-Hurt-
ʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞ
Sinar matahari mulai masuk melewati lubang fentilasi. Aeri yang mulai terganggu kini perlahan membuka mata cantiknya.
"Kau sudah bangun?"
Aeri melirik tepat di sisi ranjang, terlihat Jeno kini tengah duduk dan sudah rapih dengan seragam sekolahnya.
"Jen jam berapa sekarang?"
"7 pagi"
Aeri melebarkan matanya, "7 PAGI??"
"Hei hei tenanglah, pergilah mandi dan setelah itu sarapan. Aku sudah memasak untuk kita" Jeno tersenyum dan pengusak kepala Aeri
Aeri sempat terdiam tentu saja, mengingat mereka kemarin masih bertengkar. Bagimana bisa Jeno berubah secepat ini? ia bahkan belum meminta maaf pada Jeno, tapi–
"Memikirkan apa hm? cepatlah bangun, kita akan terlambat nanti"
Aeri menggeleng pelan, "b-baiklah"
Aeri kemudian beranjak turun dari ranjang dan pergi untuk membersihkan dirinya.
Di meja makan Aeri hanya mampu terdiam saat Jeno dengan telaten menyiapkan beberapa makanan untuk sarapan mereka pagi ini.
"J-jen kau sudah bangun sejak kapan?" tanya Aeri
"Aku bangun jam 5 pagi sayang"
"Kenapa tidak membangunkan ku saja? aku bisa memasak untuk mu Jen, itu tugasku"
"Apa suami tidak boleh memasak untuk istrinya?"
"Bukan seperti itu Jen, aku hanya-"
"Sayang sudahlah, lagipula aku tidak setiap hari melakukan ini. Aku tadi tidak tega membangunkan mu, jadi kupikir akan lebih baik memasak sarapan sendiri saja"
Jeno memilih duduk si sebelah Aeri dan mulai melahap makanan yang ia masak.
"Ini tidak buruk, sayang cobalah"
Aeri mengangguk dan ikut memakan masakan suaminya.
"Bagaimana? kau suka?" tanya Jeno antusias
Aeri mengangguk semangat, "Ini enak!"
Jeno tersenyum senang, ia sedikit mengacak surai Aeri gemas, "habiskan ya"
"Eung! aku akan habiskan semuanya"
Aeri sangat senang melihat Jeno nya sudah kembali seperti biasanya. Walau tidak di pungkiri jika di dalam hatinya seperti ada yang mengganjal, namun Aeri berusaha mengabaikannya. Mungkin ia kan bertanya pada Jeno nanti, sekarang Aeri hanya perlu menikmati moment manis ini.
•
•
"Karina sakit? tapi kemarin terlihat baik-baik saja" Aeri bergumam
"Hei sakit itu tidak bisa di prediksi Riri-ya" ucap Mark
Aeri menoleh, "aku tidak bicara denganmu!"
KAMU SEDANG MEMBACA
HURT || Jenselle
Fanfictionaku tak pernah menyesal karena memberi seluruh hatiku padamu -Kim Aeri kau mengisi ruang kosong di hatiku dengan sempurna -Lee Jeno
