Meutia menyuruh armada Hiraeth yang mengantarnya untuk pergi, kembali ke Kota Sukacita dan menberi tahukan tentang para Calon Penunggang Naga yang telah dia dapatkan di Kota Tua. Sekarang langkah selanjutnya tinggal menunggu Harsa, kemudian menyusun rencana untuk masuk ke Ibu Kota lama.
Saat siang hari, tempat persinggahan kami sementara tiba-tiba kedatangan seseorang yang menunggangi naga hitam besar. Aku pikir awalnya itu Harsa, namun setelah aku melihatnya langsung ternyata bukan. Aku terkejut melihat kedatangan Laksana yang tiba-tiba, datang bersama naganya yang bernama Pudar.
Kadatangan Laksana diikuti dengan kedatangan Minara yang mendapat tugas jaga siang ini. Aku langsung menerobos kerumunan orang-orang yang asik menatap sosok Laksana yang kini masih duduk di atas pelana sambil terus menatap sekeliling. Saat mata kami beradu, dia berhenti menoleh.
"Cukup terkejut melihatmu di sini sobat," kataku dengan ramah, aku cukup merindukan sahabatku yang satu itu.
Aku menatap Laksana dengan antusias, sementara pria itu nampaknya tidak begitu. Saat melihatku, dia pelan-pelan turun dari pelana naganya. Pria itu lalu berjalan ke arahku, diikuti Minara di belakangnya.
Laksana mengikis jarak dia antara kami, sampai akhirnya dia memelukku sambil berkata, "Aku begitu merindukanmu, gadis kecilku."
"Sama, aku juga," jawabku.
Laksana melepaskan pelukannya, menatapku serius. "Kita perlu bicara."
Aku menjauhkan wajahku dengan mimik bingung. "Ada apa? Kamu baru datang, kenapa langsung ingin bicara?"
"Sebenarnya aku datang ke sini karena diutus," kata dia.
Aku makin tidak mengerti, aku hanya meresponnya dengan tawa canggung. "Pelan-pelan, Laksana. Aku tidak mengerti maksud dari semua yang kamu katakan."
Laksana menghela napas berat, dia menarikku sampai tubuh kami benar-benar menempel. Lalu tepat di telingaku Laksana berkata, "Siapa yang memiliki rencana menaklukkan naga di Ibu Kota lama?"
Aku menjauhkan tubuhku darinya dengan wajah terkejut. Aku bertanya-tanya kenapa Laksana bisa tahu. Pria itu berada di Ibu Kota bersama para petinggi negara, tapi kenapa dia bisa tahu? Dan, apa alasan dia datang ke sini?
Aku baru saja akan menjawab, namun Laksana menyelek dengan berkata, "Aku ingin bicara dengan orang-orang penting dalam perkumpulan ini."
"Baiklah." Aku mengangguk.
Siang itu aku dibuat cukup terkejut dengan kedatangan Laksana, sahabatku yang membawa sebuah pertanyaan yang tidak bisa aku jawab. Akhirnya saat itu juga aku mengumpulkan orang-orang penting yang terlibat dalam rencana ini. Aku mengumpulkan Meutia, Kamal, Nadia, Zaheer, Minara, Minara dan Ibu Gunung di salah satu tenda yang kosong.
Aku melihat wajah Laksana tampak marah saat melihat datangnya Meutia. Pria itu yang sebelumnya duduk di salah satu dahan pohon langsung berdiri saat melihat Meutia menyibak tirai di tenda. "Aku terkejut melihatmu di sini, Meutia," katanya.
Meutia membalasnya dengan seulas senyuman. "Begitu juga dengan aku. Aku terkejut melihat kedatanganmu yang tiba-tiba."
Laksana memasukkan tangannya ke dalam kantung, suatu bentuk bahasa tubuh yang aku tangkap kalau pria itu menahan kesal. "Pasti kalian semua terkejut atas kedatanganku, kan?"
Laksana lalu lanjut berkata, "Aku datang kemari karena melaksanakan perintah Raja Kawiswara."
Aku cukup terperanjat mendengarnya, bertanya-tanya ada apa gerangan anak pertama Raja itu mengutus Laksana untuk datang ke sini? Aku juga melihat mimik wajah orang-orang dalam tenda ini yang nampaknya juga memikirkan hal yang sama denganku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sebelum Malam
FantasyElok terlahir sebagai anak haram dari Raja Viraksa. Sekilas Elok hanyalah gadis biasa yang tak memiliki kelebihan selain fakta kalau dirinya adalah Kaum Cahaya terakhir di muka bumi, seseorang yang mampu melihat dalam gelap dan mengendalikan para na...
