Kakiku lemas, lututku jatuh ke es cukup kuat. Aku benar-benar tidak menyangka, aku seperti seorang yang mendapatkan mukjizat saat hampir mati. Nyatanya memang begitu, ini adalah sebuah mukjizat yang semesta berikan. Lebih dari dua puluh ribu pasukan dari setiap kota berdiri di belakangku, datang untuk membantu kami semua.
Mereka datang dengan suara gemerincing baju besi yang bergoyang-goyang saat berjalan, mereka datang dengan perisai yang jauh lebih tebal dari sebelumnya, dan datang dengan keyakinan. Aku masih tidak menyangka hal ini akan datang. Aku pikir, kami berjuang sendirian.
Aku tidak tahu bagaimana Sunar dan Wulan bisa mengumpulkan banyak pasukan. Setelah Gunung Virama, Langit Jatuh dan Ibu Kota menjadi gelap, semua orang ketakutan dan tidak berani mengambil tindakan. Aku tidak tahu bagaimana caranya Sunar meyakinkan para Walikota untuk mau ikut berperang.
Kamal datang dan mengulurkan tangannya. "Bangkitlah, sedikit lagi kita akan menang. Mereka datang untuk membantu."
Aku meraih tangan Kamal dan kembali berdiri. "Aku tidak menyangka waktu ini akan datang, di mana Viraksa kembali bersatu untuk tujuan yang sama."
Aku lalu menatap Nadia yang tidak jauh dariku, nampak tangannya mengobati luka terbuka di perut Zaheer.
"Aku sudah hilang harapan tadi, makanya aku tidak mau kamu mengobati lukaku. Tapi melihat semua ini, kayaknya aku masih mau hidup lebih lama," ucap Zaheer sambil tertawa.
Aku ikut tertawa mendengarnya, lalu aku menoleh menatap para naga yang berbaris siap untuk berperang. Kawiswara, Arinda dan Lembayung duduk di atas naga mereka masing-masing, menatap penuh ambisi ke barisan lawan. Tidak jauh darinya aku melihat Lim dan Laksana duduk di atas naga mereka yang terlihat sudah sangat siap.
Namun tatapanku terhenti saat melihat ke arah Mughal dan Martha. Dua orang itu duduk di atas naga mereka, namun mata mereka terus menelaah mencari sesuatu. Sadar apa yang mereka cari, aku merasa sedih. Pasti mereka mencari keberadaan Meutia dan Embun Pagi, tanpa mereka tahu kalau keduanya telah gugur.
Aku mungkin akan menghampiri mereka jika saja pasukan musuh tidak mulai bergerak ke arah kami. Hal itu membuat kami semua bersiap.
Safina menghampiriku dan berkata, "Elok, naiklah ke atas nagamu dan kalahkan naga itu," kata Safina sambil menunjuk naga hitam besar yang telah membunuh Meutia dan Minara berserta naga mereka. "Naga itu berbahaya. Jika dibiarkan dia bisa melumpuhkan naga yang lain juga."
Wanita itu lalu lanjut menunjuk sekumpulan orang yang membawa banyak tombak. "Itu adalah prajurit Sang Malam yang melemparkan tombak ke arah Gerhana tadi. Aku, Zaheer, Dita dan Maliki akan mengurus mereka agar tidak ada lagi naga yang tewas lagi."
"Aku akan membantu kalian," sambung Kamal.
Safina menggeleng. "Tidak, kamu dan Nadia temani Elok. Dia butuh seseorang yang selalu berada di sampingnya."
Aku, Kamal dan Nadia mengangguk serempak. Lalu kami bertiga saling menggenggam tangan, mempercayai satu sama lain. Kami bertiga lalu berlari ke arah nagaku. Aku mengawali naik ke atas pelana, duduk paling depan.
"Senang masih bisa melihatmu lagi, gadis kecil! Senang bisa melihat kalian juga, Kamal, Nadia!" Celetuk Lim yang duduk di atas naganya, tepat di samping nagaku.
Kamal dan Nadia melambaikan tangan, sementara aku tertawa. "Aku juga senang. Ngomong-ngomong, kamu agak gemukan."
Laksana di sampingnya menertawai celetukkanku. "Dia sudah lama tidak bertarung, Elok. Makanya sekarang dia hadir di sini, hitung-hitung untuk membakar lemak."
Lim mendengus kesal, dia lalu menatapku. "Wahhhh, kamu berkembang sangat pesat, gadis kecil. Ngomong-ngomong apa kamu punya rencana?"
Aku lalu mendongak menatap Jaka yang masih duduk di atas naganya, terbang di atas barisasan musuh. Aku lalu menunjuk ke arahnya. "Hati-hati dengan naga itu. Dia bukan naga biasa."
KAMU SEDANG MEMBACA
Sebelum Malam
FantasiElok terlahir sebagai anak haram dari Raja Viraksa. Sekilas Elok hanyalah gadis biasa yang tak memiliki kelebihan selain fakta kalau dirinya adalah Kaum Cahaya terakhir di muka bumi, seseorang yang mampu melihat dalam gelap dan mengendalikan para na...
