-HURT-
ʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞ
Gerbang besi bercat hitam dengan ukiran lambang keluarga Kim terbuka perlahan. Jalan berbatu menuju pemakaman keluarga itu diteduhi oleh pohon maple tua yang berguguran. Lokasi ini tidak terbuka untuk umum. Di balik pagar tinggi dan penjagaan ketat, hanya nama-nama tertentu yang diizinkan masuk.
Lee Jeno adalah salah satunya. Dengan perjuangan yang tidak mudah, ia pernah datang sendiri ke kantor Jongin, pria yang dulu adalah ayah mertuanya, sekaligus dalam konteks paling pedih—kakek dari anak yang tak sempat hidup.
Kala itu, Jeno memohon. Ia tidak meminta tahu keberadaan Aeri, tidak juga meminta pengampunan. Ia hanya ingin satu hal yaitu agar diizinkan menengok anaknya setiap kali ia merasa kehilangan.
Dan sejak hari itu, ia tak pernah absen.
Jeno berhenti di depan satu batu nisan kecil, marmer putih dengan pahatan yang sederhana.
Lee Jeohan.
Ia menghela napas, lalu berlutut perlahan. Dalam genggamannya, satu buket baby's breath yang segar.
"Annyeong Jeohanie" ucapnya pelan
"Papa datang sedikit terlambat, minggu ini penuh rapat dan proyek. Tapi papa tetap datang, seperti biasa"
Ia menatap nisan itu sejenak lalu tersenyum samar, "Papa tau kau pasti bosan mendengar cerita yang sama. Tentang kantor, tentang kehidupan dan tentang... papa yang masih tidak berubah"
Ia menyentuh batu nisan itu dengan jemari yang ragu.
"Tapi hari ini papa tidak mau membahas soal kantor atau pekerjaan, papa hanya ingin bercerita soal perasaan yang belum selesai"
Suara Jeno menurun, lebih pelan.
"Kau tahu, papa dulu takut sekali jadi ayah. Tapi waktu lihat hasil USG itu... papa pikir semua itu tidaklah buruk. Papa merasa kembali memiliki arah"
Ia menarik napas panjang, matanya mulai berkaca.
"Tapi arah itu hilang. Dan kau... pergi terlalu cepat"
Hening. Ia menunduk lama.
"Kadang papa marah. Kadang menyesal. Kadang hanya duduk diam berjam-jam di sini, menunggu keajaiban kau bisa bicara" Senyumnya pahit
"Tapi papa juga belajar, Jeohan. Bahwa beberapa hal tidak untuk dimiliki, hanya untuk dihargai"
Ia berdiri perlahan, merapikan bunga, dan menatap batu nisan itu terakhir kalinya hari ini.
"Kalau nanti kita bertemu lagi... papa ingin peluk Jeohan. Meskipun hanya untuk satu detik"
Langkahnya mulai menjauh. Ia berjalan menuju gerbang dengan langkah berat. Tapi belum lama ia menghilang di balik bayangan pohon maple, seseorang datang dari arah berlawanan.
Seorang penjaga gerbang berucap singkat ke radio kecil di sakunya, "mobil Lee Jeno baru saja keluar"
Beberapa menit kemudian, satu mobil hitam lain berhenti di depan gerbang.
Dari dalamnya, Giselle keluar perlahan.
Ia berdiri sebentar di depan gerbang, seolah meragukan langkahnya sendiri.
"Nama saya Kim Aeri" ucapnya tegas ke penjaga, "saya ingin masuk"
Penjaga membungkuk ringan, "silakan nona"
Langkahnya pelan, tapi mantap. Tangannya menggenggam erat bunga lili putih. Nafasnya berat, dan matanya tidak bisa diam memandang setiap batu nisan yang dilewatinya. Ia belum pernah kembali ke sini.
KAMU SEDANG MEMBACA
HURT || Jenselle
Fiksi Penggemaraku tak pernah menyesal karena memberi seluruh hatiku padamu -Kim Aeri kau mengisi ruang kosong di hatiku dengan sempurna -Lee Jeno
