Malam Sabtu yang harusnya jadi malam paling ditunggu-tunggu anak kos karena besoknya libur, malah berubah jadi kelabu. Suasana di kos Akinda terasa sunyi. Satu per satu anak-anak kembali dari kantor dengan wajah kusut dan langkah gontai. Nggak ada sapa-sapaan, semua langsung masuk kamar masing-masing, seolah-olah dunia sedang ambruk. Kirain karena akhir bulan, dompet mulai sekarat. Tapi sekarang baru tanggal 6. Harusnya justru habis gajian. Tapi memang, bukan soal uang malam ini.
Di ruang TV, Juna duduk sambil menonton TV, padahal dia sendiri nggak konsen nonton. Pikirannya jauh, matanya ngelamun kosong ke layar. Baru beberapa menit kemudian, Syahrez datang masuk ke ruangan itu, masih pakai sarung dan mukanya kusut kayak kertas ujian abis diremas.
"Tumben-tumbenan sarungan?" tanya Juna heran.
Syahrez cuma narik nafas panjang. Gerakannya pelan dan berat kayak habis angkat galon dua kali putaran.
"Sholat gue, emangnya elo?" jawabnya judes, langsung nyandarin punggung ke sofa.
"Gue budha, bang. Barangkali lo lupa," Juna menjawab enteng, kayak biasa. Juna memang sering jadi bahan bercandaan soal agamanya.
Syahrez melirik sekilas, lalu kembali melamun.
"Kenapa bang muka lo? Kayak lagi ada masalah," pancing Juna pelan.
Syahrez geleng pelan, lalu akhirnya buka suara. "Sepupu gue dari Batam mau datang bulan depan," katanya.
Juna ngedip sebentar, nunggu kelanjutannya.
"Permasalahannya?"
Syahrez mencelosin punggungnya ke sandaran sofa lagi, "Bawa calon yang mau dijodohin sama gue. Gue nggak mau. Gue nggak mau nikah sekarang, Jun," jawabnya frustasi.
Ternyata dari semalam Syahrez udah diteror ibunya lewat WhatsApp, minta dia pulang dan bawa calon istri. Tapi gimana? Lha wong pacar aja nggak punya. Si Ibu bahkan udah punya kandidat, sepupu jauh mereka sendiri, pegawai bank juga, penempatan di Batam, dan kebetulan ikut ke acara keluarga bulan depan.
"Kenalan aja dulu bang, siapa tahu jodoh," saran Juna sambil nyengir.
"Belum siap aja, Jun. Kasian nanti dianya udah jauh-jauh ke Jakarta, guenya malah nggak bisa kasih kepastian," keluh Syahrez.
Juna yang tadinya duduk selonjor, sekarang duduk bersila dan menghadap Syahrez serius. "Ya itu namanya resiko lah. Lo harus bilang sama nyokap lo kalo lo nggak bisa janjiin apa-apa."
Syahrez memiringkan kepalanya, menatap Juna. "Kalo gue dipaksa nikahin tuh cewek gimana Jun?"
Juna ngangkat bahu, "Bilang aja lo udah ngehamilin Indira, kelar bang!"
"ASTAGFIRULLAH JUN! GUE KEPRET JUGA LO!" sental Syahrez sambil ngangkat sendal, siap dilempar.
Juna udah geser duluan sambil ngakak ngakak, "Ya abisnya lo juga bang. Ada cewek cantik, keliatan banget naksir lo malah dicuekin. Cantik, kaya, pinter, body goals, dan paling penting demen sama lo bang. Masa syahwat lo nggak tergugah juga?"
Syahrez makin melotot. "Asem lo ya!!"
"Gue tuh...."
"HUFFFTTT..."
Sebelum sempat lanjutin ocehannya, Dika masuk ke ruang TV dengan langkah berat. Wajahnya kusut. Kusut banget. Pandangan matanya kosong dan tanpa basa-basi dia ngejogrok di lantai, bukan di sofa kayak orang normal. Nafasnya berat, matanya sembab kayak orang abis begadang sambil mikirin utang.
"Kenapa lo?" tanya Syahrez dan Juna bersamaan.
Dika cuma diam. Menunduk, tangan ditaruh di atas lutut. Udah dua hari Tifa cuek total ke dia di kantor, dan itu cukup bikin hatinya remuk. Rasanya kayak disayat pisau tumpul berkali-kali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kos Akinda
FanfictionKos Akinda bukan sekadar tempat tinggal, ini adalah arena kehidupan yang penuh kejutan. Bayangkan tiga belas pria dewasa dengan karakter, latar belakang dan drama masing-masing, dipaksa berbagi atap yang sama. Ada yang sibuk mengejar cinta, ada yang...
