34. Perjalanan

33 5 0
                                        

Tepat pada hari ketujuh setelah kunjungan terakhirku bersama Harsa dan Meutia, akhirnya kapal-kapal milik Hiraeth sudah rampung dan siap untuk keberangkatan kami. Kapal-kapal besar itu sudah sempurna dan kokoh untuk masuk ke dalam bayangan hitam yang memerangkap para naga-naga Viraksa.

Aku, Kamal dan Nadia menatap kapal-kapal itu dari atas nagaku yang terbang di langit pantai. Di sisi lain aku juga melihat Remang, naga Harsa yang tengah berjaga dan berkeliling di area tersebut untuk menjaga armada-armada tetap aman. Naga itu sering sekali mengaum untuk menakuti hal asing yang mungkin mendekati titik kami.

"Aku jadi bertanya-tanya bagaimana Harsa dan Hiraeth merampas kapal-kapal ini," ujar Kamal, menatap kapal-kapal di bawah dengan kagum.

"Kamu benar, Kamal. Sebelumnya armada-armada itu milik kemiliteran Viraksa dan kota-kota besar. Tiap kali aku melihat kapal-kapal ini, aku juga selalu bertanya sepertimu," kataku. "Bagaimana bisa?"

"Harsa itu kuat, dia pintar dan licik. Tapi dia sangat cocok untuk dijadikan sekutu," sambung Nadia.

Aku terkekeh. "Apapun itu, jika masih ada pilihan untuk tidak bekerja sama dengan para pencuri itu aku akan mengambilnya."

Tidak terasa setelah cukup lama menunggu akhirnya kapal-kapal telah rampung dipersiapkan. Tepat saat besok, kami akan berangkat ke Ibu Kota yang lama. Kami akan berangkat untuk mengadu peruntungan dengan masuk ke dalam kegelapan dan menaklukkan para naga. Itu harus kami lakukan, karena itu hanya cara satu-satunya untuk mengalahkan kegelapan.

Saat tengah terbang di sekitaran pantai, aku mendengar Remang mengaum untuk yang ke sekian kalinya, namun kali ini aumannya sangat terdengar kencang dan terkesan marah. Aku lalu menoleh dan menyadari akan sesuatu di sana. Aku melihat seekor naga lain nampak terbang mendekat ke area kami, hal tersebut membuat naga hitam miliki Harsa itu marah.

"Astaga, naga siapa itu?" tanya Kamal, menunjuk seekor naga yang memiliki corak warna biru di kejauhan sana.

Aku sontak langsung mengetahui naga siapa itu. Bahkan kini aku bisa melihat penunggang naga tersebut.

"Sepertinya kita kedatangan tamu. Pegangan teman-teman!" kataku, lalu menarik tali pelana. "Terbang lebih cepat, Gerhana! Hentikan Remang!"

Nagaku lalu mengaum, melolong keras seolah memanggil Remang untuk berhenti. Naga itu tentunya saja tidak bisa tunduk jika bukan dengan Harsa, dia terus bergerak ke arah naga biru di sana untuk memberikan serangan. Aku melihat naga biru itu menungkik ke bawah atas perintah penunggangnya. Dia terbang dekat dengan air sampai kakinya menyentuh ombak.

Ukuran naga biru itu yang jauh lebih kecil dari ukuran Remang membuat gerakannya jauh lebih cepat. Naganya Harsa itu tidak bisa menyamai posisinya, sampai akhirnya naga biru tersebut hilang dari pandangan Remang dan pandangan kami.

"Ke mana naga itu?" tanya Nadia di belakang. "Apa naga itu berbahaya? Aku tidak bisa melihat penunggangnya."

Aku masih memperhatikan sekitar untuk mencari keberadaan naga itu, lalu aku menjawab, "Itu Awanbiru, naga milik Pangeran Lembayung. Mereka datang ke sini, entah untuk apa."

Kamal terkejut. "Bagaimana dia bisa tahu tentang keberadaan kita? Ini bahaya, orang-orang di istana tidak boleh tahu tentang rencana kita."

Aku menggeleng. "Lembayung berbeda dari Kawiswara atau Arinda. Aku yakin dia datang ke sini bukan untuk menggagalkan kita."

"Kalau begitu kita cari dia sebelum yang lain menemukannya," kata Nadia.

Sebelum Malam Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang