-Hurt-
ʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞ
Satu bulan berlalu, setelah kejadian malam itu baik Aeri maupun Jeno memilih sama-sama menutup rahasia mereka rapat-rapat.
Aeri memilih menuruti kata-kata Jeno yang memintanya untuk melupakan kejadian malam itu.
Dan ya ngomong-ngomong soal Jeno, laki-laki itu kini sudah bersetatus sebagai pacar sahabatnya sendiri. Ya, siapa lagi jika bukan Karina. Ntah kapan mereka mulai dekat Aeri pun tidak tahu pasti.
Sebenarnya Aeri ingin sekali membongkar kebusukan laki-laki bejat itu, namun Aeri tak tega melihat sahabatnya yang terlihat sudah benar-benar jatuh pada laki-laki brengsek yang sudah merenggut kesuciannya.
Aeri menatap sendu Karina yang saat ini sedang duduk bermanja di samping Jeno.
"Hei kenapa melamun begitu?"
"Mark? kau sudah masuk?"
"Seperti yang kau lihat, aku tidak kuat jika harus berlama-lama di rumah"
Aeri mengerutkan dahinya, "kenapa? kau kan sedang sakit, bukan kah akan lebih baik jika beristirahat di rumah?"
"No, aku bahkan rasanya semakin sakit" Mark memasang wajah sedih
"Kenapa bisa begitu?"
"Karena aku tak melihatmu, rasanya ada yang kurang. Mood ku jadi tidak baik"
Aeri terkekeh, rasanya sudah sangat terbiasa mendapat perlakuan seperti itu dari Mark.
"Kau ini ada-ada saja"
"Aku serius Aeri, memang seperti itu"
Aeri menggeleng dan mengeluarkan bekal yang sudah di siapkan ayahnya.
"Woahh kau mambawa apa hari ini?" tanya Mark
"Ntahlah, appa yang menyiapkannya tadi"
"Ayo cepat buka, aku juga mauu"
Aeri mendengus, ia memang sudah terbiasanya membagi bekalnya dengan Mark.
Walaupun Mark juga sering membawa bekal namun tak pernah ia makan, ia akan memberinya pada temannya.
Ah ya satu lagi, semenjak kejadian malam itu Jeno memilih kembali ke rumah dan mencoba memperbaiki dirinya. Banyak yang berubah setelah kejadian kemarin, Donghae mulai sedikit luluh pada Jeno karena anaknya itu banyak sekali berubah.
Aeri membuka bekalnya dan matanya berbinar saat melihat coocies coklat kesukaannya di sana.
"Kelihatannya enak" ucap Mark
"Kau ingin coba?" tanya Aeri
"Tentu saja, tapi seperti biasa suapi aku" Mark tersenyum memamerkan deretan giginya
Aeri tak keberatan dengan itu, jujur saja selama ini Mark selalu terang-terangan mendekati Aeri dan Aeri tak sebodoh itu sekarang soal perasaan.
Aeri mengambil satu coocies dan menyodorkannya di hadapan Mark, "ayo buka mulut mu"
Mark tersenyum dan membuka mulutnya, hampir saja Mark dapat memakan coocies coklat milik Aeri sebuah tangan lebih dulu menarik tangan Aeri.
KAMU SEDANG MEMBACA
HURT || Jenselle
Fanfictionaku tak pernah menyesal karena memberi seluruh hatiku padamu -Kim Aeri kau mengisi ruang kosong di hatiku dengan sempurna -Lee Jeno
