A MISSION

212 23 3
                                        

Hallo, Mohon maaf lahir dan batin semua ... semoga kalian dalam keadaan sehat selalu. Maaf menghilang terlalu lama, hehe. 

~ Selamat membaca ~

***

Untuk bisa tahu bagaimana ruang pikir seseorang, tentu kita perlu waktu yang lama untuk berada disisinya. Dalam hubungan, normal rasanya saat dirimu merasa kesulitan tentang sesuatu dan hendak mengadukannya terhadap pasanganmu, tapi semua itu tertahan sebab kau menangkap basah suamimu juga sedang dalam masa sulitnya. Manusia selalu diberi dua pilihan, yang pertama ... kau memilih untuk memuntahkan segala keluh kesah yang membuatmu gelisah ataukah pilihan kedua ... kau menekan egomu untuk tetap membungkam mulutmu dan mengubur segala keluh kesah yang membuat resah itu dalam dadamu dan mulai memasang telinga untuk menjadi pendengar yang baik dan pemberi petuah yang bijak bagi masalah yang dikeluhkan pasanganmu.

Berumah tangga itu tidak hanya tentang tinggal bersama dalam satu rumah yang sama, tapi juga hidup bersama dalam satu rasa yang sama. Perlu bagimu untuk tahu bagaimana reaksi pasanganmu saat tahu bahwa dirimu dalam suasana hati yang buruk dan kau juga perlu menempatkan diri bagaimana harusnya kau bertindak saat mendapati suasana hatinya yang memburuk.

Setelah perjalanan Panjang yang dilalui keduanya, Anne mengambil Kesimpulan bahwa dalam hubungan ini Jeff sering sekali menekan egonya hanya untuk sekedar memberi rasa nyaman untuk dirinya. Tidakkah dalam hubungan ini semua rasa hanya ditanggung seorang diri?

Satu cinta yang dirasa cukup untuk keberhasilan hubungan yang dipadu oleh dua insan. Pria yang secara habis-habisan mendapatkan hujatan dalam isi kepala Anne diawal kisah itu telah menunjukkan perubahan yang mendapatkan sambutan baik dari sang puan. Satu cinta saja cukup untuk keberlangsungan mahligai asmaraloka ini telah menjadi lengkap saat keduanya sudah sama-sama menaburkan cinta yang setara.

Anne singgah dan mendudukkan dirinya di salah satu kursi panjang yang tersedia dibagian taman kampusnya, tangan kanannya menggenggam sebuah buku yang sedang dia jadikan referensi untuk tugasnya dan tangan lainnya menggenggam telepon genggamnya. Hari ini suaminya menjadi sangat cerewet, saat Anne baru saja mendudukkan diri teleponnya sudah berbunyi beberapa kali—pertanda bahwa seseorang tengah mengiriminya sebuah pesan.

Ya, suaminya.

Katanya, "Jam berapa kau akan pulang?" "Apakah sudah makan?" "Apakah mata kuliah hari ini sudah selesai?" Jeff juga menyertakan informasi mengenai dirinya bahwa dia baru saja menyelesaikan meetingnya dengan baik, kalau Anne memintanya untuk menjemput maka Jeff akan menjemputnya saat itu juga.

Anne menjelaskan aktifitasnya setelah menyelesaikan kelasnya hari ini, yaitu membaca sebuah buku di taman sembari menunggu temannya untuk melihat pameran seni bersama.

"Satu burger untuk teman membacamu?" Seorang pria paruh baya menawarkan satu buah burger berukuran sedang kepada Anne yang tengah menunduk membaca buku.

Anne mendongakkan kepalanya untuk melihat siapakah orang yang menawarinya burger. Seolah netranya tak memiliki kemampuan untuk berkedip kembali, pandangan itu terpaku pada sosok paruh baya yang berdiri dihadapannya dengan sebuah senyum tulus, tapi wajah itu membuat detak jantungnya bertalu-talu.

"Bisakah kita duduk bersama untuk waktu yang lama?" Tanyanya kembali, tapi Anne masih membisu. Anne hanya menganggukkan kepalanya dan menggeser posisi tubuhnya untuk mengizinkan pria paruh baya itu duduk disampingnya.

"Tak ingin mencoba burger ini?" Tanyanya lagi.

Anne menerima satu box burger yang ditawarkan untuknya. Anne meletakkannya diatas kedua pahanya dan kembali melirik pria disamping kirinya. Anne bingung untuk memulai pembicaraan atau bahkan sekedar bertanya tentang kabar, terakhir pertemuan mereka membuat suaminya menaruh curiga besar-besaran kepada pria ini.

The Savior GirlCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang