"Mas, kamu yakin?"
Alice menatap Malik penuh keragu-raguan. Tangan kanannya menahan tangan Malik yang hendak merobek sebuah bungkusan. Pria itu balik menatap gadis yang kini tengah berada di bawahnya, ia menyeringai lalu merobek bungkusan kecil itu dengan giginya.
"udah nyampe disini, Al. Masa lo mau mundur?" ucapnya kemudian.
Alice menggigit bibirnya pelan, ia memperhatikan gerak-gerik Malik dengan hati-hati. Pria itu tengah memastikan benda yang dipegangnya itu masuk dengan tepat dan sempurna. Perasaan Alice jadi bercampur aduk saat ini. Takut, nervous, penasaran dan sedikit bahagia bergabung menjadi satu.
"AH! Okay. Let's go!" kata Malik setelah menyelesaikan pekerjaannya 'kecil'nya itu. Ia lalu kembali menindih tubuh Alice dan menatap gadis itu dengan tatapan penuh nafsu.
"sekarang yuk?" ajaknya sambil tersenyum dan membelai wajah Alice lembut. Tingkahnya itu membuat jantung Alice kembali berdebar tak karuan. Setiap sentuhan yang Malik berikan di tubuhnya malam ini membuatnya bergidik. Jelas saja ini pengalaman pertamanya dan yang membuat keadaan malam ini menjadi miris bagi Alice, status hubungannya dengan Malik tidaklah jelas tapi mereka akan melakukan sesuatu yang biasanya dilakukan oleh pasangan suami istri.
"Al?" panggil Malik lagi mendapati wanita di depannya ini hanya terdiam menatapnya.
"buruan. Gue udah nggak tahan...."
Alice menelan air liurnya sendiri, perkataan Malik lagi-lagi membuat jantungnya berdetak tak sesuai ritmenya.
"ehm..." Alice gelagapan sendiri menghadapi Malik yang malam ini terlihat begitu bernafsu dengan tubuhnya. Sementara Malik terlihat semakin tidak sabaran, ia mendekatkan wajahnya ke Alice dan berniat menciumi gadis itu namun Alice buru-buru membuang wajahnya.
"Kenapasih?!" sontak Malik kesal. Keinginannya malam ini sudah sampai di ubun-ubun namun Alice malah menghindarinya. Bisa gila Malik kalau malam ini hasratnya tak bisa tersalurkan. Bukan kah tadi mereka sudah sepakat melakukannya dengan catatan Malik menggunakan pengaman?
Alice tiba-tiba mendorong tubuh Malik yang daritadi menindihnya dengan kasar. Ia buru-buru menutupi tubuhnya dengan selimut.
"kenapa sih Al?" Malik langsung mencecar Alice dan kembali mendekat ke arah gadis itu.
"Mas Malik yakin? Aku takut....." ucap Alice dengan suara bergetar. Perasaan ketakutan ini tiba-tiba menghampirinya. Membuat Alice kembali mempertimbangkan keputusan yang ia buat beberapa jam yang lalu.
"ck." decak Malik kesal
"gue tau ini yang pertama buat lo dan gue bakal bikin lo senyaman mungkin. Lo nggak perlu khawatir...." Ujarnya kemudian dengan nada yang lebih lembut. Malik kembali menyentuh wajah Alice dan menyelipkan rambut gadis itu dibalik daun telinganya.
"gue bakal pelan-pelan yah" Malik masih berusaha meyakinkan Alice yang tampak masih ketakutan itu.
"Kenapa kita nggak ngelakuin ini setelah nikah ajasih mas? kenapa harus sekarang?" tanya gadis itu lirih. Segala pikiran buruk berkecamuk di benaknya. Alice takut jika ia dan Malik akan terjerumus ke hal-hal yang tidak baik selanjutnya jika terus melanjutkan perbuatan mereka malam ini.
Malik menatap Alice tak percaya, ia lalu menghela nafasnya kasar.
"Alice!" panggilnya jengah
"lo tau kan persiapan pernikahan itu panjang banget? kita harus pertemuan keluarga, lamaran, resepsi. Semuanya ribet dan butuh waktu, Al. Lo nggak perlu takut gue kabur. Cuma lo satu-satunya yang bakal gue nikahin. Gue nggak mungkin nikah sama orang lain lagi. Cuma lo yang bisa nerima gue, nerima Arsha dan nerima semua masa lalu gue yang suram ini, Al. Cuma lo." lanjut Malik berusaha meyakinkan Alice kembali. Meskipun hasratnya mendadak drop, tapi tetap saja Malik masih mengingkan Alice malam ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kos Akinda
FanfictionKos Akinda bukan sekadar tempat tinggal, ini adalah arena kehidupan yang penuh kejutan. Bayangkan tiga belas pria dewasa dengan karakter, latar belakang dan drama masing-masing, dipaksa berbagi atap yang sama. Ada yang sibuk mengejar cinta, ada yang...
