43. Dunia Akan Pulih

37 2 0
                                        

Aku berdiri di antara tubuh-tubuh tak benyawa, berdiri di tengah pertarungan besar, berdiri di bawah ratusan Naga yang menyemburkan api. Cahaya dari api yang disemburkan para Naga membuat tempat yang sebelumnya gelap kini menjadi terang. Dari sini aku bisa melihat umat manusia yang tengah memperjuangkan kemenangan mereka.

Saat aku menoleh ke atas, aku melihat Kawiswara, Lembayung dan Arinda duduk di atas naga mereka sambil berseru keras, "Bakar! Habisi mereka semua!"

Aku maish ingat betul kalau Kawiswara adalah orang yang sangat menolak rencana kami yang satu ini, memasuki Ibu Kota lama dan mengembalikan para Naga. Namun sekarang apa yang aku lihat? Dia berjuang bersama kami, dia juga membawa bala tentara yang dia miliki. Dia berpihak pada kami.

Aku lalu menoleh ke arah lain di mana Wulan bertarung dengan perkasa. Dia menggunakan kemampuan Cincin Kembarnya untuk membuka portal, bergerak menghindari musuh dengan cepat dan memberikan serangan telak. Adanya dia di sini sangat membantu kami. Melihat dia mengingatkanku pada mendiang Soraya.

Zaheer, Sunar, dan Safina juga tidak kalah garang. Mereka bertarung dengan tangkas, melumpuhkan musuh-musuh di depan sana. Kilatan-kilatan petir bisa aku lihat saat Safina mengangkat tangannya ke udara, es-es tajam juga tidak luput dari pandanganku saat Zaheer mengendalikan air yang membeku itu, dan cahaya yang keluar dari tangan Sunar membutakan pandangan lawan.

Saat itu aku sadar kalau semua orang di sini tidak bisa melihatku, aku tahu saat melihat tubuhku yang nampak melayang. Aku berpikir mungkin aku mati. Tapi bukan seperti orang yang panik saat melihat dirinya hanya berupa roh yang tidak berdaya, aku malah tersenyum saat itu. Setidaknya sebelum aku benar-benar menghilang dari dunia ini aku masih bisa melihat wajah orang-orang yang berjuang bersamaku.

Namun sebuah auman naga menyadarkanku. Dari sekian banyak sura naga di sini, entah kenapa suara naga di atas sana menggugah pandanganku. Saat aku menoleh ke udara, di sana aku melihat diriku sendiri. Aku duduk di atas Gerhana, tangan kiriku berpegangan pada pelana dan tangan kananku memegang tongkatku.

Aku terus memperhatikan diriku sendiri sampai aku sadar, "Aku belum mati. Lalu sekarang, aku ini apa?"

Aku melihat diriku sendiri menunggangi Naga, terus naik ke atas menembus bayangan hitam yang tebal. Aku terus menyerukan Gerhana untuk terbang semakin tinggi, saking tingginya kami mulai kehabisan oksigen. Lalu dengan penuh kekuatan yang tiap getarannya bisa aku rasakan, diriku di atas sana mengangkat tongkat di tangan kananku.

Dalam satu kali teriakan kencang, bagian kail pada tongkatku itu mengeluarkan sebuah cahaya putih. Cahaya itu lebih mirip sebuah ledakan karena terdengar dentuman keras setelahnya. Dalam waktu yang singkat cahaya putih itu berhasil memenuhi langit. Saking terangnya cahaya itu semua orang berhenti bertarung dan menutup mata mereka.

Pelan-pelan namun pasti cahaya putih itu mulai mengeluarkan warna, warnanya kuning keemasan. Itu mirip seperti cahaya matahari, sampai akhirnya satu-persatu dari kami membuka mata. Saat kami membuka mata, saat itulah kami sadar kalau kami berhasil. Kami bertarung sepanjang malam, dan kini matahari telah terbit di atas kami.

"Bayangannya hilang...." kata Zaheer, wajahnya penuh lelah. Dia langsung jatuh ke laut yang membeku itu dengan mata berkaca-kaca. "Kita berhasil?"

Dari belakang, Sunar menepuk bahu pria itu, seutas senyum bisa aku lihat dari mulutnya. "Kita berhasil, saudaraku. Elok berhasil."

Semua orang yang kerasukan secara tiba-tiba melebur menjadi debu. Mereka yang sebelumnya seperti tidak bisa dibunuh kini tidak bisa apa-apa. Tubuh mereka pelan-pelan hilang terbawa angin, menjadi debu yang tidak berguna. Sekarang yang mati telah kembali ke tempat mereka yang seharusnya, tubuh-tubuh itu kembali kepada sang pencipta.

Sebelum Malam Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang