30. Melihat Masa Depan

32 5 0
                                        

Aku turun dari pelana naga, lalu menatap Kamal yang kini berdiri di ujung bukit. Matanya terus menatap ke bawah, ke hamparan rakyatnya yang kini bergerak menaiki satu kapal besar di sana. "Kamal," panggilku.

Kamal tidak menoleh, dia hanya berkata, "Pergilah Elok, aku akan naik terakhir."

Aku menghela napas panjang. Sejujurnya aku benar-benar kesal saat ini pada Kamal, tapi aku sadar kalau aku harus mengendalikan amarah dan egoku. Biar bagaimanapun Kamal adalah orang yang selalu membantuku, aku tidak mau hubungan kami hancur hanya karena ego masing-masing.

Aku mengusap bahunya dari belakang saat sudah dekat, sambil berkata, "Maafkan aku jika kamu kecewa atas ini semua."

"Kamu tidak perlu minta maaf." Kamal menoleh ke arahku. "Mungkin Mamaku benar, aku terlalu egois."

Aku menggeleng. "Kamu hanya ingin yang terbaik."

"Kita semua ingin yang terbaik, Elok." Kamal menarik tubuhku mendekat sampai kami saling menempel, dia menatapku serius dan berkata, "Maafkan aku yang tadi."

"Aku tidak marah padamu," kataku, berbohong.

"Aku bangga padamu, Elok. Terima kasih sudah tetap bertahan."

Aku terkekeh. "Bukankah harusnya aku yang bilang begitu? Terima kasih telah bertahan sejauh ini, terima kasih telah menemaniku selama ini, terima kasih sudah menjadi sahabat yang baik."

Kamal tersenyum, dia menempelkan keningnya pada keningku. Dia mengusap wajahku dengan lembut hingga aku merasa nyaman, aku lalu memejamkan mata sambil menikmati usapan itu. Aku berusaha menebak apa yang akan terjadi selanjutnya saat merasakan napas Kamal begitu dekat, tapi selanjutnya ada hembusan angin di belakang.

Secara tiba-tiba Kamal melangkah mundur dan menjauhiku sampai aku membuka mata. Saat aku menoleh ke belakang, aku melihat wajah Gerhana yang benar-benar sudah dekat dengan posisiku. Napasnya memberikan efek seperti tiupan angin. Sontak aku terbahak. Aku kecewa karena hal tadi tidak terjadi, tapi aku terhibur dengan sikap nagaku yang terkesan posesif.

Aku mengusap wajah Gerhana sambil tertawa. "Gerhana benar-benar menjagaku. Dia menjagaku dari bahaya."

Kamal mendengus kesal. "Aku bukan bahaya, Elok."

Masih sambil tertawa, aku mengangkat bahu. "Tapi Gerhana tidak mudah percaya."

Kamal menggaruk kepalanya kencang karena kesal. "Kita sudah berpetualang berbulan-bulan dan dia masih belum percaya padaku? Aneh sekali binatang itu! Aku lebih suka Cahaya ketimbang Gerhana!"

"Naga bukan binatang," kataku. "Mereka lebih dari itu."

Aku menempelkan wajahku pada wajah Gerhana, mengecupnya sebelum akhirnya beralih pada Kamal. Aku mengulurkan tangan pada sahabatku. "Kemari, mungkin Gerhana hanya ingin mengenalmu lebih dekat."

Kamal tampak ragu dan panik, wajahnya memerah. Namun aku berusaha meyakinkannya kalau Gerhana tidak semenyeramkan itu. Aku menyuruh Kamal mengulurkan tangannya ke depan, dan laki-laki itu menuruti ucapanku. Kamal memejamkan mata saat tangannya berada tepat di depan wajah nagaku.

"Rasakan kehangatannya, rasakan enegri kuat yang mengalir," kataku pada Kamal.

Aku lalu menatap Gerhana, mengusap wajahnya. "Tidak apa-apa, Kamal adalah sahabat kita."

Gerhana mengendus-endus tangan Kamal membuat sahabatku itu sedikit teperanjat, sampai akhirnya naga jantanku itu benar-benar menempelkan wajahnya pada tangan Kamal. Kaduanya sama-sama memejamkan mata, sama-sama merasakan energi masing-masing dari mereka.

Kamal membuka matanya, bersamaan dengan Gerhana yang membuka mata. Keduanya saling bertatapan untuk sesaat. Aku merasa sahabatku itu jauh lebih tenang, bahkan sekarang dia tidak ragu dan takut lagi untuk mengusap nagaku.

Sebelum Malam Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang