~ SELAMAT MEMBACA ~
***
Sudah lebih dari dua minggu ini keadaan kantor seperti sebuah pusara ditengah malam. Sepi, sunyi dan mencekam. Sang bos hanya berbicara seadanya—kalau dia berbicara lebih itu artinya dia sedang memarahi karyawan.
Keadaan tegang seluruh karyawan berhasil mencuri perhatian Julio yang baru saja datang. Seluruh karyawan berdiri menyambutnya, tapi kepala yang tertunduk itu seolah meminta pertolongan.
"Terjadi sesuatu?" Tanya Julio kepada seorang Wanita muda dengan setumpuk berkas dipelukannya, wanita itu nampak sedang berjalan kesana kemari tanpa tujuan. Julio menunjuk lift khusus untuk karyawan yang sudah terbuka dihadapan sang Wanita.
"Huh?" Wanita itu malah tambah bingung, ruang dengan full AC ini tak bisa menghentikan keringat yang membasahi dahinya.
"Ingin ikut lift-ku?" Tanya Julio menawarkan kebaikan, tapi wanita itu menggeleng cepat.
Julio menekan tombol lift dari dalam dan menghiraukan karyawan yang sedang kebingungan itu.
Mendudukkan diri didepan ruang sang sekretaris pribadi Jeff tanpa mau masuk terlebih dahulu ke ruang si Boss yang memiliki kuasa penuh.
TING!
Julio pikir yang keluar dari dalam lift adalah asisten pribadinya, tadi Julio memerintahkan asisten pribadinya untuk mengambilkan breakfast box dan secangkir kopi untuk mengisi perutnya pagi ini, tapi yang keluar dari sana adalah karyawan yang tadi kebingungan.
Julio mengangkat satu alisnya seolah bertanya, tapi Julio hanya memedulikan perutnya yang terasa lapar saat ini sehingga dia langsung mengambil breakfast box dan segelas kopi dari tangan asisten pribadinya lalu melangkahkan kakinya kearah ruangan Jeff.
"Tunggu." Teriakan seorang Wanita menghentikan langkahnya.
Julio berhenti tanpa mau menoleh.
"Maafkan aku. Can you help me, Sir ... Please." Sorot mata penuh ketakutan dengan wajah penuh kekalutan berhasil mencuri perhatian Julio untuk sekedar menoleh.
"Pagi-pagi sekali aku mengantarkan berkas yang perlu ditandatangani oleh Tuan Jeff, tapi beliau melemparnya dihadapanku dan memarahiku hanya karena sedikit kesalahan."
"Katakan intinya, aku tak ingin mendengarkan cerita malangmu pagi ini." Beban yang ditanggung Julio semenjak kepergian Anne saja bertambah menjadi ganda, rasanya tak mungkin menampung segala keluh kesah semua karyawan. Bisa mati muda pikirnya.
Wanita itu Nampak menenangkan diri, sebetulnya meminta pertolongan pria dihadapannya juga perlu nyali besar. "Bisakah kau mewakilkanku untuk meminta tanda tangan Tuan Jeff, Tuan? Aku sudah tak memiliki nyali."
Tanpa basa-basi Julio menarik semua berkas itu dan masuk kedalam ruangan Jeff.
Keadaan didalam sangat membuat kepala Julio berdenyut ngilu. Pria yang duduk dikursi kebesarannya itu berusaha melupakan keadaan yang membuatnya pilu dengan bekerja tanpa mengenal Lelah.
"Kau tidur dikantor semalam?" Tanya Julio memastikan saat melihat kemeja dan dasi acak-acakan yang dikenakan Jeff—seingatnya itu kemeja dan dasi yang kemarin dipakainya.
"Aku tidak tidur. Jafar meninggalkan tanggung jawabnya dan memilih untuk berkhianat." Rahang itu terlihat mengaras Manahan amarah.
Julio membuka breakfast box dan menawarkannya pada Jeff terlebih dahulu. "Setidaknya makan sedikit saja sebelum kita memulai untuk membicarakan persoalan tentang Jafar. Dia menghubungiku semalam."
KAMU SEDANG MEMBACA
The Savior Girl
RomansaMenikah dengan Jeffrey Hill Desimone adalah sebuah pilihan yang berhubungan dengan kelangsungan hidup Ranée Shelva Malik. Ini hanya tentang asmaraloka yang tak sempurna. Tentang peliknya kasih dalam kisah. Tentang sebuah romansa yang mendamba bahagi...
