33. Dia kembali

30 5 0
                                        

Aku menunggangi Gerhana mengikuti Harsa di depan sana yang menunggangi naganya yang bernama Remang, lalu di belakangku terlihat Meutia dan naganya mengikuti. Setelah terbang cukup lama, aku melihat Harsa dan naganya mulai mendarat setelah kami tiba di wilayah sebuah pantai. Aku dan Meutia mengikuti Harsa, bersiap mendarat.

Pagi ini Harsa membawa aku dan Meutia untuk melihat persiapan kapal yang sedang ia bangun untuk memasuki wilayah Ibu Kota dan Rumah Naga. Saat kami turun dari naga, kami langsung bergerak mendekati pesisir pantai yang kini terparkir kapal-kapal besar dengan berbagai bentuk dan ukuran.

"Aku tidak percaya mereka bisa mencuri kapal-kapal besar seperti ini," kata Meutia ketika dia melihat kapal-kapal milik Hiraeth.

"Mereka bukan perompak, mereka lebih mirip seorang prajurit," balasku.

Aku dan Meutia kembali memperhatikan sekitar pesisir, di mana semua orang disibukkan dengan kapal-kapal besar yang terpakir di sana. Aku melihat orang-orang tampak memalu di beberapa bagian kapal, membuat simpul-simpul dari tambang, ada juga yang mengangkut barang-barang besar ke dalam kapal, dan lainnya.

"Kapal mana yang akan kita gunakan untuk masuk ke Ibu Kota?" tanya Meutia.

Masih terus berjalan, Harsa menoleh sejenak ke belakang menatapnya. "Ada beberapa, yang paling besar ada di ujung sana."

Setelah menyelesaikan beberapa langkah, akhirnya aku, Meutia dan Harsa tiba di depan sebuah kapal besar dan kokoh yang Harsa bilang.

"Kapal ini yang paling besar, yang kami miliki," ucap Harsa.

Aku melihat Meutia diam dan memperhatikan kapal di depannya cukup lama sampai akhirnya dia berkata, "Ini kapal perang Viraksa, aku mengenalinya. Bagaimana bisa kalian mengambilnya dari para Kemiliteran?"

Harsa terkekeh sesaat. "Tentu saja bisa. Aku bisa membuat sebuah ilusi dalam skala besar. Bahkan mereka mungkin tidak sadar kapalnya hilang."

"Lalu bagaimana dengan persiapannya?" tanyaku.

"Periapannya sudah hampir rampung," kata Harsa. "Kami telah menyiapkan persediaan makanan, bahan bakar dan senjata selama nanti berada di dalam perjalanan. Kita hanya kekurangan jumlah pasukan."

Harsa lalu menatapku. "Bagaimana dengan rakyat Gunung Virama?"

"Mereka berlatih keras untuk perang ini," jawabku. "Para Penyihir dilatih langsung oleh Safina, Arya para Hiraeth. Sementara orang-orang biasa dilatih menggunakan senjata oleh Kamal dan beberapa orangmu yang mampu."

"Kita tidak bisa menunggu," kata Harsa.

"Semua melalui proses Harsa, kamu tidak bisa bilang begitu."

"Tapi kita kehabisan waktu, Elok." Harsa menghela napas panjang setelah membantah perkataanku, melangkah masuk ke dalam kapal.

Aku dan Meutia lalu mengikuti pria itu masuk ke dalam kapal. Di sana kami bertemu banyak orang yang bekerja keras untuk rencana kami ini. Harsa membawa kami melihat-lihat.

Pertama kami masuk ke dalam ruang perbekalan, di sana kami melihat bahan-bahan makanan yang bisa kami gunakan saat perjalanan. Kami lalu berjalan ke ruang persenjataan, banyak tombak, panah dan pedang di sana beserta alat-alat peledak.

Sebelum Malam Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang