31. Sebuah Rencana

44 5 0
                                        

Saat aku, Kamal dan Nadia dijadikan tawanan oleh Hiraeth di kota bawah tanah ini, aku merasa orang-orang di sana tidak suka pada kami, mereka menganggap kami musuh seolah kami adalah ancaman bagi mereka. Tapi sekarang berbeda, aku tidak melihat rakyat Kota Sukacita yang tidak ramah, aku malah melihat mereka semua penuh riang menyambut kami.

Saat kami semua menuruni undakan untuk sampai di dasar, kami melihat ribuan orang nampak berkumpul di sana. Mereka melihat kami, mereka bersorak-sorak bahagia, dan mereka tertawa. Mereka seolah melihat kami adalah sesosok mahluk langka yang baru mereka lihat.

Harsa dan orang-orangnya rupanya telah menyiapkan tempat untukku dan Rakyat Gunung Virama, tempatnya terpisah dari orang Sukacita. Setelah turun di dasar tanah, kami semua berjalan cukup jauh untuk sampai ke tempat kami.

Aku berjalan paling depan bersama Nadia dan Kamal, didampingi oleh Harsa dan Safina. Sambil berjalan aku menatap langit-langit di bawah tanah ini. Aku menatap bebatuan di atas sana, menyala dan mengeluarkan cahaya terang yang menyinari seisi bawah tanah. Batu-batu itu mengeluarkan cahaya beragam.

"Apa batu-batu itu tetap menyala saat malam?" tanyaku.

"Cahaya dari batu itu tidak pernah redup." Harsa diam sejenak. "Bukankah saat pertama kamu ke sini, kamu sudah bertanya tentang hal itu?"

Aku diam sejenak. "Aku lupa."

Harsa menghela napas. "Sejujurnya aku tidak tahu. Tapi mendiang orang-orang terdahulu mengatakan kalau batu-batu itu dapat menyerap energi di dalam bumi ini. Energi itu berubah menjadi pantulan cahaya warna-warni yang indah."

Setelah berjalan cukup lama akhirnya kami semua tiba di sebuah tempat pengungsian. Harsa sudah menyiapkan tenda-tenda beserta kebutuhan lainnya untuk kami. Tapi menunggu lama, aku dan yang lain mengatur tempat-tempat untuk rakyat kami. Setelah itu kami beristirahat sampai pagi tanpa gangguan.

Pada paginya pengungsi Gunung Virama dan para Calon Pengunggang Naga dari Kota Tua dibangunkan untuk sarapan. Setelah sarapan, Kamal mengumpulkan rakyatnya untuk memulai pembicaraan. Pagi itu Harsa dan Safina kembali hadir untuk memantau situasi.

Aku, Kamal, Nadia dan para petinggi menempati satu meja panjang, sementara di depan kami terdapat hamparan orang-orang yang bertanya-tanya kenapa mereka dikumpulkan di sini. Ibu Gunung mengisyaratkan Kamal untuk mulai bicara.

Aku melihat gelagat Kamal yang nampak gugup, lalu aku menyentuh tangannya sambil berbisik, "Kamu bisa."

Kamal mengangguk dan tersenyum. Dia lalu bagkit dari duduknya, membuat semua mata tertuju padanya. Beberapa saat Kamal hanya diam, sesekali dia melempar pandangan pada aku dan Nadia, sementara kami berdua hanya bisa mengangguk meyakinkan.

Kamal berdeham untuk menetralkan dirinya, sambil mengedarkan pandangannya dia berkata, "Kita telah meninggalkan rumah kita cukup lama, kita meninggalkan semua kenangan yang ada di sana. Aku tahu kalian sedih, terpuruk dan takut. Itu wajar, karena aku juga begitu, tapi...."

Kembali terdiam, kedua tangannya kini bertumpu pada meja. "Tapi kita harus melawan kesedihan, keterpurukan dan ketakutan itu. Kita harus membuang semua keraguan dalam diri kita masing-masing. Karena apa? Karena dunia membutuhkan kita!"

Hatiku mulai bergetar saat Kamal mulai percaya diri bicara di depan rakyatnya. Pelan-pelan dari intonasi bicaranya mengalir sebuah semangat besar.

"Perang telah melanda kita, perang terjadi di mana-mana, entah sampai kapan. Bukan hanya kita, tapi perang telah melanda seluruh dunia. Malam panjang sudah dekat, mereka akan datang menemui kita. Dan sekarang, waktunya kita bersiap-siap," kata Kamal.

Kamal melangkah mundur, dia keluar dari meja dan berjalan lebih dekat dengan rakyatnya. "Dunia membutuhkan kita. Keadaan telah berubah, dan setiap insan harus mengambil peran dalam kehidupan ini."

Sebelum Malam Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang