34. Dilema Kehidupan

1K 102 8
                                        

Acara pertunangan Willy ternyata benar-benar diselenggarakan secara besar-besaran. Padahal ini hanya tunangan tapi dekorasinya udah ngalah-ngalahin resepsi pernikahan orang-orang pada umumnya. Walaupun sebenarnya baik Willy dan Katrin kurang suka dengan kemewahan seperti ini tapi mereka tetap harus menjaga nama baik keluarganya yang konglomerat itu.  nggak mungkin acaranya dibikin sederhana. Bisa diomongin 7 turunan nanti keluarga mereka.

Ochi menghela napas lega, ia tidak perlu repot-repot membakar ballroom ini karena Willy ternyata benar-benar bertunangan dengan manusia bukan anime. Dan untuk pertama kalinya anak-anak Akinda bertemu dengan Katrin. Mereka sedikit syok karena perkataan Dika malam itu nggak bohong kalau Katrin ternyata memang cantik. Aura-aura konglomeratnya sudah terlihat jelas bahkan dari senyumnya saja.

Katrin menyambut hangat pertemuan pertama sekaligus perkenalan resminya bersama anak-anak Akinda. Walaupun sudah sampai bosan mendengar cerita Willy tentang manusia-manusia aneh bin ajaib ini, Katrin tetap antusias bertemu mereka semua. Apalagi Ochi dan Booby yang membuatnya penasaran sekali dengan dua manusia yang sering disebut-sebut Willy namanya. 

"oh, jadi ini yang namanya Ochi.." kata Katrin ramah sambil menjabat tangan si Maung

"hallo" sapa Ochi kikuk. Canggung banget rasanya berada diantara orang-orang kaya ini. Rasa minder Ochi meningkat drastis.

"kalo ini?" tanya Katrin pada orang di sebelah Ochi

"Booby mbak" jawab Booby sungkan

"OHH INI BOOBY!" Katrin ketawa-ketawa sendiri sementara anak-anak Akinda yang lain hanya bisa menatapnya bingung. Kayaknya dia udah tau banyak soal mereka.

"ini pasti Malik kan? Sering liat di TV" Katrin menyalami Malik yang masih cengo karena Katrin tau namanya.

Acara perkenalan itu terus berlanjut sampe di Syahrez. Syahrez juga sekalian mengenalkan Zahra yang didatangkannya khusus dari Singapura buat acara malam ini. Jangan pernah ragukan kesetiaan dan kebulolan seorang Zahra Safira kalau sudah urusan mendampingi kekasihnya ini. Apapun acaranya si babeh, dia pasti hadir.

Sebenarnya Dika dan Juna juga sama-sama membawa pasangannya masing-masing tapi mungkin kehadiran mereka  tidak begitu spesial karena sama-sama tinggal di Jakarta. Hanya Zahra yang dedikasinya patut diacungi jempol. 

Setelah berkenalan dan menyantap makan malam yang sudah disediakan tuan rumah, anak-anak Akinda mulai menghilang satu-satu dari ballroom karena merasa minder berada diantara 10% golongan orang terkaya di Indonesia. Bahkan dari aroma parfumenya saja sudah beda, seketika mereka merasa bawa tengik sendiri padahal sama-sama wangi. 

Salah satu anak Akinda yang kabur keluar adalah Malik. Mulutnya sudah terasa asam dan butuh segera untuk menghisap sebatang rokok. Ia memilih pergi sendirian ke area kolam renang outdoor yang berada di lantai 15 hotel tersebut. Namun saat memasuki area kolam yang sepi, Malik terkejut melihat ada anak Akinda lainnya yang juga sedang merokok disana. 

"woi Non?!" panggil Malik ragu sambil menepuk pundak orang itu. Ia yakin ini Vernon tapi Malik masih nggak percaya jika si Bule selama ini ternyata merokok. 

"eh bang" jawab Vernon kaget, buru-buru ia mematikan rokoknya 

"nyebat lo? sejak kapan?" tanya Malik kaget

"ohh" 

"udah lumayan lama, sejak gue skripsian" aku si Bule yang sebenarnya masih salah tingkah karena akhirnya Malik tahu ia seorang perokok aktif. Hanya saja selama ini Vernon tidak pernah terang-terangan merokok di kosan. 

"sering lo nyebat? Kok gue nggak pernah liat di kosan?" telisik Malik sambil membakar satu rokok miliknya. 

"nggak juga sih Bang. Kalo lagi mumet doang" jawab Vernon yang ikut-ikutan membakar rokoknya lagi. Mereka berdua lalu diam sebentar sambil menghembuskan asap rokok yang dibakarnya barusan.

Kos AkindaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang