38. Ombak Besar

39 4 4
                                        

"Jadi, kamu mendapatkan penglihatan saat menggenggam tongkat itu?" tanya Kamal.

Aku mengangguk. "Bisa dibilang begitu."

Setelah kembali dari bekas istana Kota Reksaya dengan membawa sebuah tongkat unik dengan satu ujung lancip terbuat dari tembaka, dan satu ujung menyerupai kail dari batu dengan aksen duri-duri kecil, aku menceritakannya pada Kamal dan Nadia. Hanya pada mereka.

Kami telah kembali memulai perjalanan untuk ke Ibu Kota lama, aku mengajak Minara untuk satu armada denganku. Aku menceritakan semua yang terjadi dari sudut padanganku. Aku menceritakan sebuah penglihatan yang dilihatkan padaku, tentang seorang pria di atas naga yang membawa tongkat itu dan wanita yang berlari di dalam kegelapan.

"Aneh," kata Minara yang mendengar ceritaku. "Aku malah melihat hal lain dari dirimu."

"Bagaimana tepatnya maksudmu itu, Minara?" tanyaku.

Di dalam salah satu bilik kapal, aku, Kamal dan Nadia menatap penasaran ke arah Minara saat wanita itu mengatakan demikian.

"Saat Elok mengangkat tongkat itu ada sesuatu yang terjadi. Aku melihat ada cahaya putih yang keluar dari tanah dan merambat masuk ke dalam tongkat itu, lalu merambat lagi ke tubuh Elok hingga membuat seluruh tubuhnya bercahaya," kata Minara. "Aku merasa tanah agak bergetar, angin berhembus. Setelah itu tanpa bisa aku duga, tubuh Elok melayang dan terang-benerang seperti... matahari."

Setelah mendengar Minara bercerita, Nadia langsung maju mendekat ke arahku. Dia mengambil tanganku tiba-tiba, lalu meraba sekitaran urat nadiku. "Aku merasakannya," kata Nadia sambil memejamkan matanya, meresapi sesuatu yang dia rasakan.

Kamal mendekat dengan penasaran. "Apa yang kamu rasakan?"

"Aku merasakan...." Nadia diam sejenak. "Sesuatu yang besar. Energi. Ya, aku mengenali rasa ini. Ini persis seperti apa yang aku rasakan ketika mengobati Sang Malam di Ibu Kota, satu tahun lalu."

"Bagaimana rasanya?" tanyaku.

"Rasanya, kuat. Rasanya berbeda," kata Nadia, membuka matanya dan menatapku. "Ada sesuatu yang baru dalam dirimu Elok, yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Sebuah energi yang tidak terbendung, sebuah energi yang siap meledak. Ini bisa jadi keuntungan bagi kita, atau...."

"Menjadi bahaya untuk kita," sambung Nadia.

Aku lalu menatap ke pojok ruangan, di mana tongkat itu berada. "Aku yakin, benda itu pasti ada hubungannya dengan Kaum Cahaya."

"Jadi apa rencanamu setelah ini?" tanya Kamal.

Aku diam sejenak, berpikir. "Benda itu pasti bisa membawaku untuk mengetahui sejarah Kaum Cahaya, tentang perjuangan mereka melawan hal-hal jahat di masa sebelumnya. Mungkin aku bisa menemukan jawaban atas perang yang selama ini terjadi."

"Kamu benar, mungkin benda itu bisa membawa kita mencapai kemenangan," sambung Nadia. "Tapi, bagaimana caranya?"

"Aku tidak tahu." Aku menggeleng. "Tapi aku tahu siapa orang yang bisa membantu kita."

Dulu mungkin aku adalah anak perempuan yang tidak tahu apa-apa, aku dulu masih menyangkal tentang semua hal yang terjadi padaku. Tapi setelah aku melalui semua masalah dan situasi ini, aku tidak bisa menyangkal lagi. Aku adalah Kaum Cahaya yang masih tersisa di masa ini. Aku tidak bilang aku adalah orang dalam ramalan itu, aku hanya ingin memperbaiki keadaan.

Safina adalah orang yang menurutku pas untuk aku tanyai masalah ini. Kini aku berada di ruangan berdua dengannya, sambil menggenggam sebuah benda aneh yang aku temui beberapa jam lalu. Aku melihat bagaimana dia merespon saat aku membawa benda tersebut, dan responnya membuatku terkejut.

Sebelum Malam Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang