20. Deep Talk

1.2K 110 14
                                        

"ckckckckck goblok banget dah si Mingyu ini," Malik ketawa-ketawa sendiri.

"JIAAAKHH MAMPOSS LANGSUNG DI KILL KAN LU, MING!!" masih Malik yang heboh, matanya nempel ke layar di ruang TV Akinda.

Sejak beberapa menit lalu, Malik benar-benar tenggelam menonton Going Seventeen episode Don't Lie. Awalnya cuma iseng karena banyak orang bilang dia mirip Mingyu Seventeen. Bahkan Wisnu sama Dika sampai suka sebal sendiri tiap lihat muka Malik, gara-gara idolanya cewek-cewek mereka "hidup" di kosan.

Padahal Malik juga nggak pernah minta dilahirkan dengan wajah seperti Mingyu. Emang takdir aja begitu. Dan setelah menonton beberapa episode, Malik mulai merasa... kok mirip banget ya? Dari bodohnya, refleks kagetnya, sampai ekspresi panik tiap kena jebakan. Jangan-jangan Mingyu itu Malik di universe lain?

Ceklek.

Malik tersentak kaget saat suara pintu depan terbuka. Ia refleks menoleh. Kirain anak-anak Akinda sudah pada pulang semua.

Dari balik pintu muncul Joshua. Wajahnya lelah seperti biasa, bahunya turun, langkahnya berat. Jam sudah menunjukkan lewat pukul dua pagi, kalau masih segar bugar justru patut dicurigai dia habis dari mana.

Malik sebenarnya mau menyapa, tapi ragu. Sejak ribut sama Wisnu malam itu, Joshua seperti menarik diri. Nggak banyak bicara, bahkan ke yang lain pun. Silent treatment total. Dan jujur aja, suasana kos jadi beda.

"belum tidur Lik?" tegur Joshua akhirnya. Ia melangkah ke ruang TV dan menjatuhkan tubuhnya ke sofa, tepat di sebelah Malik.

"belom Bang, besok gue nggak ada jadwal."

Joshua mengangguk pelan, lalu menyandarkan kepala ke sandaran sofa. Kelihatan banget capeknya.

"banyak pasien Bang?" Malik bertanya hati-hati, takut kepo berlebihan.

"iya, biasa lah hahaha."

Suara ketawa Joshua itu bikin Malik sedikit lega. Ternyata didiemin Joshua rasanya nggak enak juga. Ada yang hilang. Kayak satu pilar kosan tiba-tiba dimatiin.

"Bang, sorry ya," Malik buka suara, agak ragu. Walaupun yang ribut sama Joshua itu Wisnu, Malik tahu dia juga punya andil. Dialah yang pertama kali nyenggol isu sensitif itu malam itu. Maksudnya cuma mau bikin jelas, bukan mancing keributan.

Joshua terkekeh kecil. "sorry buat apa, Lik?" tanyanya heran.

"ya... kalo gue bikin lo tersinggung Bang."

"enggak lah, bukan salah lo kok," jawab Joshua sambil menepuk pundak Malik pelan. Gerakan kecil, tapi cukup bikin Malik merasa agak ringan.

"lo nonton apaan itu?" Joshua mengalihkan pembicaraan. Jelas dia belum mau masuk ke topik konflik.

"Going Seventeen Bang. Variety show grup Korea."

"ohh, Seventeen? Mingyu-Mingyu itu ya?"

Malik langsung menatap Joshua dengan mata membelalak. "lah kok tau Bang?" tanyanya kaget.

"tau doang sih," jawab Joshua santai. "lagu-lagunya gue denger di mobilnya si Fina kemaren. Dia sempet nyinggung dia sukanya sama si Mingyu itu."

Malik langsung melotot. Kok bisa-bisanya Joshua nyebut nama itu tanpa beban, seolah nggak ada konflik, seolah nggak ada ancaman, seolah nggak ada perang dingin. Malik sampai mikir, ini orang sadar nggak sih dia ngomong apa? Nggak takut disalahpahamin?

"kenapa lo?" Joshua menoleh. "kok syok gitu?"

"ehem," Malik berdehem, berusaha menormalkan suasana yang tiba-tiba terasa berat.

"sorry ya Bang," katanya akhirnya, "tapi lo nggak bener-bener melakukan pergerakan underground kan?"

Kening Joshua langsung berkerut. "maksud lo pergerakan underground?"

Kos AkindaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang