gula.

Beberapa menit kemudian, Vernon sudah kembali ke tempat tidur. Wajahnya pucat pasi, napas ngos-ngosan. Ia berusaha sekuat tenaga menghabiskan teh hangat buatan Wisnu.

Ochi, yang kamarnya pas di sebelah Vernon, rupanya mendengar kegaduhan sejak tadi dan segera keluar dengan gaya santai seperti biasa.

"Kenapa nih rame-rame? Ada lenong bocah kah subuh-subuh?" cengirnya. Tapi ekspresinya langsung berubah saat melihat Vernon terkapar lemas dengan wajah keringat dingin.

"Woi?! Sakit lo?" Ochi panik, nada suaranya berubah drastis.

Vernon sudah terlalu lemah untuk menjawab. Wisnu akhirnya mengambil alih.

"Kenapa lo? Makan apa?" tanya Joshua to the point.

"Tadi gue kebangun, Bang... karena denger Bang Ochi sikat gigi," jawab Vernon pelan.

Kos AkindaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang