22. Petemuan mengejutkan

136 20 0
                                        

Masih di hari yang sama setelah aku didandani sedemikian rupa sampai aku berubah menjadi sesosok putri yang cantik, aku diboyong oleh beberapa pengawal entah ke mana. Aku keluar kamar, menelusuri lorong remang-remang yang lembab dan kosong, hanya ada lampu-lampu lentera yang tidak menyala digantung di langit-langit. Aku rasakan angin berhembus dengan kencang malam itu, membuatku sedikit kedinginan.

Keluar dari lorong, aku dan beberapa pengawal berjalan di antara rumput hijau penghubung antara bangunan-bangunan di sini. Rintik-rintik hujan jatuh, membuatku mengusap tubuhku beberapa kali. Pohon-pohon tinggi tumbuh di jalan penghubung ini, daun-daunnya bergoyang tertiup angin. Aku juga mendengan suara-suara kodok yang memanggil hujan datang.

Setelah melewati jalan berumput itu, aku dan para pengawal memasuki bangunan baru. Kali ini bangunannya lebih besar, megah, mewah dan terang. Di bangunan yang satu ini lebih banyak orang yang berlalu lalang, dan lebih banyak penjaga tentunya. Aku perhatikan di setiap sudut bangunan ada seseorang yang berjaga.

Aku menginkuti para pengawal, kami menaiki undakan untuk sampai pada ruangan utama. Di atas udakan aku disambut dengan dua pilar bulat yang tinggi dan lebar. Kami masuk ke dalam ruangan yang ternyata adalah sebuah aula. Aku bisa menyimpulkan itu karena melihat ruangan itu yang megah dan lebar, di sisi kanan dan kirinya terdapat tribun yang terisi orang-orang yang tengah duduk. Suasana seketika ricuh saat aku masuk ke dalam sana.

Terakhir yang paling mencolok, di tengah dan di pojok ruangan aku melihat sebuah kursi kebesaran yang membuatku terpaku. Kursi itu benar-benar menggambarkan tempat duduk seorang Raja. Di belakang kursi itu terdapat sebuah sayap yang membentang lebar—aku pikir itu sayap naga—dan di atas sandaran kursi terdapat tiga kerangka tulang kepala sebuah hewan, yang aku yakini adalah naga. Kursi itu berwarna emas mengkilat, dan di sana tedapat sesosok wanita yang tengah duduk.

"Ibu Kota," ujarku dalam hati.

Aku memang belum pernah pergi ke Ibu Kota, apalagi sampai masuk ke dalam Istana Kedaulatan Viraksa. Namun aku mengingat perkataan-perkataan orang-orang di kampungku tentang istana dan singgasana Sang Raja. Orang-orang bilang singgasana Raja Viraksa terbuat dari emas asli, dengan dua sayap terbentang di belakang dan tiga kerangka kepala naga di atasnya. Kini aku tahu berada di mana aku sekarang.

Aku melihat para pengawal yang membawaku bersimpuh pada wanita yang duduk di atas singgasana. Aku hanya diam dengan wajah tidak suka saat aku sadar siapa yang tengah aku hadapi. Lagi-lagi aku dihadapi dengan sosok wanita yang menculikku. Tak jauh, di kedua sisi singgasana yang wanita itu duduki terdapat dua pengawal yang berjaga, dan tepat di samping wanita itu duduk terdapat Nadia yang berdiri menatapku.

Nadia turun dari undakan, menghampiriku di bawah dengan wajah datar. Dia mengulurkan tangannya, "Mari naik ke atas, kawan."

Aku hanya menatap uluran tangannya, sebelum akhirnya mengabaikannya. Aku naik ke atas undakan itu sendiri, mendekat ke arah wanita yang duduk di singgasana Ayahku, Sang Raja yang mereka bunuh. Beberapa kali aku hampir jatuh karena gaun yang aku kenakan, namun aku tetap berdiri. Setelah sampai di atas undakan dan sampai di depan wanita itu, aku langsung memberikan pukulan pada wajahnya.

"Kamu tidak pantas duduk di atas singgasana Ayahku, sialan!"

Semua orang yang ada di atas tribun terkejut, suasana makin ricuh saat mereka melihat hidung pimpinan mereka mengeluarkan darah akibat tinjuanku. Namun berikutnya, gantian aku. Salah satu pengawal datang dan membalas perbuatanku dengan tinjuan yang lebih kencang. Aku terjatuh ke lantai, bibirku robek dan hidungku berdarah. Beberapa orang tertawa akan hal itu.

Saat itu yang bisa aku lakukan hanya diam menahan tangis. Jika Kamal melihat ini, aku yakin dia tidak akan tinggal diam. Namun kenyataannya sekarang aku hanya sendiri, yang bisa aku andalkan hanya diriku sendiri. Bahkan Nadia, orang yang paling aku percayai hanya diam menatapku. Meski sakit, aku berusaha tetap berdiri di tengah gaun besar yang mengikatku.

Sebelum Malam Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang