THE BABY IS GONE.

198 18 1
                                        

Selamat malam, selamat membaca.

Maaf belum sempat revisi, revisinya besok aja wkwk.

***

"ANNE!" Pria itu berteriak keras sembari membuka paksa helmnya dan berlari kencang kearah tubuh mungil Anne yang terpental.

Anne tak sempat lagi menolehkan kepalanya entah kearah suara klakson dibunyikan ataukah suara keras Ayah mertuanya yang menggema seolah menghentikan waktu.

Mungkin ... Mungkin saja memang waktu Anne berhenti sampai disini saja.

Tubuhnya terpental jauh, Anne tak sempat melangkah untuk menghindar dari takdir buruknya hari ini. Mobil yang telah menabraknya kembali melaju dengan kecepatan tinggi tanpa mau peduli terhadap tubuh Anne yang tergeletak lemah dengan bersimbah darah.

Telinga Anne berdengung kencang, Anne mendengar satu suara yang membuat rungunya sakit. Mata yang menegadah ke langit itu perlahan mulai memudar. Bagaimanapun keadaannya, seorang Ibu tetap menginginkan hal baik menyertai anaknya, tangan lemah itu masih bisa mengusap perutnya yang buncit, dalam hatinya dia berkata, "Nak ... Percayalah bahwa semua akan baik-baik saja." Setelah itu pandangan gelap merenggut kesadarannya.

"ANNE!" Pria paruh baya itu terus berteriak sembari berlari. "HELP ME, PLEASE!" Dia berteriak meminta bantuan orang-orang disekitar. Gemuruh didadanya semakin kencang kala melihat aliran darah diatas aspal. "Kau boleh menghukumku dengan cara apapun, Anne. bangunlah ... apa yang akan aku katakan pada suamimu nanti? aku tak peduli dia akan membunuhku, tapi jangan menghukumnya dengan kepergianmu. Kumohon bertahanlah, Nak." Air matanya tak bisa dibendung lagi, kepala yang terkulai lemah diatas aspal itu dia simpan diatas tangannya yang penuh dosa.

Dulu, tangan itu sering sekali menyakiti putranya, hari ini tangan itu bersimbah darah saat mengangkat tubuh wanita yang begitu dicintai putranya kedalam sebuah mobil yang akan membawanya ke rumah sakit. Tidakkah tangan yang bersimbah darah ini akan lebih menyakiti putranya? Bisakah siapapun mengabulkan permohonannya untuk membuat Anne dan bayinya dalam keadaan baik-baik saja?

Tak pernah sedetikpun dia tak memohon kepada Anne untuk membuka matanya. "Tolong jangan meninggalkan suamimu, Nak. Aku tak ingin melihatnya menderita lagi. Bagaimana dia bisa melanjutkan hidup saat kau tak lagi mendampinginya, Nak. Tolong ... tolong bagunlah."

"Bukalah matamu, Nak ..." Suara itu semakin terdengar perih. "Suamimu akan segera tiba, lalu apa yang harus aku katakan padanya nanti, Nak." Air mata itu sudah mengalir semakin deras, sama derasnya dengan darah yang mengalir dari tubuh Anne.

***

Pada ruang yang penuh dengan ketenangan, Anne terbaring merajut ingatan diatas ranjang pesakitan. Telapak tangannya mulai berkeringat dengan napas tercekat, setetes air mata itu seolah menenggelamkannya pada sudut terdalam. 

Matanya terbuka lebar, dia melihat setiap sudut yang penuh kehampaan ini, tapi dia merasa gelap. Batinnya bergumam pedih, 'Apakah matanya mengalami kebutaan ataukah ruangan ini memang tidak bercahaya?'

Rasanya Anne pernah merasakan titik kegelapan yang membuatnya gelisah seperti ini, tapi kapan? Otaknya terus menjelajah setiap lembaran kenangan yang pernah dia lewati, sampai kepingan memori itu berhasil Anne ingat. Ya, kegelapan yang membuatnya ketakutan pernah terjadi dalam hidupnya, saat Ayah dan Ibunya meninggal dunia. Lalu siapa yang kembali Tuhan ambil dari sisinya sekarang? Nyawanya sendiri?

"Hai, bagaimana perasaanmu?" 

Pertanyaan itu berhasil merenggut kesadaran Anne yang melalang buana tanpa kejelasan. Anne seperti orang linglung saat melihat Alessandro berada disamping kirinya.

The Savior GirlCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang