37. Kota Mati

48 7 0
                                        

Kemarin kami menghadapi ancaman besar dengan mengambil risiko melawan Kemiliteran Kota Pasir Putih, membuka jalan untuk kami lewat. Dan yap, kami berhasil. Beruntung kami membawa lima naga dalam perjalanan ini yang membuat kami berhasil melewati rintangan.

Kapal-kapal kami masih mengarungi samudera di hari ke empat dalam perjalanan ini, biasanya kami akan berlabuh dan beristirahat sejenak jika menemukan pulau atau sebuah tempat.

Setelah menghadapi armada-armada Pasir Putih kami tidak mendapati rintangan yang gimana-gimana, paling hanya cuaca yang ekstrem atau ombak yang tidak teratur, itupun bisa langsung dihadapi oleh para Penyihir.

"Kita akan segera berlabuh, persiapkan diri kalian," kata Harsa, berjalan di atas geladak sambil memperingati para awak kapal.

Aku, Kamal dan Nadia saat itu tengah memberikan jatah makanan bagi para awak kapal dan beberapa calon Penunggang Naga di armada kami. Dari sini aku bisa melihat sebuah tempat yang nampak tidak wajar. Dengan penglihatanku yang tajam, aku bisa melihat apa yang terjadi di sana.

"Bagaimana lukamu?"

Aku menoleh saat Harsa tiba-tiba menghampiri Nadia dan menanyakan keadaan gadis itu. Temanku itu hanya menjawab, "Sudah sembuh, aku tidak tidak apa-apa."

Aku menatap interaksi keduanya yang nampak tidak biasa. Apalagi saat ini tangan Harsa terangkat dan bergerak mengusap rambut Nadia, matanya memandang sahabatku itu tidak biasa.

"Jangan terlalu letih," kata Harsa.

"Aku sudah tidak kenapa-kenapa, Harsa," jawab Nadia. "Aku ini Penyihir Darah, aku bisa menyembuhkan luka yang aku derita. Kamu tidak perlu khawatir."

Harsa tersenyum, sesuatu yang jarang dia lakukan. Pria itu lalu berkata, "Aku akan menemuimu lagi saat berlabuh, aku ingin bicara banyak hal."

Setelah mengatakan itu Harsa langung melangkah pergi, melakukan pekerjaannya. Aku dan Kamal hanya saling menatap saat melihat sahabat kami yang nampaknya tengah jatuh cinta. Kamal menunjukkan wajah tidak sukanya, aku paham, laki-laki itu kan tidak begitu menyukai Harsa.

"Kita akan berlabuh ke mana sekarang?" tanyaku, menatap tempat di ujung sana.

"Reksaya," kata Kamal. "Sebuah kota yang sudah tidak berpenghuni."

Aku menatap Kamal, bertanya apa maksud dari perkataannya.

"Reksaya adalah kota pertama yang diserang dan berhasil dilumpuhkan oleh Sang Malam dan pasukannya. Tidak ada yang tersisa dari kota itu selain kehancuran." Kamal menghela napas berat. "Semua orang di sana dibantai, para petinggi di sana dibunuh dengan keji, rumah-rumah dibakar dan tempat-tempat bersejarah diledakkan."

Aku menghela napas sedih. "Jadi kota itu menerima serangan pertama sebelum Ibu Kota?"

Kamal mengangguk. "Dari cerita yang aku dengar, di tempat itu banyak para Penyihir budak. Sang Malam datang dan membebaskan mereka semua, lalu mengajak para Penyihir menghabisi orang-orang yang ada di sana."

Saat tengah menatap kota Reksaya yang semakin dekat, aku sadar akan sesuatu.

"Minara berasal dari sana," kataku.

Kamal lalu menoleh. "Apa?"

"Minara pernah bilang kalau dia berasal dari Reksaya, dia adalah satu-satunya orang yang berhasil selamat."

Sebelum Malam Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang