52

405 67 18
                                        

-Hurt-

ʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞ

Aeri menatap kosong ke depan, angin sore ini menerpa wajah cantiknya yang terlihat pucat pasi.

"Riri-ya kita berangkat sekarang?" Suara barinton milik sang kakek sukses membuatnya sedikit terkejut

"Kakek apa boleh aku meminta waktu sedikit? sepertinya ada barang yang tertinggal di kamar"

"Tentu sayang, tapi jangan terlalu lama nee? penerbangan kita satu jam lagi"

Aeri mengangguk mengerti dan kemudian kembali masuk ke dalam rumah yang diyakini adalah salah satu dari sekian aset milik sang kakek di Korea.

Setelah mendengar apa yang terjadi pada cucunya, saat itu juga kakek Aeri langsung terbang ke Korea guna melihat langsung kondisi Aeri.

Jika kalian bertanya bagaimana reaksi sang kakek saat mendengar kronologis bagaimana Aeri bisa keguguran tentu pria paruh baya itu naik pitam sejadi jadinya. Kakek Aeri bahkan sudah menghubungi kaki tangannya untuk segera memburu Karina dan Jeno, kakek Aeri bahkan tidak segan memerintahkan mereka untuk menghabisi kedunya. Namun karena Aeri yang terus menerus memohon dan menangis membuatnya luluh, akhirnya ia tarik kemabali perintah pada bawahannya.

Aeri melangkah menuju kamarnya, ia membuka laci yang ada di lemari pakaiannya. Terdapat sebuah kotak kayu kecil, ia segera mengambil kotak itu dan membukanya.

Terdapat sebuah kalung dengan liontin bulan sabit dan kristal berwarna amethyst di tengahnya. Aeri tersenyum kecil, ini adalah kalung yang diberikan Jeno untuknya. Hadiah pertama yang ia dapatkan dari Jeno.

"Jeno terimakasih untuk segalanya, aku akan terus berdoa agar kau selalu bahagia, begitupun dengan ku"

Aeri kembali menutup kotak itu dan kembali memasukannya ke dalam laci lemari. Helaan nafas yang terasa berat terdengar dari celah bibirnya, tak terasa setetes air mata kembali mengalir di pipinya.

"Aeri kau harus menepati janji mu pada diri sendiri, kau tidak boleh seperti ini, tidak boleh berlarut larut. Setelah semua ini kau harus bahagia, ayo tata kembali hidup mu!" Aeri menghapus air matanya sembari melontarkan kalimat untuk menyemangati dirinya

Beberapa Jam Sebelum itu...

Aeri menatap nisan kecil yang bertuliskan Lee Jeohan, itu merupakan nama yang ia beri untuk mendiang anaknya. Aeri kemarin sempat ditawari oleh Yura untuk mengecek Jenis kelamin anaknya, namun ia menolak karena berpikir ingin melihatnya bersama Jeno dipemeriksaan berikutnya. Malangnya itu hanya sebuah angan angan, sebelum niat itu terlaksana anaknya sudah lebih dulu meninggalakannya.

Rengkuhan Aeri terima dari ayahnya, "Appa..."

"Ikhlaskan sayang, tuhan lebih menyayangi aegi"

"Aku gagal menjaganya appa"

"Tidak sayang, kau sudah sangat baik dalam menjaga aegi. Ini adalah takdir sayang, berhenti menyalahkan dirimu"

"Aeri"

Sepasang ayah dan anak itu kini menatap ke arah lain.

"Mark"

Mark tersenyum teduh dan mendekat ke arah keduanya.

"Appa akan menunggu diluar, kalian bicaralah dahulu" ucap Jongin kemudian beranjak dari tempatnya

Mark membungkuk sopan saat Jongin melewatinya, lalu setelahnya kembali fokus pada Aeri.

"Aeri aku tidak tau bagaimana rasanya menjadi dirimu, aku tidak tau apakah aku bisa menghadapi semuanya jika menjadi dirimu. Tapi Aeri aku tau kau adalah perempuan yang kuat, aku yakin kau bisa melewati semua ini aku sangat percaya padamu"

HURT || Jenselle Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang