Satu minggu setelah aku dikejar banyak puting beliung itu, pertemuan besar benar-benar diadakan untuk membahas perang ini, di Istana Kedaulatan Gunung Virama. Aku dan para penunggang naga lain hadir dalam pertemuan itu, bersama pemimpin dan perwakilan dari kota-kota yang berdiri bersama kami memerangi Sang Malam. Totalnya ada sebelas kota yang berkomitmen memberikan perlawanan bagi Sang Malam.
Awalnya aku tidak ingin hadir dalam pertemuan ini, karena menurutku, aku bukan siapa-siapa. Namun Laksana dan Lim memaksaku, mereka berdua mengatakan kalau sekarang aku adalah salah satu penunggang naga, yang mana itu sangat diperlukan dalam pertempuran. Bukan hanya aku, Minara juga diajak dalam pertemuan ini karena dia adalah penunggang naga.
Pertemuan ini dihadiri oleh aku, Ibu Gunung, Meutia, Kamal, Lim, Laksana, Minara, Purnama Bersaudara dan beberapa perwakilan dari setiap kota. Pangeran Kawiswara dan Putri Arinda juga hadir, mereka sudah jauh lebih baik dari hari pertama kami bertemu. Mereka mengenakan pakaian kerajaan yang indah dan mewah, sangat cocok dipadukan dengan keduanya.
Di depan kami, lebih depatnya di sebuah meja besar, terbentang sebuah peta yang menampilkan titik kordinat dari penjuru Viraksa, dari mulai Ibu Kota sampai pelosok-pelosok negeri seperti Langit Jatuh, Kota Tua atau Gunung Virama. Di atas peta terdapat kapal-kapal kecil berwarna hitam dan merah guna menandakan titik yang masih aman dan yang tidak.
"Maaf jika saya lancang, tapi di mana Pangeran Lembayung, Yang Mulia?" Kamal bertanya pada pangeran dan putri, basa-basi. "Apa dia berhalangan hadir?"
Putri Arinda tersenyum sesaat, lalu menjawab, "Lebih baik kita tidak usah mengharapkan adikku, karena dia sudah berubah."
"Sang Malam merubah segalanya dalam hidupnya," sambung Pangeran Kawiswara. "Lembayung sekarang dikuasai oleh trauma dan kesedihan setelah melihat langsung kematian Ibunda."
Suasana di sana lengang sejenak setelah mendengar cerita Pangeran Kawiswara dan Putri Arinda tentang anak sulung Raja. Aku tidak heran, karena aku bisa merasakannya sendiri. Pertama kali aku bertemu dengan Lembayung, aku memang merasakan kesedihan, ketakutan dan trauma yang mendalam. Entah hal apa yang Sang Malam telah perbuat pada Pangeran sampai menyembabkannya seperti sekarang.
"Lupakan tentang itu semua." Kawiswara mengibaskan tangannya, mengalihkan pembicaraan. "Jadi, kita mulai dari mana?"
Ibu Gung mengambil kapal-kapal kecil yang berwarna hitam, dan meletakkan di beberap titik kota yang sudah diduduki Sang Malam. "Dari dua puluh tiga kota yang masuk ke dalam kawasan Viraksa, enam di antaranya sudah berhasil diduduki oleh Sang Malam, juga ada enam kota juga yang memisahkan diri dari Viraksa, memilih netral dan menjadi negara sendiri."
"Berapa kota yang masih bertahan?" tanya Kawiswara.
Ibu Gunung menunjuk kapal-kapal merah yang terdapat pada titik peta. "Ada sebelas kota yang mulia, salah satunya adalah Gunung Virama."
Aku melihat Arinda mengangguk-angguk. "Sang Malam berhasil menaklukkan Ibu Kota dalam satu malam, yang mana pasti dia bisa menaklukkan kota-kota lain setelahnya. Tapi ternyata, masih ada sebelas kota yang bertahan. Aku cukup terkejut."
"Sang Malam tidak pernah menyerang Gunung Virama, Yang Mulia." Kamal menjawab. "Kita tidak tahu apa kita akan bertahan atau tidak seandainya Sang Malam menyerang kita di sini, di tempat ini."
"Dia akan melakukannya sebentar lagi, karena Gunung Virama akan menjadi tujuan akhirnya untuk mendapatkan yang dia inginkan." Soraya akhirnya berbicara setelah dari tadi diam, dan dia menatapku. "Kita harus mempersiapkan semuanya dengan matang, karena sekarang Sang Malam sudah jauh jauh jauh lebih kuat dari sebelumnya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Sebelum Malam
FantasyElok terlahir sebagai anak haram dari Raja Viraksa. Sekilas Elok hanyalah gadis biasa yang tak memiliki kelebihan selain fakta kalau dirinya adalah Kaum Cahaya terakhir di muka bumi, seseorang yang mampu melihat dalam gelap dan mengendalikan para na...
