55

326 59 8
                                        

-HURT-

ʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞ

Salju tipis menyelimuti atap vila putih di pinggiran pegunungan Montreux. Udara pagi begitu bersih, sunyi, dan hampir terlalu sempurna untuk disebut nyata. Di balkon lantai dua, seorang perempuan berdiri mengenakan dressing gown sutra berwarna sage, rambut panjangnya dibiarkan tergerai dengan gelombang alami.

Uchinaga Giselle.

Dunia mengenalnya sebagai wajah eksklusif merek-merek mewah Eropa. Ia tidak pernah tampil di publik tanpa alasan. Tidak pernah muncul di acara seremonial yang tidak perlu. Bahkan kontraknya mencantumkan syarat tidak lebih dari lima pemotretan per tahun, tidak ada wawancara pribadi, dan tidak ada eksposur media di luar kontrol manajemennya.

Giselle hidup dalam keheningan yang dirancang.

Pagi itu, ia menyelesaikan jadwal fitting dengan rumah mode asal Paris. Semua berlangsung sesuai protokol, tidak ada tawa, tidak ada basa-basi. Hanya pekerjaan yang rapi, terukur, dan dingin seperti udara pegunungan di belakang jendela vila. Setiap langkah, setiap gerakan, setiap ekspresi wajahnya sudah dipelajari dan dikalkulasi.

Namun, di balik semuanya, ada sisa masa lalu yang tidak bisa benar-benar dikubur. Sesekali, saat cermin memperlihatkan refleksi dirinya, Giselle masih bisa melihat bayangan seorang gadis muda dengan luka, dengan tangis, dengan kekecewaan yang terlalu dalam untuk dijelaskan. Ia tidak lagi menangis sekarang, tapi bukan berarti ia sembuh.

Kini, tujuh tahun telah berlalu sejak terakhir kali kakinya menginjak tanah Korea. Ia tidak berniat kembali. Setidaknya, bukan sampai satu panggilan dari ayahnya membuat segalanya berubah.

Jongin tidak memaksanya. Pria itu bukan tipe yang menuntut atau menggenggam terlalu erat. Ia hanya berkata, "Jika kau punya waktu, pulanglah. Aku terlalu lelah untuk terbang ke sana"

Dan kali ini, Giselle tidak menolaknya.

Bukan karena rindu. Tapi karena bagian dirinya tahu ada hal-hal yang perlu ditatap kembali, agar ia bisa benar-benar melangkah ke depan.

Bandara Internasional Incheon sore itu tidak terlalu padat. Cuaca mendung menggantung di atas terminal kedatangan, seolah menyambut kedatangannya dengan warna yang nyaris senada dengan hatinya.

Langkah Giselle ringan namun tegas, diapit oleh dua staf manajemen dan satu pria yang berjalan sedikit di belakangnya. Rambut panjangnya ditata rapi, dan kacamata hitam besar menutupi sebagian besar wajahnya. Meski tanpa ekspresi, auranya menarik perhatian beberapa orang yang lalu-lalang di area VIP. Ia tidak berbicara sepanjang jalan, tidak juga melirik ke arah sekitar. Dunia luar bukan sesuatu yang ingin ia sapa hari ini.

Tidak ada yang menyadari bahwa perempuan itu pernah menjadi bagian dari cerita lama yang ditinggalkan tujuh tahun lalu.

Woonbin berjalan pelan di belakang, memindai sekitar dengan tenang. Ia tidak mengenakan seragam resmi, hanya jas panjang abu-abu dan syal hitam yang dililit sederhana. Namun sorot matanya cukup tajam untuk membuat siapa pun berpikir dua kali sebelum mendekat.

Begitu memasuki mobil, suasana hening menggantung selama beberapa menit. Hanya suara mesin dan lalu lintas ringan di luar jendela yang terdengar samar.

"Apa halmoni masih sering merawat bunga di halaman belakang?" tanya Giselle tiba-tiba, suaranya nyaris pelan

Woonbin menoleh sedikit, "masih, setiap pagi. Dia bilang, itu satu-satunya hal yang membuat hari-harinya terasa tetap sama"

Giselle mengangguk kecil. Ia menoleh ke luar jendela lagi, menatap samar bayangan gedung-gedung tinggi yang mulai menghilang seiring mobil bergerak menjauh dari pusat kota.

HURT || Jenselle Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang