65

511 46 15
                                        

-HURT-

ʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞ

Hari itu, langit mendung tapi hangat. Sesi studio berjalan ringan, hanya revisi dari pemotretan hari sebelumnya. Tak banyak keributan, tak banyak tekanan. Tapi tetap saja, ada satu hal yang mengganggu benak Giselle sejak pagi.

Tidak ada kabar dari Jeno.

Tidak pesan. Tidak pula kemunculan di lokasi.

Giselle tidak menanyakan. Tidak pula terlihat resah secara terang-terangan. Tapi hal itu cukup membuatnya merasa kehilangan mungkin? ntahlah hanya Giselle yang tahu isi hati dan pikirannya sediri.

Semuanya berjalan seperti biasanya hingga tak terasa warna yang semula biru kini sudah sedikit menunjukan rona jingganya.

Langit sore menggantung sendu. Cahaya matahari yang mulai turun menimpa aspal parkiran dengan lembut, menyisakan nuansa tenang dan sedikit temaram. Giselle melangkah santai keluar dari gedung setelah sesi revisi pemotretan yang singkat. Rambutnya diikat seadanya, tas disampirkan di bahu dan ekspresi wajahnya seperti biasa, tenang tapi tidak sepenuhnya damai.

Namun langkahnya terhenti.

Di ujung parkiran, tepat di samping mobil hitam yang sangat ia kenal, berdiri seorang pria dengan tangan bersedekap, menyender santai sambil menatap ke arahnya. Senyum kecil muncul begitu mata mereka bertemu.

"Hai" sapa Jeno pelan seperti seseorang yang sudah menunggu cukup lama

Giselle tertegun sejenak. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Menunggumu"

"Aku tidak ingat pernah membuat janji?" Giselle mengangkat sebelah alisnya

"Memang tidak" jawab Jeno santai. "Tapi aku harap kau tidak keberatan kalau aku membuat kejutan"

Giselle menatapnya sekilas lalu kembali melangkah. "Aku sedang ingin pulang lebih awal. Jadi kalau kau ingin bicara bisa lain waktu"

"Aku tau" Jeno menyusulnya pelan. "Tapi aku juga tau kau tak punya rencana penting malam ini"

Langkah Giselle terhenti. Ia menoleh, menatap Jeno dengan ekspresi setengah lelah, setengah penasaran. "Jadi?"

Jeno tersenyum sedikit lebih lebar. "Ikut denganku"

"Kemana?"

"Tempat yang tenang. Aku butuh udara segar dan kupikir kau juga sama"

Giselle menatap pria itu tanpa kata selama beberapa detik. Ada sesuatu di tatapan Jeno sore itu, bukan paksaan, bukan rayuan, tapi sejenis harapan tenang yang membuat dada sesak tanpa alasan.

"Kau hanya ingin jalan-jalan?" tanyanya datar

"Ya. Hanya jalan-jalan, aku tidak sedang mencoba apa-apa"

"Kau yakin?"

Jeno tertawa pelan. "Aku berusaha keras menjaga diriku tetap waras Giselle, kalau aku berniat macam-macam kau pasti sudah menamparku sejak tadi"

Giselle akhirnya tersenyum kecil, entah kenapa.

"Beri aku waktu dua jam" kata Jeno lagi. "Setelah itu, kau bisa memutuskan mau pulang atau tidak"

"Mobilmu bersih?"

Jeno menaikkan sebelah alis. "Sangat bersih"

"Kalau begitu... aku ikut"

Jeno buru-buru membuka pintu mobil untuknya, tapi Giselle menatapnya geli. "Aku masih bisa membuka pintu sendiri"

"Maaf sudah jadi kebiasaan lama" jawab Jeno dengan ekspresi tak bersalah

HURT || Jenselle Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang