Sabtu pagi yang sedikit mendung menyelimuti langit Akinda, membuat suasana terasa sendu dan agak malas. Tapi seperti biasa, ruang TV tetap jadi titik kumpul anak-anak kos yang nggak pernah sepi dari drama. Hari ini spesial, karena Vernon dijadwalkan pulang dari rumah sakit. Dua abang kesayangan, Syahrez dan Johan, kebagian tugas mulia menjemput sang bule malang yang sempat keracunan makanan.
Sebenarnya, pihak rumah sakit sudah memberi lampu hijau buat Vernon pulang sejak dua hari lalu. Tapi si bule satu ini malah minta extend. Kamarnya pun bukan kelas ekonomi, tapi VIP. Bukti nyata bahwa Vernon ini bukan nggak punya uang, tapi karena nyentrik aja hidupnya. Alasannya? Katanya sih masih lemas dan butuh healing. Healing di rumah sakit....
Sementara itu, para penghuni kos lain udah pada standby di ruang TV, nungguin dengan penuh semangat... bukan karena kangen Vernon sih, tapi karena lapar. Malik—yang udah cabut pagi-pagi buat syuting—sempat masak Soto Padang.
Booby yang dari tadi duduk gelisah sambil pegang perut pun nggak tahan lagi.
"Si Vernon lama banget sih? Gue udah laper nih," protesnya sambil meringis.
Yang lain hanya nyengir. Mereka tuh bukan nunggu Vernon buat pelukan haru atau sambutan bak pahlawan pulang perang. Nggak. Mereka nunggu karena perut masing-masing udah demo dari tadi.
"Bang Ochi mana?" tanya Booby tiba-tiba, sadar kalau rival debat sejatinya nggak kelihatan batang hidungnya.
"Naik ke kamar tadi," jawab Wisnu singkat, sambil terus mabar Mobile Legends bareng Dika. Fokusnya tak tergoyahkan.
"Udah datang tuh mereka," seru Willy yang barusan ngintip ke depan.
Serentak semua langsung beranjak, seperti alarm tanda makan berbunyi. Mereka keluar menyambut kedatangan Vernon yang baru turun dari mobil Toyota Rush hitam milik Syahrez. Sang bule tampak masih sedikit oyong, wajahnya pucat, tapi jelas lebih baik dari waktu terakhir mereka lihat.
Juna langsung menghampiri dan menyambut dengan semangat. Sementara Hao dan Dika dengan sigap ngebantuin ambilin barang-barangnya Vernon dari bagasi.
Syahrez yang masih berdiri dekat mobil awalnya mau nyuruh Dino buat nyiapin makan siang, tapi langsung ingat kalau si bungsu itu lagi dinas luar kota ke Semarang.
"Nu, siapin gih makanannya. Udah pada lapar nih semua," kata Syahrez akhirnya sambil melirik Wisnu.
Tapi yang disuruh cuma melirik sebentar, lalu melanjutkan main game-nya. Jelas-jelas menolak halus.
"Woi? Budek lu?" omel Syahrez, mulai kesel karena dicuekin.
Wisnu mendongak, menatap Syahrez datar. "Apaan sih bang, tinggal manasin kuah doang. Ambil lah sotonya sendiri, masa gue juga yang harus nyendokin ke mangkok satu-satu? Malu sama umur, bang," jawabnya sambil tetap fokus ke HP.
Langsung auto-sunyi. Syahrez sih cuma galak di luar, digas Wisnu kayak gitu langsung diam. Di kos Akinda, memang nggak ada yang benar-benar ditakuti. Semua setara.
"Udahlah bang, ambil sendiri-sendiri aja," Juna mencoba menengahi dengan suara adem.
Syahrez akhirnya memilih rebahan di sofa, menyerah pada dinamika rumah kos yang anarkis tapi damai ini. Sementara itu, suasana hening itu tiba-tiba dipecahkan oleh suara langkah kaki berat yang datang dari tangga.
Tiba-tiba, muncul Ochi dengan ekspresi wajah yang awut-awutan. Bawa sepatu, dilempar ke lantai, lalu kaos kaki nyusul melayang. Udah kayak adegan sinetron.
"Kenapa lo?" tanya Willy, refleks ngelindungi diri karena sepatu nyaris kena.
"Ada upacara?" tanya Juna, heran lihat Ochi masih pakai seragam PNS warna coklat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kos Akinda
FanfictionKos Akinda bukan sekadar tempat tinggal, ini adalah arena kehidupan yang penuh kejutan. Bayangkan tiga belas pria dewasa dengan karakter, latar belakang dan drama masing-masing, dipaksa berbagi atap yang sama. Ada yang sibuk mengejar cinta, ada yang...
