HIS MOM

237 26 3
                                        

~ SELAMAT MALAM, SELAMAT MEMBACA ~

Hi, semua ...

Aku mau minta pendapatnya dong, hihi.

Di Bab kemarin ada spoiler dari cerita baru tentang kisah cinta Julio dan Jafar. Menurut kalian yang mana dulu yang harus ditulis? Kisah Julio dulu ataukah kisah Jafar dulu?

***

Huft ... melahkan sekali aktivitas pagi ini padahal yang Anne lakukan hanya olahraga ala Ibu hamil saja, tidak lebih. Mengingat perutnya juga kian membuncit, Anne sering sekali merasa lelah meskipun sudah mengurangi aktivitasnya, sering sekali mengalami mood yang berubah-ubah, menyebalkan sekali memang. Sudah tidak bisa tidur dengan nyenyak, rasanya semua posisi terasa pengap. Tidakkah terdengar setiap helaan napas Anne begitu berat? Hahahah ... untung saja nafsu makannya perlahan membaik, tidak seperti awal kehamilan yang sama sekali tak masuk makanan, ketika dipaksakan maka akan dimuntahkan kembali.

Sesekali Anne mengingat sosok laki-laki yang membuatnya dalam keadaan seperti ini, tapi mungkin kalau tidak berpisah darinya kesusahan selama hamil yang Anne rasakan tak akan sesusah ini. Sudahlah, Anne sudah terlanjur kecewa dengan pria itu.

Mengusap lembut perutnya Anne bergumam, "Tolong jangan ikuti sifat buruk ayahmu itu, ya. Tak apa jika kau mau mewarisi ketampanannya atau kepintarannya. Masih banyak sekali hal baik yang bisa kau warisi darinya, Nak, tapi tolong jangan yang satu itu." Jika teringat lagi dengan Jeff Anne merasakan sesak. Tidak Anne, tidak! Jangan bersedih terus-menerus. Jangan terkubur dalam kubangan air mata melulu, kau harus bahagia. Jika ingin anakmu bahagia dalam perutmu, maka awali semua itu dari kebahagiaanmu. 

Anne menaiki tangga menuju kamarnya untuk mandi. Setelah selesai membersihkan diri dia kembali menuruni tangga dan mendudukan dirinya pada sofa, tapi baru saja menyandarkan punggungnya bel pada pintu utama terdengar menandakan datangnya seorang tamu. Anne berdiri dan berjalan menuju pintu. Anne hanya merasa heran mengapa Ruby minta dibukakan pintu sementara dia memiliki akses untuk keluar masuk semaunya, tapi Anne pikir bahwa tangannya tengah kerepotan karena sesuatu, tapi setelah Anne membukanya  kedua alisnya tertaut merasa heran kedatangan seorang wanita yang tak ia kenal sama sekali. Kalau saja tamu yang didapatinya adalah laki-laki mungkin saja dia akan segera menutup pintunya kembali. Oh, ayolah, Anne takut sekali jika kaki tangan Jeff berhasil menemukannya, padahal Anne sudah sangat keras bersembunyi dari Jeff, tapi lelaki itu dengan mudah menemukannya. Huh ... sia-sia sekali rasanya. 

Wanita itu menatap Anne dengan senyum tulus terukir pada belah bibirnya, meskipun belum ada sepatah katapun terucap dari bibir kedua wanita itu. Anne masih nampak kebingungan sampai akhirnya sang tamu angkat bicara mendahului tuan rumah. "Boleh aku masuk?"

Membeku sejenak, lalu Anne membukakan pintu lebar, "Silakan masuk."

Suasananya teramat sangat canggung ketika dua wanita ini saling bertemu dan duduk bersampingan.

"Aku adalah Ibunya Jeff."

Anne menahan napasnya dengan mengepalkan kedua tangan diatas pangkuannya. Kepala itu tertunduk tanpa mau mengangkat pandangannya untuk melihat sang wanita yang kini telah menjadi Ibunya juga. Detak jantungnya berdegup kencang seolah dia baru saja menyelesaikan lari dari jarak jauh, darahnya berdesir deras menghantarkan rasa panas keseluruh tubuhnya. 

"Maaf aku." Anne menjawab dengan senyuman hangat yang dia sembunyikan dibalik pandangannya yang tertunduk.

Tangannya berubah menjadi dingin dan berkeringat saat wanita yang mengaku sebagai Ibu dari Jeffrey itu menggenggam kepalan tangannya diatas pangkuan. "Maaf ... telah membuatmu takut." Katanya mengusap tangan Anne.

The Savior GirlCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang