40. Matahari dari Timur

50 6 7
                                        

Angin berhembus kencang ketika para Penyihir Angin menggunakan kemampuan mereka, petir-petir terlihat jelas menghiasi langit malam saat Safina memanggilnya, dan rasa takut bisa aku lihat terukir di wajah masing-maisng dari kami. Aku menggenggam tongkatku erat saat melihat bayangan hitam itu mulai bergerak ke arah kami semua.

Malam itu benar-benar akan menjadi malam terakhir untuk aku dan yang lain. Benar kata orang-orang, mendatangi Ibu Kota lama sama saja mendatangi maut. Namun perjalanan ini sudah terlalu jauh, tidak ada jalan untuk putar balik. Cepat atau lambat malam juga akan menghampiri setiap dari kita, percuma melarikan diri.

"Kamu serius tidak ingin naik naga?" tanya Kamal di depanku.

Aku menggeleng, sesekali menatap Lembayung, Harsa, Meutia dan Minara yang berada di naga mereka masing-masing. "Aku akan tetap berada di bawah dan bertarung bersama kalian. Apapun yang terjadi kita harus tetap bersama."

Nadia di sebelahku mengangguk setuju.

Aku melihat Lembayung, Harsa, Meutia dan Minara mulai lepas landas bersama naga-naga mereka. Ketiganya terbang dan mengelilingi sekitar bersiap untuk memulai serangan kapan saja. Sementara Gerhana nampak murung, dia menatapku seolah menyuruhku untuk naik ke atas pelana.

Saat tengah menatap Gerhana, aku dikejutkan dengan Nadia yang menepuk bahuku cukup kencang sambil berkata, "Elok, lihat itu!"

Nadia menunjuk ke atas langit malam di mana para naga berada. Namun di antara Embun Pagi, Si Cepat dan Remang, ada seekor naga lain yang muncul. Naga itu tidak sebesar naga-naga kami, besarnya hanya sebesar kaki naganya Harsa. Namun yang membedakan adalah, naga itu terlihat lebih terang dan mengaum kencang.

Melihat itu aku tidak percaya. Aku lalu keluar berjalan dari barisan dan pergi ke depan untuk memastikan penglihatanku, Nadia dan Kamal menyusulku di belakang. Saat posisiku sudah berada di depan barisan, pandanganku semakin fokus pada naga yang lebih kecil itu. Corak ungu pada sisiknya begitu tidak asing.

"Senja," ucapku dengan penuh haru. Aku mengusap air mataku yang mengalir ketika aku akhirnya kembali melihat bayi nagaku yang sudah tumbuh. Setidaknya aku masih bisa melihat hal yang berharga dalam hidupku sebelum aku mati.

"Apa?" Kamal tidak paham. "Kamu yakin itu adalah Senja naga pemberian Ayahmu?"

Aku mengangguk. "Aku tidak salah kali ini."

Setelah satu tahun lebih naga kecilku itu menghilang entah ke mana, akhirnya aku bisa kembali melihatnya. Malam ini dia kembali muncul, entah bagaimana bisa. Belum selesai keterkejutan atas kehadiran Senja, kami semua dikejutkan dengan lolongan-lolongan serigala. Suranya seolah dekat, tapi kami tidak melihat ada serigala di sekitar sini.

Mendengar lolongan itu sontak Kamal mengangkat pedangnya. "Siap-siap, mungkin ini adalah Makhluk Bayangan yang akan segera keluar."

Namun Nadia membantah perkataan Kamal dengan berkata, "Tidak, Kamal. Tidak. Itu bukan Makhluk Bayangan, itu adalah sahabat lama kita. Dia selamat, dia masih hidup, dan kini dia kembali datang untuk membantu."

Aku dan Kamal megikuti arah pandang Nadia dan orang-orang. Dari balik pohon-pohon dan kegelapam hutan, kami semua melihat rombongan serigala yang berlarian ke arah kami. Pasukan kami mulai mengambil ancang-ancang untuk bertarung, namun aku, Nadia dan Kamal hanya diam saat melihat sahabat lama kami memimpin di depan serigala-serigala itu.

"Itu Tompel?" tanya Kamal dengan menyangka.

Aku mengangguk membenarkan dengan wajah gembira. "Ya! Itu Tompel! Dia datang membawa kawanannya! Dia datang untuk mebantu kita!"

Aku bersorak senang saat akhirnya aku kembali bertemu dengan sahabat lama kami, yaitu Tompel, serigala gunung yang dulu selalu menemani kami bertiga. Dia tidak hadir sendiri, dia membawa puluhan serigala gunung lain. Entah bagaimana bisa, tapi rasa-rasanya ini seperti keajaiban.

Sebelum Malam Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang