HIS GIRLFRIENDS

267 30 0
                                        

~ SELAMAT MEMBACA ~

***

Dalam rangka menyocokkan dua jiwa dan dua kepribadian yang disebut cinta, Jeff dan Anne akan memulai hubungan mereka dari awal. Rencananya, Mansion besar ini akan diambil alih oleh Jafar dan dua pasangan yang sedang merajut bahagia itu sudah dihadiahkan sebuah Penthouses mewah yang tak begitu jauh dari Desimone Group oleh sang Ayah dengan dibekali do'a dan harapan supaya mereka lebih kuat untuk menghadapi badai yang menerjang kapal mereka.

"Sudahlah, aku Lelah sekali." Anne memisahkan diri dari Jeff, Alessandro dan Adam yang tengah bermain tenis di lapangan yang berada dihalaman belakang Mansion.

Bersamaan dengan itu Alessandro juga ikut memisahkan diri dan memberikan putri menantunya selembar handuk kecil untuk mengelap keringat. Keringat yang dihasilkan bukan karena dia berolahraga, tapi karena dia tersorot matahari saja. Diusia kehamilan yang membuatnya susah bergerak seperti ini, tugasnya dilapangan hanya berdiam diri mendampingi Jeff yang sedikit kewalahan melawan Adam dan Alessandro, sementara Anne hanya maju dan mundur saja sesekali berteriak tanpa mau menerima bola.

"Sudah mengemas pakaian, Poetry?"

"Sudah, Dad. Elly melakukannya untukku." Jelasnya sembari menyengir. Seolah Alessandro akan memarahinya perihal terus mengandalkan orang lain untuk pekerjaan sepele, tapi ternyata dua gaya hidup yang disatukan itu memang berbeda sampai akar-akar. Alessandro terbiasa dilayani, sedangkan Anne tidak, maka semua pikiran Anne mengenai Ayah mertuanya itu tidak mendasar. Dia tak akan menilai Anne sebagai menantu pemalas.

"Jangankan suamimu, aku juga akan marah kalau kau mengemas kebutuhanmu seorang diri." Alessandro seolah mengetahui apa arti mimik wajah itu. Berbeda dengannya yang memang terkadang semua pekerjaan dilakukan oleh orang lain, Anne besar dengan melakukan semua hal seorang diri.

Sesi bincang-berbincang antara putri menantu dengan ayah mertua itu berhenti saat tiba-tiba saja sang suami mengambil posisi duduk dikursi tepat disampingnya. Anne memberikan sebotol air mineral dingin dan juga handuk kecil yang masih berada dipangkuannya.

"Sudah berapa lama tak berolahraga, Son? Napasmu terdengar berat sekali."

"Aku baru mulai olahraga lagi setelah seseorang yang dengan tega meninggalkanku kembali pulang." Jeff menatap Anne dengan tatapan mendelik sebal.

"Ey, hentikanlah. Dia menjadi perokok berat lagi, Dad." Anne memukul bahu Jeff.

"Aw." Jeff sontak menahan tangan Anne sebab bahu memarnya terasa sakit Ketika tangan Anne memukulnya.

"Oh, Sorry." Anne baru ingat kalau bahu Jeff memar, Jadi Anne mengusap-usap lembut untuk menetralisir rasa nyeri yang dihasilkan oleh pukulannya barusan.

"Dia berhenti merokok?" Alessandro bertanya remeh.

"Not really, Dad. Dia berusaha menguranginya, tapi beberapa bulan kemarin kembali ke setelan awal." Mulut Anne mengerucut saat mengungkap kekesalan itu.

"Niatmu setengah-setengah, Son."

"Sekarang serius, Dad." Kata Jeff sembari mencium perut buncit Anne. Seolah-olah kelakuannya memberi sebuah penjelasan bahwa dia tak ingin menjadi seorang Ayah egois yang membahayakan anak-anaknya.

"Bagaimana keadaan Jafar? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Alessandro mengalihkan pembicaraan.

"Hm." Gumam Jeff tanpa mau menjawab lebih.

"Kau saja memar seperti itu, bagaimana dengannya?"

Sebelum Jeff membuka suara untuk menjawab pertanyaan sang Ayah, kehadiran pria yang membuat Jeff mendesah sebal itu turut membuatnya diam seribu Bahasa.

The Savior GirlCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang