39. Bersama

32 4 4
                                        

Setelah menerima serangan dari gurita-gurita besar dan ombak tinggi, kapal kami mengalami kerusakan yang cukup banyak. Alhasil kami berlabuh di tempat terdekat untuk menangani kerusakan yang makhluk-makhluk itu ciptakan. Selain itu, banyak dari kami yang juga terluka.

Aku menatap Nadia yang tengah mengobati perut kamal yang tersayat akibat bertarung dengan gurita-gurita itu. Nadia menggerakkan jari-jemarinya di atas luka di perut Kamal, membuat gerasakan seperti menjahit. Pelan-pelan luka itu menutup, meski rasa-rasanya masih nyeri.

"Malam akan tiba, bahaya mungkin akan mengancam kita. Bahaya yang  jauh lebih besar dari gurita-gurita raksasa atau ombak tinggi," kata Safina memperingati semua orang yang berada di sana.

Aku bangkit dan bergerak menghampirinya. "Lalu kamu mau kita berbuat apa? Kapal kita mengalami kerusakan yang serius dan banyak dari kami yang terluka. Para teknisi perlu waktu untuk memperbaiki kapal."

Harsa muncul dari salah satu kapal dan menuruni undakan. "Aku tahu banyak kalian yang terluka, tapi aku harap kalian tidak lupa ada di mana kita sekarang."

Mendengar itu, spontan semua orang menatap ke arah tembok hitam besar di hamparan sana. Sebuah tembok yang lebih gelap dari malam, sebuah tembok yang jauh lebih mengerikan dari apapun yang ada di dunia ini, dan sebuah tembok yang membungkus kehidupan di dalamnya.

"Tadi pagi banyak gurita dan ombak yang menghalangi perjalanan kita, mungkin nanti malam akan lebih parah," kata Harsa. "Makhluk Bayangan di dalam sana takut dengan matahari, dan malam akan segera tiba. Mereka bisa saja keluar dari tembok hitam itu dan menghampiri kita di sini."

Aku melihat wajah-wajah takut orang-orang di sini, banyak dari mereka yang meneguk ludah sendiri karena takut. Iman mereka mulai goyah, mereka mulai diguncang rasa takut tidak tertahan.

"Mereka tidak akan bisa datang ke tempat ini," kata Nadia dengan tegas.

Aku dan semua orang sontak menoleh ke arahnya yang baru saja selesai mengobati Kamal. Semua orang nampak bertanya-tanya apa yang bisa Nadia lakukan kali ini? Dia bahkan tidak berdaya saat menghadapi serangan gurita raksasa tadi.

"Kamu bisa melakukan sesuatu?" tanya Harsa.

Nadia tidak menjawab, dia bergerak ke arahku dan menatap semua orang yang ada di sana. "Aku pernah menjadi murid Sang Malam saat dia menduduki Ibu Kota, aku juga berguru dengan beberapa Penyihir hebat. Aku mendapatkan ilmu dari sana untuk menangkal sihir gelap, aku yakin kalau itu bisa menyelamatkan kita. Setidaknya untuk malam ini."

"Kenapa tidak pakai kekuatan cincin milik Harsa?" tanya Minara. "Dia bisa menciptakan ilusi di tempat ini yang membuat kita tidak terlihat."

"Cincin itu memerlukan banyak tenaga kata Arya," jawab Nadia. "Lebih baik Harsa simpan tenaganya sampai kita berhasil menembus tembok banyangan itu."

"Aku setuju dengan Nadia," timpal Safina. "Aku juga tahu tentang sihir menangkal sihir gelap."

Nadia tersenyum. "Bagus. Ada lagi yang tahu tentang sihir itu? Semakin banyak orang yang tahu, semakin kuat penangkal yang akan tercipta."

Dita lalu menunjuk tangannya, seorang wanita buta dengan kain yang menutupi matanya. "Aku tahu."

"Tiga orang. Ada lagi?" tanya Nadia.

Salah satu dari Penyihir di sana kembali menunjuk tangan. "Ibuku pernah mengajari sihir itu."

Satu-persatu dari para Penyihir mengangkat tangan mereka saat Nadia bertanya begitu. Totalnya ada sembilan Penyihir yang bergabung dengan Nadia. Sahabatku itu lalu mengarahkan mereka semua dan membagi mereka di beberapa titik. Mereka semua mulai berjalan menjauh dari rombongan, berhenti di titik masing-masing.

Sebelum Malam Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang