Johan melirik jam tangannya, sudah 2 jam dia cuma bisa ngeliatin orang disebelahnya ini nangis terisak-isak dan nggak berhenti-henti dari tadi.
"lo seriusan mau bikin gue nungguin lo nangis gini sampe azan zubuh?" sindir Johan ke manusia disebelahnya.
"hiks!" bukannya berhenti, tangisnya malah semakin kencang.
"yang lo tangisin sekarang itu apasih?" tanya Johan geram sendiri.
Pulang kerja tadi dia buru-buru disuruh jemput orang ini dan sekarang dia dicuekin sambil ngeliatin yang bersangkutan nangis nggak berhenti daritadi. Herannya udah 2 jam nangis, air matanya masih ada aja. Lama-lama Johan buka usaha air galon juga nih disini. Pake air mata mbaknya.
"gue nggak jadi nikah bang! hiks!" jawabnya masih dengan tersedu-sedu
Johan mengusap wajahnya gusar. "SIAPA YANG BILANG LO NGGAK JADI NIKAH SIH?" akhirnya kesabaran Johan berakhir sudah.
"GUE LAH!" malah digas balik sama lawan bicaranya ini.
"lo belum tau kejadiannya, udah main mutusin hal sekrusial ini sendiri. Ngomong dulu sama Wisnunya!" tegas Johan kesal. Dia udah ngantuk daritadi tapi terpaksa menghadapi Fina yang sedang galau menangis tak henti-hentinya.
Fina menyeka air matanya lalu menggeleng, "udah nggak ada yang perlu diomongin lagi bang. udah terlalu jelas semuanya. Dia balikan sama mantannya, bang."
"YAELAAAAH!" Johan menghela nafasnya kesal.
"lo nggak tahu apa-apa, Fin. Lo cuma liat adegan itu doang. Dan yang nyium itu si Jani. Wisnunya kan kagak!"
"tapi dia diem aja bang! nggak ngelawan! Kalo dia beneran inget statusnya, Wisnu pasti bereaksi. Ini diem doang. Semuanya udah terang benderang buat gue...."
"lo...lo...mau ngapain bang?" tanya Fina gelagapan saat Johan mendekatkan wajahnya ke Fina secara tiba-tiba.
"diem kan lu?"tanya Johan lalu menarik wajahnya kembali
Fina mengulum bibirnya sendiri. "maksudnya?" tanyanya tak senang
"gue baru mendekat gitu aja lo diem kan? Gimana si Wisnu yang tiba-tiba dicipok hah? Ya pastilah dia ngefreeze!" Johan memberikan teorinya sendiri
Fina terdiam mendengarnya. Mau bilang nggak mungkin tapi buktinya tadi dia langsung diem disosor sama Johan.
"tapi kan kalo dia nggak ada perasaan sama mantannya itu dia bakal ngelawan bang"
"lu emangnya ada perasaan sama gue? kok diem?" potong Johan langsung
"ya.. nggak ada sih bang" Fina jadi salah tingkah dicecar pertanyaan ini sama Johan.
"nah terus? Lo mau bela diri apalagi?"
Lagi-lagi gadis itu terdiam di tempatnya. Kalah telak sama si Johan yang jago berteori.
"gue tau lo emosi, Fin. Tapi harusnya lo nggak boleh ambil keputusan ini sendiri. Kalian udah ada ditahap mau nikah. Bukan pacaran lagi. Dan kesalahan Wisnu itu nggak fatal. Lo bahkan belum tau cerita dari sisinya dia. Udah main batal-batal aja." ceramah Johan panjang lebar
"hiks!hiks!" Fina kembali menangis yang membuat Johan hanya bisa bersandar pasrah dibangku kemudinya. Beneran balik abis azan subuh sih ini.
"lo nggak mau nangis di kamar aja gitu? Harus banget gue temenin disini?" tanyanya jengah. Johan benar-benar butuh rebahan di kasurnya.
Fina menggeleng kencang, "gue butuh orang lain buat dengerin gue"
"dengerin lo nangis maksudnya?"
Mbaknya hanya mengangguk menanggapi Johan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kos Akinda
FanfictionKos Akinda bukan sekadar tempat tinggal, ini adalah arena kehidupan yang penuh kejutan. Bayangkan tiga belas pria dewasa dengan karakter, latar belakang dan drama masing-masing, dipaksa berbagi atap yang sama. Ada yang sibuk mengejar cinta, ada yang...
