-HURT-
ʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞ
Pagi itu, langit Seoul tampak cerah dengan semburat biru yang bersih, pertanda musim dingin mulai mereda perlahan. Di gedung tinggi milik NovaTech, suasana kantor dipenuhi oleh hiruk-pikuk rutinitas hari Senin yang sibuk. Pegawai berlalu-lalang, laporan bulanan bertumpuk di meja, dan suara sepatu hak terdengar berpadu dengan ketukan keyboard dari berbagai sudut.
Jeno duduk di ruang rapat utama lantai sebelas, mengenakan setelan gelap yang rapi dengan dasi warna navy. Di hadapannya, layar proyektor menampilkan proposal kerja sama dari salah satu perusahaan fashion global yang sedang naik daun di pasar Asia.
"Brand ini menarik secara positioning" ujar tim pemasaran
"Mereka cukup eksklusif, punya kredibilitas kuat di Eropa, dan baru saja buka cabang regional di Tokyo dan Shanghai. Jika kita bisa menjalin kerja sama promosi, visibilitas produk kita bisa meningkat signifikan" sambungnya
Jeno menatap layar dalam diam. Ia menyilangkan tangan di dada, memperhatikan tiap poin dalam presentasi yang sedang berjalan.
Di sisi kanan ruangan, Ningning duduk dengan iPad di pangkuannya, mencatat dan sesekali mengangguk. Namun saat nama brand utama ditampilkan di ekspresinya berubah sedikit.
"OISEAUX dengan Uchinaga Giselle sebagai ikon utama mereka saat ini. Sangat selektif dalam proyek, tapi pengaruhnya luar biasa. Jika kolaborasi ini berhasil, kita otomatis terhubung dengan jangkauan pasarnya"
Ningning menurunkan iPad pelan, ia menoleh ke arah tim presentasi.
"Maaf, saya ingin mengajukan catatan keberatan untuk poin ini" ujarnya
Beberapa kepala menoleh, Jeno pun mengangkat alis sedikit, "silakan"
Ningning duduk tegak, suaranya tetap tenang dan profesional.
"Dari sisi manajemen risiko, kolaborasi dengan brand se-eksklusif itu bisa jadi kontraproduktif. Image mereka terlalu terbatas dan cenderung menutup diri dari proyek-proyek lokal. Kita butuh eksposur yang fleksibel dan adaptif untuk pasar Asia Tenggara dan Timur. Kalau mereka terlalu membatasi media, campaign kita bisa kehilangan momentum"
Tim presentasi saling berpandangan, tampak mempertimbangkan.
"Tapi secara popularitas-"
"Popularitas tidak selalu berarti relevansi jangka panjang" potong Ningning cepat tapi tetap sopan
"Apalagi duta mereka sangat tertutup, dan akan sulit jika kita ingin kolaborasi aktif, seperti campaign interaktif atau video promosi dua arah" lanjutnya
Jeno mengangguk pelan,"kau menyarankan kita pertimbangkan alternatif?"
"Betul, ada beberapa nama lain yang sedang berkembang, lebih fleksibel secara kontrak, dan bisa kita arahkan sesuai kebutuhan brand positioning kita. Saya bisa siapkan daftar evaluasi perbandingan jika dibutuhkan" jawab Ningning
Ruang rapat kembali tenang. Jeno tidak langsung memberi keputusan. Ia hanya menatap layar dengan ekspresi netral.
"Baik, kita hold dulu keputusan ini. Buatkan analisis alternatif, dan siapkan bahan untuk evaluasi internal pekan ini" ucap Jenk akhirnya
Ningning mengangguk, "akan saya tindak lanjuti hari ini"
Rapat selesai beberapa menit kemudian. Tim keluar satu per satu, meninggalkan ruangan dengan dokumen di tangan. Setelah ruangan benar-benar kosong, Jeno masih duduk di kursinya, kedua tangan bertaut di atas meja. Sorot matanya tetap tertuju pada layar proyektor yang kini mulai meredup, namun bayangan nama itu, Uchinaga Giselle masih tergambar jelas di benaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
HURT || Jenselle
Fanfictionaku tak pernah menyesal karena memberi seluruh hatiku padamu -Kim Aeri kau mengisi ruang kosong di hatiku dengan sempurna -Lee Jeno
