"Buset deh Bang Ochi, perasaan dari magrib tadi tangan lo di HP mulu," ledek Booby sambil melirik Ochi yang lagi rebahan di sofa ruang TV Akinda, dengan posisi kepala nyender ke bantal kecil dan dua kakinya selonjoran ke arah meja.
Si Ochi cuma mesem-mesem sendiri, matanya nggak lepas dari layar ponsel yang digenggam erat. "Berisik lo, jomblo dilarang komentar," jawabnyai sombong
"Oi! Ngaca! Noh kaca di kamar si Malik gede," timpal Syahrez yang duduk di lantai, nyender ke dinding dengan camilan ciki yang udah setengah bungkus habis.
"Lo udah ngechat si Aura-aura itu ya, Bang?" tanya Dika dengan nada kepo. Dia sambil main Dhakon bareng Vernon di lantai
Ochi cuma senyum-senyum sendiri, "udah donggg," jawabnya penuh kebanggaan.
"Serius lo bang? Direspon?" Dika makin penasaran.
Ochi ngangguk cepat, wajahnya bersinar-sinar. Jari-jarinya lincah ngetik sesuatu.
Ternyata benar, Ochi akhirnya memberanikan diri nge-chat Aura. Nggak disangka, chat-nya langsung direspon. Sekarang mereka udah cukup intens ngobrol lewat DM. Ochi benar-benar merasa seperti remaja yang jatuh cinta pertama kali. Bahkan dia sampe lupa bahwa hari Senin nanti dia harus berhadapan sama kenyataan getir, ketemu Pak Toni, ayahnya Aura.
"Bang! Giliran gue, lo udah mati," kata Vernon ke Dika yang mendadak nggak fokus main dan malah sibuk nguping percakapan Ochi.
"Eh, sorry Bul," jawab Dika buru-buru. Sekarang semua anak kos emang udah terbiasa manggil Vernon "Bule".
"Si Wisnu balik malam ini kan ya?" tanya Johan dari meja kecil pojokan. Dia lagi asik mengisi TTS.
"Ho'oh," jawab Dino sambil menguap lebar. Badannya udah setengah tenggelam di bean bag oranye.
Mereka semua lagi pada ngumpul di ruang TV Akinda, yang biasa mereka sebut 'basecamp'. Sebenernya nggak semua penghuni kos ikut nimbrung. Yang lagi duduk santai di situ cuma Dika, Syahrez, Johan, Vernon, Malik, Dino, Booby, dan tentu saja si Ochi yang lagi berbunga-bunga.
Joshua dari tadi belum keluar kamar. Juna dan Hao lagi main PS5 di kamar Willy. Sementara si empunya konsol, lagi sibuk di studio mini pribadinya. Katanya ada banyak deadline minggu ini.
Tiba-tiba suara langkah terdengar dari depan. Semua mata langsung mengarah ke pintu.
"WAALAIKUMSALAM BANG WISNU, AKHIRNYA PULANG JUGA!" seru Dino dengan semangat. Padahal Wisnu nggak nyapa apapun, apalagi salam.
Wisnu berdiri di depan pintu dengan ransel digendong, wajahnya datar. Bahkan cenderung gelap. Begitu masuk, ia langsung melempar ranselnya ke sofa dan tanpa basa-basi menatap tajam ke arah Dika.
"Lo ngomong apa sama Fina?" tanyanya, suaranya berat dan jelas mengandung kemarahan.
Dika langsung mendongak dari posisi duduk. Jantungnya mendadak deg-degan.
"Ha? Ngomong apaAN bang?! G...ue nggak ngomong apa-apa," jawabnya gugup, nadanya terbata-bata.
"Lo bilang apa soal Alea, Dik? Lo bilang gue nyebut-nyebut Alea kan sama kalian semua? Harus ya cuma hal begitu doang lo omongin ke dia?" Wisnu masih dengan nada berapi-api.
Dika menunduk. Dadanya makin sesak. Ia sadar, ini pasti tentang kejadian waktu Fina datang ke kosan dan mereka sempat nyangkain dia itu Alea.
"Cuma karena gue bayarin belanjaan dia, terus lo semua mikir Alea gebetan gue?!" suara Wisnu meninggi, emosinya tak terbendung.
"Nu, udah. Sabar dulu. Ini apasih masalahnya?" tanya Syahrez, mencoba menenangkan. Ia menatap Wisnu dengan khawatir, melihat betapa tegang wajah temannya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kos Akinda
FanfictionKos Akinda bukan sekadar tempat tinggal, ini adalah arena kehidupan yang penuh kejutan. Bayangkan tiga belas pria dewasa dengan karakter, latar belakang dan drama masing-masing, dipaksa berbagi atap yang sama. Ada yang sibuk mengejar cinta, ada yang...
