02. Babeh Choirul

2.8K 177 3
                                        

"Beh, lemparin donat-donatnya sini beh!"

Suara cempreng Kenzo memecah keheningan pagi di halaman belakang kos Akinda. Bocah delapan tahun itu asik mengapung di kolam renang, tangannya melambai-lambai ke arah Syahrez yang sedang duduk di pinggir kolam sambil memegang beberapa pelampung berbentuk donat warna-warni.

Syahrez mendelik kesal, wajahnya yang masih setengah kusut karena baru bangun tidur makin terlihat bete. "OM KENZO! OM! Panggil gua om! Jangan babeh!" ucapnya, nada suaranya meninggi penuh protes. Sejak awal, Syahrez nggak pernah terima dipanggil 'babeh'.

Tapi Kenzo malah nyengir tanpa dosa. Giginya yang ompong di bagian depan bikin wajahnya tambah menggemaskan, bikin omelannya Syahrez terasa sia-sia. Si bocah kembali menagih, "Pelampung donatnya, Beh!"

Mau nggak mau, Syahrez akhirnya melemparkan satu pelampung ke arah keponakan ngeselinnya itu. Biarpun ngomel, hati kecilnya tetap luluh tiap lihat Kenzo senyum.

"OHH JADI ELU PADA YANG BERISIK PAGI-PAGI BEGINI!"

Teriakan lantang Ochi terdengar dari balkon lantai dua. Rambutnya masih acak-acakan, kaos oblong putihnya kusut, jelas-jelas baru bangun tidur.

Kenzo langsung menengadah dan melambai ceria. "Hallo om Fauzi!" sapanya ramah.

Ochi mengusap wajahnya yang masih setengah lengket dengan kantuk. Tadi niatnya mau marah karena weekend pagi ini harusnya dipakai tidur puas-puas, eh malah ada suara bocah kayak toa masjid. Tapi begitu matanya ketemu tatapan innocent Kenzo, niat marahnya luntur seketika.

"Udah dari jam berapa kamu ngapung disana, Ken?" tanyanya dengan nada malas

"Barusan kok, om. Sini berenang sama aku yuk, om?" ajak Kenzo polos sambil menepuk-nepuk air.

Ochi mendengus. "Nggak deh. Om Ochi masih mau ngebo. Bye, Kenzo." Tanpa basa-basi lagi, dia langsung berbalik badan. Hanya dalam hitungan detik, pintu kamarnya sudah tertutup kembali.

Kenzo memang lagi dititipin di Akinda. Papinya—abang kandung satu-satunya Syahrez—lagi pergi kondangan ke Garut bersama istrinya. Kenzo nolak ikut karena malas berpanas-panasan, lebih milih numpang di kosannya sang Om. Masalahnya, bocah ini ngotot banget memanggil Syahrez dengan sebutan 'Babeh'. Alasannya sederhana, karena mereka orang Betawi. Kenzo maunya nyamain panggilan ke ayahnya. Bedanya, sang papi tegas melarang dan lebih suka dipanggil 'papi' biar gaya. Lah, bapaknya aja ogah dipanggil babeh, apalagi Syahrez kan?

"Bujug! Baru datang dia, bang?" Suara berat Hao terdengar dari arah tangga. Ia baru keluar kamar, masih pakai kaos lusuh dengan celana pendek, rambutnya acak tapi wajahnya segar. Jemarinya nunjuk ke arah Kenzo yang lagi main air.

Syahrez hanya mengangguk malas.

"Oi, Kenzo! Hobi ya lu main kesini sekarang? Hahaha," goda Hao sambil nyelonong ke halaman.

Kenzo langsung menengok. "Eh! Om Jensen udah bangun?" serunya riang. Iya, cuma Kenzo doang yang boleh manggil Hao dengan nama di KTPnya, Jensen.

Hao terkekeh kecil. Sambil membawa segelas teh panas yang tadi ia seduh di kamar, ia duduk di sebelah Syahrez, menaruh gelas di lantai dekat kaki.

"Udah minum lo, bang?" tanyanya basa-basi.

"Udah," jawab Syahrez singkat, matanya kosong, menatap kolam tanpa fokus.

"Kayanya lagi banyak pikiran ya?" tebak Hao sambil memperhatikan gerak-gerik abangnya itu.

Syahrez menarik napas panjang, berat. Memang betul, otaknya lagi penuh beban. Semalam ia susah tidur gara-gara kepikiran masalah kerjaan. Ada perjanjian kerjasama di kantornya yang berantakan, dan semua berawal dari keteledoran stafnya. Tapi sebagai senior staff legal, tanggung jawab tetap jatuh di pundaknya. Apalagi ia juga salah karena nggak sempat double-check dokumen sebelum ditandatangani.

Kos AkindaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang