Pembuka

30 1 0
                                        

Aku berdiri di atas bangunan putih yang luas nan megah ini. Aku menatap ke hamparan luas di depan sana, ke hamparan lautan yang nampak indah. Dari atas bangunan ini aku bisa melihat ratusan kapal yang menjaga perbatasan Kota Tua, dari sini aku juga bisa melihat bagaimana dua naga muda di atas perairan itu saling mengejar dan bermain.

"Itu Topaz dan Kangmas, mereka naga anak-anakku."

Aku tersentak dari lamunanku, menoleh ke belakang saat Meutia datang. Sontak aku sedikit menundukka kepala saat Pemimpin Kota Tua itu hadir. "Maaf, aku tidak tahu kamu di sini."

Saat itu Meutia hanya terkekeh, dia bergerak maju dan melakukan apa yang aku lakukan, menatap hamparan laut lepas. Dia berkata dengan sendu, "Aku selalu senang melihat naga-naga itu bermain di udara. Mereka saling mengejar dan berguling di hamparan awan."

"Aku juga senang saat melihat mereka bebas terbang tanpa beban di atasnya," kataku.

Meutia lalu menatapku. "Dua puluh lima tahun lalu Raja Viraksa menghadiahiku dua telur naga atas kelahiran Martha, anak keduaku. Dua telur itu aku berikan pada anak-nakku. Satu untuk Mughal, satu lagi untuk Martha. Lalu lima tahun kemudian dua telur itu menetas secara bersamaan, melahirkan dua naga cantik yang kini menjadi sahabat untuk kedua anakku, dan menjadi pelingdung kota ini."

"Itu terdengar keren," kataku, tertawa pelan. "Raja Viraksa juga menghadiahiku seekor bayi naga yang baru menetas. Sebenarnya aku tidak yakin, tapi Lim mengatakan kalau itu memang pemberian Raja. Tapi... naga kecilku itu pergi meninggalkanku. Dia terbang entah ke mana, jauh menembus cakrawala sampai lupa jalan untuk pulang."

Meutia menepuk bahuku. "Naga tidak pernah lupa jalan untuk pulang. Saat ini mungkin dia sedang asik menikmati keindahan alam semesta, tapi pada akhirnya dia pasti selalu kembali pulang ke rumahnya."

"Aku tidak yakin."

"Kamu harus yakin pada dirimu sendiri, Elok." Meutia menatapku serius. "Dengarkan aku baik-baik. Zaman sekarang sudah berbeda, perang terjadi di mana-mana dan keserakahan menghancurkan setiap iman umat manusia. Kamu harus bertahan, Nak. Kamu harus bertahan, kamu masih muda, perjalananmu masih panjang."

Meutia kembali berkata, "Aku sudah lama berperang untuk negeri ini, untuk orang-orang di sekitarku. Aku sudah tua, Nak. Jika bukan kamu yang mengakhiri penderitaan dunia, lantas siapa lagi?"

"Siapapun itu, asal jangan aku," kataku. "Aku tidak sekuat kamu, Meutia. Aku hanya gadis desa. Aku tidak dididik untuk bertarung, aku tidak diajari caranya memimpin, dan aku tidak tahu caranya menyelamatkan orang-orang."

"Kamu tidak pernah belajar menunggangi naga, kamu tidak tahu rasanya bagaimana menunggangi naga sampai akhirnya kamu memiliki dua naga sekarang. Kamu terbang berpetualang dan mencari apa yang kamu cari," kata Meutia. "Itu naluri, Elok. Sama seperti menyelamatkan dunia, itu adalah naluri setiap orang ketika melihat orang-orang yang dicintainya dalam bahaya."

Tanganku diambil oleh Meutia, dia mengusapnya dengan lembut hingga membuatku merasakan getaran aneh. "Aku percaya padamu. Aku yakin kamu mampu. Aku percaya pada kamu. Kamu terlahir sebagai penuang, kamu pantas untuk mengemban tanggung jawab ini, kamu ada di sini untuk menerushkan perjuangan para terdahulu."

"Dan, jika kalian tidak mampu, maka tidak ada orang lain akan mampu. Kamu adalah satu-satunya jawaban dari semua ini, Elok."

"Kenapa aku?"

Sebelum Malam Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang