41. Sebelum Esok Datang

42 4 12
                                        

Kehadiran Sunar benar-benar membantu kami semua dalam menghadapi ketakutan terbesar orang-orang selama ini. Kami berhasil mengalahkan Makhluk Bayangan, memusnahkan mereka tanpa sisa. Namun itu belum selesai, masih ada sesuatu yang besar menunggu di dalam bayangan sana yang kini makin mendekat.

Aku menatap kosong ke arah tembok bayangan yang sebentar lagi akan menelan tubuhku, sampai seseorang datang menggenggam tanganku. Saat aku menoleh, aku mendapati Kamal menatap tajam ke depan sana. Lalu tak lama kemudian Nadia muncul dan menggenggam tanganku yang satu lagi.

"Tetap bersama," kata Nadia.

"Semuanya buat bentuk barisan!" terik Safina di depan sana, mengarahkan orang-orang. "Tetap berdekatan, sebentar lagi kita akan memasuki pusat dari kegelaman alam semesta! Tetap berdiri bersama! Kuatkan barisan dan iman kalian!"

Semua orang lalu kembali membentuk barisan. Setelah berhasil mengalahkan Makhluk Bayangan, kami dihadapkan dengan masalah utama berupa tembok bayangan yang hitam pekat, gelap dan mencekam. Semakin bayangan besar itu mendekat, semakin terang juga cahaya pada senjata kami.

Aku, Kamal dan Nadia saling menatap untuk meyakinkan. Lalu tepat saat tembok bayangan itu masuk melewati kami, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Angin kecang berhembus sampai membuatku memejamkan mata. Bayangan itu benar-benar menelan kami semua, tidak ada batasan lagi sekarang.

Meski ada cahaya dari senjata kami, namun semua orang nampak masih kesulitan melihat dalam kegelapan itu. Sunar lalu kembali mengambil tindakan. Dia terlihat menyatukan kedua tangannya, lalu membukanya perlahan. Sebercak cahaya muncul di sana, lalu semakin lama semakin besar. Sunar lalu melepaskan cahaya itu ke udara, terbang seperti gelembung dan menerangi kami seperti matahari.

Saat gelembung cahaya itu menyinari sekitar, kami bisa melihat sebuah barisan yang terbentang di tepi lautan yang membeku ini, tepatnya di perbatasan Ibu Kota. Barisan itu terdiri dari orang-orang yang telah mati, tubuh mereka diisi oleh Makhluk Bayangan untuk memusnahkan dunia manusia. Jumlah mereka banyak, jauh lebih banyak dari kami.

"Apa-apaan ini," kata Zaheer di belakang. "Mereka banyak sekali. Makhluk itu berbasil mengambil sebagian dari kita!"

Iman kami kembali diuji sekarang ketika melihat ribuan pasukan Sang Malam yang siap melawan kami. Jumlah kami tidak sampai setengahnya dari mereka yang ada di sana. Orang-orang di belakang mereka mulai takut, keberanian mereka mulai goyah.

Aku melihat cahaya dari senjata beberapa orang di belakangku nampak redup, hal itu membuatku keheranan.

Sunar lalu berteriak, "Semakin kalian takut, maka cahaya di senjata kalian akan semakin redup! Pertahankan keberanian kalian! Semakin kalian berani, maka cahaya kalian akan semakin terang! Dan jika cahaya kalian telah hilang, berarti kalian mati!"

Mendengar Sunar berkata begitu, cahaya dari beberapa senjata yang semulanya meredup kembali berpendar terang. Orang-orang berusaha menarik keberanian mereka yang membuat cahaya kami semakin terang.

"Kita bisa menghadapi mereka, kok," kata Nadia. "Aku yakin."

Aku lalu menatap Nadia di sampingku. "Kenapa kamu seyakin itu?"

"Karena aku bersama kalian," jawab Nadia sambil menatapku dan Kamal.

Aku baru saja akan membalas perkataan Nadia, namun atensiku teralihkan sepenuhnya saat barisan musuh mulai turun ke lautan yang membeku dan berlari ke arah kami. Ribuan orang-orang yang raganya telah diambil oleh Makhluk Bayangan itu berteriak dengan keras sambil mengayunkan senjata mereka dan memercikan sihir mereka.

Aku dan semua orang di barisan tidak ikut bergerak menghampiri musuh karena kami memiliki rencana lain. Saat barisan musuh mulai mendekat, kami mendengar auman naga-naga kami. Semua orang lalu menoleh ke udara, melihat Lembayung, Harsa, Meutia dan Minara yang menunggangi naga mereka untuk mengambil peran, Gerhana menyusul di belakang.

Sebelum Malam Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang