Pukul 06.00 pagi, kediaman Malik mulai ramai didatangi para pelayat. Udara masih dingin, matahari bahkan belum sepenuhnya naik, tetapi halaman rumah itu sudah penuh dengan suara langkah kaki dan bisik-bisik pelan. Di ruang tamu, aroma bunga melati bercampur dengan bau kopi yang baru diseduh, pertanda hari panjang yang tak diinginkan baru saja dimulai.
Danang, adik laki-laki satu-satunya Malik, menghembuskan napas terakhirnya tadi malam. Anak-anak Akinda yang baru datang terdiam melihat foto Danang yang dipajang di dekat pintu masuk. Senyum di foto itu kontras dengan kabar kepergiannya yang begitu mendadak.
Padahal, beberapa minggu terakhir, kondisi Danang di rumah sakit jiwa mulai membaik. Sejak dipindahkan ke RSJ di Jakarta, ia terlihat lebih tenang, lebih mudah diajak berkomunikasi, dan sudah jarang mengamuk. Namun kemarin sore, kerinduan lamanya terhadap minuman keras kembali menyeruak seperti gelombang besar yang tak bisa ditahan.
Rasa candu itu membuat Danang gelap mata. Ia mengamuk, menjerit, berusaha kabur, dan petugas RSJ sampai kewalahan menahannya. Dalam pergulatan itu, Danang terlepas dari halauan para petugas, jatuh menghantam lantai, dan kepalanya terbentur keras. Tubuhnya langsung terkulai tak sadarkan diri.
Petugas RSJ tidak menunggu lama. Ia segera dirujuk ke rumah sakit besar yang memiliki peralatan lebih lengkap. Namun takdir berkata lain. Beberapa jam setelah dirawat, Danang pergi tanpa pernah membuka mata lagi. Dokter menyatakan terjadi pecah pembuluh darah di otaknya, dan kondisinya tidak dapat diselamatkan.
Yang membuat suasana semakin perih, Malik baru diberi tahu ketika Danang sudah memasuki masa kritis. Ia bahkan tidak sempat bicara, melihat, atau memegang tangan adiknya untuk terakhir kalinya.
Begitu pesan duka itu masuk di grup, seluruh anak-anak Akinda langsung berangkat menuju rumah sakit. Meskipun Malik sering terlihat kesal dan seolah tidak peduli, mereka tahu Malik menyayangi adiknya sampai titik darah penghabisan, bahkan bekerja mati-matian hanya agar Danang bisa terbebas dari kecanduan alkoholnya.
Di rumah sakit, Malik tak banyak bicara. Duduk di kursi tunggu dengan kepala tertunduk, ia memeluk Sabrina, adik bungsunya. Sesekali ia mengusap wajahnya yang basah air mata. Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan apa yang ia rasakan, kehilangan itu terlalu cepat, tidak memberi kesempatan bagi siapa pun untuk bersiap.
Sementara itu, ibunya sudah dua kali pingsan sejak mendengar kabar tersebut. Kepergian Danang bagai petir di siang bolong. Tidak ada firasat apa pun, tidak ada gejala apa pun, dan tidak ada satu pun dari mereka yang menyangka ia akan pergi dengan cara seperti ini.
Tidak ada yang benar-benar bisa disalahkan. Tidak ada yang bisa diprediksi. Semuanya seolah terjadi dalam satu kedipan mata. Pada akhirnya, mereka hanya bisa menerima bahwa ini adalah ketetapan Tuhan.
"Non, bawa rokok nggak lo?" bisik Ochi ke Vernon yang sedang duduk di sebelahnya. Jenazah Danang sedang dimandikan saat ini dan anak-anak Akinda hanya bisa menunggu di luar.
Mata Vernon membulat, kaget karena ternyata Ochi juga tahu ia seorang perokok. Padahal rasanya waktu di acara pertunangannya Willy, Vernon sudah buru-buru mematikan rokoknya saat Ochi dkk datang menghampirinya yang sedang bersama Malik.
"kok lo tau bang?" tanyanya kaget
Ochi tersenyum masam, "gue sering kali ngeliat lo ngerokok di balkon" katanya.
Vernon hanya bisa menarik napas kesal dan memaki dirinya sendiri. Ia lupa, kamarnya sama Ochi sebelahan. Jadi udah pasti kalo Vernon ngerokok di balkon belakang kamarnya, Ochi bisa melihatnya.
"bawa sih, tapi tinggal 3 nih"
"yaudah nyebat yuk di parkiran. Gue udah suntuk banget nih, dari semalem nggak tidur"
KAMU SEDANG MEMBACA
Kos Akinda
FanfictionKos Akinda bukan sekadar tempat tinggal, ini adalah arena kehidupan yang penuh kejutan. Bayangkan tiga belas pria dewasa dengan karakter, latar belakang dan drama masing-masing, dipaksa berbagi atap yang sama. Ada yang sibuk mengejar cinta, ada yang...
