Aku, Kamal, Nadia, Zaheer dan Lembayung kembali dengan keadaan kurang baik. Kamal yang babak belur dan Nadia yang terluka cukup parah akibat tembakan panah. Semua orang menatap kami intens setelah turun dari naga, aku bahkan melihat Harsa berlari keluar dari kapal saat melihat Nadia yang aku papah.
Meutia, Minara, Safina dan beberapa orang menghampiri kami dengan wajah bertanya-tanya ketika kami kembali dengan keadaan kurang baik. Kamal menerima banyak luka lebam, begitu juga dengan Zaheer, dan Nadia yang terluka di bagian perutnya akibat panah dari salah satu prajurit di Kota Pasir Putih.
"Apa yang terjadi?" tanya Harsa, menatap ke arah Nadia yang nampak meringis.
Aku membantu Nadia untuk duduk agar gadis itu bisa fokus menutup luka di perutnya dengan sihir. Lembayung lalu memberikan jawaban atas pertanyaan mereka semua.
Anak ketiga dari Raja Viraksa itu menggeleng. "Kita gagal meyakinkan Wakikota Pasir Putih. Pasir Putih menaruh kesetiaan penuh pada Raja-Raja Viraksa, termasuk pada saudaraku. Kawiswara telah memerintahkan Walikota untuk memblokir akses keluar masuk kota tersebut dari jalur laut."
"Dia malah menuduh kami semua pengkhianat," tambah Kamal. "Tuan Amir menyuruh para prajuritnya untuk menangkap kami. Dan karena itulah terjadi pertarungan sengit di dalam istana."
"Beruntung Gerhana datang menyelamatkan kami," sambung Zaheer.
Aku melihat wajah Harsa yang memerah. Pria itu nampak marah, apalagi saat melihat Nadia yang datang dengan keadaan kurang baik. Aku tidak tahu apakah Harsa dan Nadia benar-benar memiliki hubungan yang istimewa atau tidak, tapi sikap pri itu membuatku berpikir demikian.
Harsa bergerak ke arah Nadia, menatap gadis itu yang nampak kesakitan, terlihat begitu khawatir. Paham dengan tatapan Harsa, sahabatku itu menjawab, "Aku baik-baik saja. Luka ini akan sembuh besok."
Harsa mengangkat tangannya, meyentuh wajah Nadia. "Andai saja aku di sana, aku pastikan tidak ada yang tersisa dari mereka."
"Jadi sekarang kita harus bagaimana?" tanyaku, menatap semua orang yang ada di sana.
"Tidak ada lagi yang bisa kita lakukan selain memberi mereka api dan darah," kata Harsa, terlihat sangat marah.
"Apa tidak ada cara lain selain itu?" tanyaku.
Meutia lalu menjawab, "Tidak, Elok. Jika Tuan Amir tidak mengindahkan permintaan dan negosiasi dari kita, cara satu-satunya untuk melewati perbatasan adalah bertarung."
Aku menghela napas panjang, lalu beralih pada Harsa. "Kamu dan orang-orangmu pandai membuat kapal-kapal terbang di udara. Kenapa kamu tidak melakukan itu saja?"
"Jika kita terbang di udara dengan kapal, menurutmu apa yang akan di lakukan militer Pasir Putih?" tanya Harsa dengan sarkasnya.
"Dia benar, Elok," kata Lembayung. "Armada-armada di kota itu pasti tidak akan tinggal diam, mereka akan menembaki kita dengan meriam seperti saat mereka menembaki naga kita. Menurutku itu terlalu berisiko."
"Kami memang bisa menerbangkan kapal, Elok. Tapi kapal kami tidak mudah untuk menghindari serangan seperti para naga, itu membuat kita akan kesulitan nanti," sambung Harsa. "Jika saja mereka berhasil merusaki kapal-kapal kita di udara, kita semua akan jatuh dan tenggelam yang mana itu akan semakin membuat kita berada dalam masalah."
Meutia mendekat ke arahku, menepuk bahuku dengan tatapannya yang begitu serius. "Perang telah tiba, kita perlu mengambil risiko untuk tetap selamat. Kadang risiko itu membuat kita harus mengorbankan sesuatu."
Aku menghela napas panjang, mengangguk dengan berat. "Baiklah kalau begitu. Aku dan Gerhana akan bertempur jika harus begitu."
"Para naga akan maju lebih dulu sebelum armada kita melewati perbatasan. Elok, Minara, Meutia, Lembayung," ucap Harsa. "Kita akan membakar armada-armada Pasir Putih. Lalu saat semuanya sudah teratasi, kapal-kapal kita akan masuk. Dan, pastikan kalian melindungi kapal-kapal kita dari serangan musuh."
KAMU SEDANG MEMBACA
Sebelum Malam
FantasyElok terlahir sebagai anak haram dari Raja Viraksa. Sekilas Elok hanyalah gadis biasa yang tak memiliki kelebihan selain fakta kalau dirinya adalah Kaum Cahaya terakhir di muka bumi, seseorang yang mampu melihat dalam gelap dan mengendalikan para na...
