-Hurt-
ʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞ
"Maafkan aku, tapi janin nona Aeri tidak dapat diselamatkan"
Ucapan dokter membuat Jeno jatuh terduduk ke lantai rumah sakit yang begitu dingin dan sunyi.
"T-tidak mungkin, tidak mungkin" Jeno menggeleng kuat sembari meneteskan air matanya
"Benturan yang terjadi membuat pendarahannya begitu parah sehingga janin tidak bisa bertahan" lanjut sang dokter
Yura yang sedari tadi ikut menunggu bersama Jeno kini ikut terduduk sembari memegangi bahu adik sepupunya itu.
Jika kalian bertanya kenapa bukan Yura yang menangani Aeri karena secara teknis dia merupakan dokter Aeri, maka jawabannya karena perempuan itu sedang diluar sebelum akhirnya Jeno menghubunginya dan ia segera kembali ke rumah sakit.
"Semua ini salahku! semua terjadi karena kebodohanku, Jeno bodoh... Jeno bodoh" Jeno memukul kepalanya dan terus menyalahkan dirinya
"Jeno hentikan!" ucap Yura
"Noona ini salahku.. hiks.. aegi.. hiks.. maafkan papa.. ini semua salah papa" Jeno kembali menangis tersedu-sedu
"Kapan Aeri bisa di kunjungi?" Yura bertanya pada rekan kerjanya
"Setelah efek biusnya hilang, kalian bisa mengunjunginya"
"Baiklah terimakasih"
Sang dokter mengangguk dan kemudian berlalu.
"Jeno bangunlah, kau harus segera menghubungi keluarga mu"
Jeno yang sedari tadi hanya menangis kini menatap Yura.
"Noona apa boleh aku melihat anak ku dulu?"
Yura mengangguk, "tentu saja, temui anak mu"
Jeno perlahan bangkit dan beranjak dari tempatnya diikuti oleh Yura di belakangnya.
Di ruangan serba putih itu, Jeno terdiam sesaat saat melihat calon anaknya yang sudah tak bernyawa kini di selimuti oleh kain putih.
Tangan Jeno yang sudah bergetar hebat itu perlahan terulur untuk menyentuh mahluk tak bernyawa itu.
Saat Jeno sudah berhasil memindahkan anaknya ke dalam gendongannya, air matanya kembali jatuh.
"Aegi ini papa sayang"
Suara Jeno yang begitu parau tentu membuat yang ada di ruangan ikut merasakan rasa sakitnya.
"Noona lihat, dia begitu kecil" Jeno menatap Yura yang kini sudah ikut meneteskan air matanya
"Aegi maafkan papa ya? kau mau kan sayang? maaf karena gagal menjadi ayah yang baik untuk anak papa ini"
Jeno dengan hati-hati menyentuh langsung anaknya yang belum terbentuk dengan sempurna.
"Aegi kau harus tau, papa sangat menyayangi mu sayang. Dulu papa memang belum bisa menerima mu, tapi semenjak mama dan papa menikah semuanya terasa begitu nyata. Papa perlahan mulai menerima keberadaan mu dan papa mulai menginginkan mu"
KAMU SEDANG MEMBACA
HURT || Jenselle
Fanfictionaku tak pernah menyesal karena memberi seluruh hatiku padamu -Kim Aeri kau mengisi ruang kosong di hatiku dengan sempurna -Lee Jeno
