-Hurt-
ʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞ
Jeno dan juga Haechan membawa Aeri ke klinik terdekat dari lokasi mereka. Haechan yang menyetir dan Jeno menemani Aeri di bangku penumpang belakang.
Jantung Jeno berdetak cepat saat Aeri yang terus merintih sembari memegangi perutnya. Bulir-bulir peluh membanjiri wajah cantiknya karena terus menurs menahan sakit.
"J-jen shhh... b-bayinya.."
"Dia akan baik-baik saja, aku yakin. Tolong bertahanlah sebentar lagi, kita akan segera sampai. Kumohon bertahanlah sebentar lagi" Jeno menggenggam tangan Aeri
Mobil berhenti, Jeno segera keluar dan menggendong Aeri masuk ke dalam klinik.
Tepat saat pintu pemeriksaan tertutup Jeno mengacak rambutnya frustasi.
"Jen tenanglah, Aeri akan baik-baik saja" Haechan mencoba menenangkan Jeno
"Chan kau lihat tadi kan? dia merintih sembari memegangi perutnya, kau lihat kan?? bagaimana aku bisa tenang??"
"Jen kau seperti ini juga tidak akan menyelesaikan masalah!! lebih baik kau duduk dan tenangkan dirimu. Kita sama-sama berdoa agar tuhan menjaga istri dan calon anak mu" ucap Haechan
Jeno pasrah dan akhirnya mendudukan dirinya di kursi tunggu sembari di dampingi oleh Haechan.
Jeno menutup matanya dan menyatukan kedua tangannya sembari merapalkan doa untuk keselamatan Aeri dan juga bayi mereka.
Itu semua tak lepas dari perhatian Haechan. Dari kejadian ini ia dapat menyimpulkan jika Jeno memang begitu ketakutan.
drtttt
Haechan menatap ponselnya dan terdapat panggilan masuk dari Mark.
"Jen, Mark telepon"
Jeno membuka kedua matanya dan menoleh pada Haechan.
"Angkat saja"
Haechan mengangguk dan langsung mengangkat panggilan dari Mark.
"Ya Mark ada apa?"
"Haechan apa kau tau dimana Jeno?"
Haechan melirik pada Jeno dan Jeno dengan sigap mengambil ponsel milih temannya itu.
"Ya dia bersama ku"
Sempat tak ada jawaban selema beberapa detik dari Mark namun setelah itu kembali bertanya.
"Apa Aeri bersama mu? dia tidak ada di UKS dan ini sudah jam pulang"
"Aeri bersama ku"
"Ku harap Aeri dalam keadaan baik sekarang"
"Brengsek! apa maksud mu??"
"Kau jelas tau maksudku! kau laki-laki kasar yang tak mengerti bagaimana cara menjaga seorang perempuan. Kau hanya tau cara meniduri tanpa bertanggung jawab. Jika kau tak bisa menjaga Aeri maka berikan dia pada ku!!"
"Brengsek!! kau-"
Haechan segera menarik ponselnya dan mematikan sambungan secara sepihak di sana.
"Jen! tenanglah, jangan terbawa emosi seperti itu"
"Chan kau dengar sendiri apa yang dikatakan Mark tadi, dia bilang aku-"
"Tidak kah kau sadar?"
Jeno terdiam saat Haechan memotong kalimatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
HURT || Jenselle
Fanfictionaku tak pernah menyesal karena memberi seluruh hatiku padamu -Kim Aeri kau mengisi ruang kosong di hatiku dengan sempurna -Lee Jeno
