FALLIN

267 28 0
                                    

Rindu adalah perjalanan yang selalu mendamba temu. Ini sudah hari ke empat Jeff dan Jafar tinggal di Mansion milik Alessandro. Selama itu pula tak pernah satu haripun Jeff tak memikirkan tentang Anne, apalagi perkataan ayahnya sangat membuatnya bingung. Ada perasaan gelisah yang bergemuruh, tapi tak satupun keputusan akan diambilnya. Dia seolah menyingkirkan jauh-jauh mengenai nasehat Ayahnya untuk memilih sesuatu yang sama-sama penting baginya. Dia menginginkan Anne tanpa mau melepas organisasi terlarangnya.

Akhir-akhir ini kepalanya terasa pening sekali. Tekadnya tetap bulat untuk menggenggam keduanya. Dia bisa mengendalikan semuanya seperti biasa tanpa ada hambatan apapun. Dia bisa menjalankan organisasi terlarangnya tanpa diketahui oleh Anne.

Sedari semalam dia menimang-nimang keinginannya untuk menghubungi Anne. Ponsel pada genggamannya telah memperlihatkan nama gadis pujaannya. Dia akan berkata jujur kalau saja Anne bertanya darimana dia mendapatkan nomornya.

Berdering. Sudah lima belas detik, tapi belum ada tanda-tanda Anne akan mengangkatnya. Jeff menghembuskan napasnya pelan. Apa gadis itu sibuk sekali sampai tak mengangkat teleponnya? Dan—tersambung.

"Hallo." Katanya disebrang sana. Suaranya sangat parau, apa gadis itu baru saja bangun dari tidurnya?

"Hi," Jeff membuka suara beratnya setelah beberapa detik diam.

"Dengan siapa?" terdengar suara menguap disebrang sana. Benar-benar baru bangun tidur, tapi ini sudah terhitung siang.

"Kau baru bangun tidur?"

"Kau salah sambung. Ini masih pagi dan kau mengganggu tidurku!" mungkinkah nada seperti itu dimasukkan dalam kategori marah? Jeff tak merasa demikian. Suara serak dengan nada sebal itu mengundang tawa saat terdengar oleh telinganya.

"Ini aku, Jeff. Kau masih ingat?" katanya setelah menghentikan kekehan pelannya. "Ini sudah siang dan kau baru bangun tidur?"

"Kau? Ini masih pagi!" katanya masih terdengar kesal karena telepon dari Jeff telah mengganggu tidur nyenyaknya.

"Bukannya di Manhattan sudah memasuki pukul Sembilan?"

"Ya."

"Hanya orang malas yang menganggap ini masih pagi." Katanya meledek. Jeff menyeruput kopi dari gelas yang sedari tadi ada digenggamannya. "Kau tidak ke kampus?" tanyanya setelah tak kunjung mendapatkan jawaban dari seberang sana.

"Untuk hari ini tidak." Jawabnya lemas. Dia masih dalam tahap mengumpulkan kesadarannya.

"Sudah sarapan?"

"Belum."

"Sudah kuduga. Senang sekali mengabaikan Kesehatan, hm?"

Terdengar helaan napas berat disana. Mungkin kesal karena baru saja bangun tidur Sudah diwawancara. "Kau mendapatkan nomorku darimana?" tanyanya mengalihkan pembicaraan. Membahas mengenai Kesehatan dengan Jeff akan sangat repot.

"Menyalinnya dari ponselmu," katanya jujur.

"Dasar pencuri!"

"Masukkan saja ini dalam daftar pembayaran hutang," katanya menyandarkan tubuhnya pada bingkai pintu yang menghubungkan kamarnya dan balkon. Pandangannya mengarah keluar, dimana taman-taman bunga yang Alessandro sebut-sebut sebagai kesayangan istrinya sedang indah-indahnya. "Bagaimana keadaanmu?" tanyanya lagi setelah tak mendapatkan tanggapan.

"Baik. Kau?"

"Tidak baik."

"Kau sakit?"

"Ya."

"Bagaimana bisa kau mengkhawatirkan kesehatanku sedangkan kau teledor dengan kesehatanmu sendiri?"

"Tidak. Bukan seperti itu, aku baik-baik saja, hanya saja akhir-akhir ini aku merasa pikiranku sedang kacau."

The Savior GirlTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang