35. Sebuah Negosiasi

30 6 0
                                        

Jika melalui jalur laut dengan kapal, kemungkinan kami akan menempuh perjalanan selama satu minggu untuk sampai di Ibu Kota, itu juga kalau tidak ada kendala. Sekarang sudah hari ketiga kami berlayar mengarungi samudera, menerjang ombak dan melawan dinginnya cuaca saat malam.

Sampai saat ini kami tidak mengalami kendala yang gimana-gimana. Harsa membagi jadwal bekerja bagi para Penyihir Angin dan Penyihir Air untuk mengendarai kapal, dia juga membagi giliran jaga setiap awak kapal. Aku, Kamal dan Nadia juga kedapatan bagian.

Saat pagi hari Meutia akan menunggangi Embun Pagi untuk berjaga dan memantau situasi di udara sampai sore hari, lalu disambung oleh Minara dan Lembayung yang menunggangi naga mereka untuk berjaga sampai waktu tengah malam, lalu terakhir aku dan Harsa mendapat giliran berjaga bersama naga kami dari tengah malam sampai pagi.

Di hari ketiga ini kami tengah berlabuh di sebuah pulau kecil yang kami temui untuk berisirahat sejenak sekaligus mengecek kondisi kapal. Sebelum kembali berangkat, Harsa mengumpulkan beberapa dari kami di tepi pulau untuk bicara.

"Sebentar lagi kita akan memasuki area Kota Pasir Putih. Prairannya dijaga oleh kapal-kapal kemiliteran Viraksa, dan aku yakin kita tidak akan bisa melewati jalur itu dengan mudah," kata Harsa.

"Harsa benar. Pasir Putih adalah salah satu kota yang masih bertahan. Mereka memblokade jalur di sekitar wilayah mereka atas perintah saudaraku," sambung Lembayung.

"Berarti kita harus bertempur agar bisa melewati jalur itu?" tanya Kamal. "Kita mungkin akan kalah dengan jumlah armada. Tapi kita punya lima naga, itu cukup utuk membuat lawan terpukul mundur."

"Perkiraan Kamal sama denganku." Harsa menatap satu-persatu dari kami. "Pertarungan ini akan mengandalkan para naga, untuk membuka jalan bagi armada-armada kita."

"Jangan," kataku. "Tolong jangan ada pertumpagan darah lagi, apalagi itu darah saudara sebangsa kita. Aku mohon jangan, sudah terlalu banyak nyawa dan tangis yang tumpah. Pasti ada cara lain."

"Aku setuju dengan Elok," timpal Meutia. "Jika kita membakar kapal-kapal pertahanan Pasir Putih, kota itu akan mudah diruntuhkan setelahnya. Dan itu adalah hal yang mudah bagi para Makhluk Bayangan."

"Lalu, kamu punya solusinya?" tanya Harsa.

Meutua diam, namun Lembayung menjawab, "Aku akan terbang bersama Awanbiru ke kota itu. Aku akan menemui pemimpin kota dan melakukan negosiasi agar mereka mau membuka jalur dan memberikan kita jalan. Tuan Ami mengenalku."

Aku mengangguk. "Aku pikir itu tidak buruk, dan memang harus begitu. Aku akan menemanimu, Kak."

Harsa mengangguk paham. "Baiklah kalau begitu. Lembayung dan Elok akan terbang terlebih dahulu dan melakukan negosiasi. Tapi kalian berdua harus dikawal."

Pria itu diam sejenak, lalu menatap Kamal, Nadia, dan Zaheer. "Kamal, Nadia, Zaheer aku mau kalian menemani Elok dan Pangeran Lembayung. Pastikan kalian menjaga keduanya tetap aman."

Ketiganya mengangguk.

"Kalau begitu tunggu apalagi?" tanya Lembayung. "Kita berangkat sekarang."

Aku mengangguk setuju. "Ya, lebih cepat lebih baik."

Setelah itu aku, Lembayung dan ketiga temanku membubarkan diri dari barisan. Lembayung berjalan ke arah Awanbiru yang menunggunya di tepi pantai, lalu pria itu mulai naik ke atas pelana diikuti Zaheer di belakangnya.

Aku, Nadia dan Kamal bergerak ke arah Gerhana yang gini nampak duduk di antara batu-batu karang sambil menikmati desir ombak yang menghantam tubuhnya. Sambil memakai sarung tangan, aku dan kedua sahabatku bergerak melewati karang-karang yang licin.

Sebelum Malam Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang