-HURT-
ʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞ
Langit siang itu terang, tapi tidak terlalu panas. Lokasi pemotretan berada di sebuah galeri industrial di distrik Yeonnam-dong, bangunan bekas pabrik yang diubah menjadi ruang seni dengan sentuhan minimalis dan jendela kaca besar yang membiarkan cahaya alami menyusup masuk.
Suasana di dalam ramai namun terkendali. Kru berdiri di belakang kamera, penata rias memoles ulang sisi wajah sang model, dan stylist memeriksa gaun putih elegan yang jatuh sempurna di tubuh ramping Uchinaga Giselle.
Di sisi kanan ruangan, berdiri tiga orang penting dari pihak NovaTech, Lee Jeno, Ning Yizhuo dan dua staf kreatif internal mereka. Jeno mengenakan kemeja abu gelap dengan jas tipis navy, rambut tersisir rapi, wajah netral. Tapi matanya tidak pernah benar-benar fokus ke monitor preview.
Ia lebih sering mencuri pandang ke arah panggung pemotretan, ke satu sosok yang begitu dikenalnya, tapi sekarang terasa asing.
Namun setiap kali kedua mata itu bertemu, Jeno cepat-cepat berpaling. Menatap tablet di tangannya, memberi komentar soal pencahayaan yang sudah sempurna padahal dari tadi ia tidak benar-benar melihat apa pun.
Sementara itu, Ningning berdiri di sampingnya, clipboard elektronik di tangan, suara pelan tapi jelas saat menyebutkan durasi pengambilan gambar, urutan wardrobe, dan jadwal revisi.
"Set selesai jam tiga. Lalu kita punya waktu 45 menit untuk meeting preview besok"
Jeno hanya mengangguk.
Ningning mencatat cepat, lalu menoleh sesaat.
Ia memperhatikan bagaimana mata Jeno melirik Giselle, dan bagaimana Giselle tidak pernah benar-benar tersenyum sepanjang sesi.
Diam-diam, ia menggeser posisi sedikit lebih dekat ke Jeno, seolah membentuk pagar tak terlihat. Setiap Jeno terlihat terlalu lama menatap satu arah, Ningning akan bertanya.
"Menurutmu, backdrop ini perlu diganti untuk sesi selanjutnya?"
Atau,
"Kalau masuk ke market Eropa, tone ini terlalu terang, kau setuju?"
Jeno akan menjawab, mencoba tetap rasional. Tapi matanya tetap gelisah.
Di sisi lain ruangan, Woonbin berdiri diam. Ia seperti patung penjaga di balik kru, namun tidak satu gerakan pun dari Giselle yang luput dari perhatiannya.
Ia tahu cara Giselle bicara dengan fotografer sedikit terlalu pendek. Ia tahu nafasnya lebih berat dari biasanya saat diberi intruksi untuk berganti pose. Dan ia tahu Giselle sedang berperang dengan dirinya sendiri.
Setelah sesi selesai, Giselle duduk di ruang ganti, membuka sepatu hak tinggi dan memijat pergelangan kakinya. Napasnya terengah, bukan karena lelah fisik, tapi karena terlalu banyak yang ditahan.
Pintu diketuk sekali, lalu terbuka. Woonbin masuk.
"Kau lupa makan," ucapnya singkat menyodorkan botol air dan energy bar
Giselle menerima, "terima kasih"
Ia duduk di sofa seberang, lalu menatap Giselle dalam diam.
"Kau yakin masih ingin melanjutkan kerja sama ini?"
Giselle tidak langsung menjawab.
"Ini bukan soal profesionalitas lagi, Aeri. Setiap kali kau menatapnya, aku bisa lihat kau pecah sedikit demi sedikit"
KAMU SEDANG MEMBACA
HURT || Jenselle
Fiksi Penggemaraku tak pernah menyesal karena memberi seluruh hatiku padamu -Kim Aeri kau mengisi ruang kosong di hatiku dengan sempurna -Lee Jeno
