54

287 57 6
                                        

-HURT-

ʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞ

Langit di atas Seoul sudah pekat. Lampu-lampu pencakar langit menyala gemerlap, memantulkan cahaya ke jendela-jendela besar di lantai 42 sebuah gedung modern.

Di balik salah satu jendela itu, seorang pria duduk membelakangi pemandangan kota. Jasnya masih rapi, tapi dasi sudah dilonggarkan. Kemeja putihnya sedikit kusut, dan secangkir kopi hitam di meja kecil di sampingnya sudah dingin sejak dua jam lalu.

Lee Jeno.

Wajahnya terpampang di majalah bisnis internasional, dan perusahaan rintisannya-NovaTech baru saja memenangkan penghargaan sebagai start-up teknologi terbaik Asia. Tapi ruangan itu tetap sunyi. Terlalu sunyi.

Hanya terdengar detak jam dan suara notifikasi email dari layar laptopnya. Tapi Jeno tidak menatap layar. Pandangannya justru kosong, tertuju pada langit malam yang tak menunjukkan apa pun.

Usia dua puluh empat seharusnya jadi masa paling bebas dalam hidup. Tapi bagi Jeno, kebebasan hanya terasa seperti ruangan besar yang terlalu sunyi.

Tujuh tahun.

Tujuh tahun sudah berlalu sejak semuanya runtuh. Sejak Aeri pergi. Sejak Jeno berdiri sendirian di tengah perasaan yang tak pernah selesai.

Jeno meraih dompet kecil di laci meja kerjanya. Di balik kartu-kartu dan foto keluarga, tersempil satu potongan kecil foto yang sudah mulai pudar warnanya.

Aeri.

Ia menyentuh sudut foto itu dengan ibu jarinya. Bibirnya tertarik membentuk senyum samar, tapi tidak pernah selesai.

Ia sudah mencarinya ke mana-mana. Jeno sudah menghubungi semua koneksi yang ia punya. Bahkan membayar tim pencari informasi profesional, menggunakan segala sumber daya yang ada. Tapi Aeri seperti ditelan bumi. Tak ada nama, tak ada alamat, tak ada jejak. Semua lenyap begitu saja.

Dan setiap kali ia mencoba berhenti... ada bagian dari dirinya yang justru menjerit lebih kencang.

Tok. Tok.

Pintu ruangannya diketuk pelan.

"Masuk" ucapnya singkat

Mark melongokkan kepala ke dalam. Senyumnya masih sama seperti dulu, cerah dan hangat.

"Masih di sini juga?" tanyanya

"Ada laporan yang harus dicek" jawab Jeno seadanya

Mark saudara kembarnya, masuk sambil menyandarkan tubuhnya di meja rapat kecil di pojok ruangan.

"Besok ada reuni kecil anak anak. Haechan, Jaemin, Renjun akan datang"

Jeno tidak merespon.

"Kau tahu, mereka semua pelan-pelan mulai kembali ke versi terbaik mereka"

Jeno hanya mengangguk kecil.

"Kalau kau berubah pikiran, datanglah. Meskipun hanya sebentar. Kau butuh istirahat dari pencarianmu itu"

Mark keluar tanpa menunggu jawaban.

Jeno kembali menatap langit malam. Tangannya meraih foto kecil itu lagi, lalu menyelipkannya kembali ke dalam dompetnya. Hatinya sesak, tapi ia sudah terbiasa dengan rasa itu.

Setelah Mark pergi, Jeno menatap layar laptopnya selama beberapa detik sebelum akhirnya membuka folder rahasia yang hanya bisa diakses dengan sidik jarinya.

Di dalamnya ada puluhan file, nama-nama, laporan pergerakan, dan hasil pencarian orang hilang.

Salah satunya masih menyala hijau-status: open case.

HURT || Jenselle Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang