-Hurt-
ʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞ
Jeno berjalan gontai di pinggir trotoar yang terlihat sepi, ini sudah hampir fajar dan Jeno benar benar seperti seseorang yang sudah hilang jiwanya.
Setelah bicara dengan sang ayah, Jeno memilih untuk pergi dari rumah sakit. Jeno merasa sangat bingung, ia tak ingin kehilangan Aeri namun perkataan Donghae cukup menampar akal sehatnya.
Jeno kembali mengingat semuanya, awal mula semua ini terjadi. Bagaimana ia memperlakukan Aeri, bagaimana ia menghina, mencaci bahkan berbuat kasar pada Aeri. Dan dari semua kenangan itu yang terbayang bayang hanya wajah Aeri yang selalu pasrah dan menerima semua perbuatannya.
Jeno berhenti melangkah, kakinya rasanya sangat lemas.
"Ya tuhan aku harus apa sekarang?"
Jeno menunduk dan menatap kedua ujung sepatunya, "aku tidak ingin kehilangan Aeri"
"A-aku sungguh mencintai... akh!"
Jeno merasakan kepalanya yang berdenyut nyeri, "sial k-kepalaku s-sakit se..ka..li"
Dan semuanya menghitam, Jeno lagi dan lagi tersungkur ke tanah namun kali ini lelaki itu benar-benar kehilangan kesadarannya.
•
•
Kembali pada Aeri yang kini hanya mampu terdiam di kamar rawatnya.
ceklek
Tak lama pintu terbuka dan menampakkan sosok wanita dewasa yang kini berjalan menuju ranjang Aeri.
"Aeri sayang"
Aeri sedikit terkejut sebelum akhirnya menggerakan kepalanya ke sumber suara.
"Momy"
Tiffany dengan cepat menarik tubuh ringkih itu ke dalam dekapannya.
Terhitung baru sehari Tiffany berada di Jepang untuk mengurus beberapa keperluan bisnis keluarga, namun setelah ia mendengar kabar tentang Aeri ia langsung buru buru kembali.
"Aeri sayang tolong maafkan Jeno... momy sudah mendengar semuanya dan momy sungguh minta maaf karena gagal mendidik putra momy... tolong maafkan momy.. Aeri.."
Aeri kembali meneteskan air matanya, "hiks... momy..."
"Menangislah sayang, menangislah agar kau sedikit lebih lega"
"Hiks.. momy... aegi.. hiks.. hiks.. aku gagal menjaganya.. hiks..."
Tiffany kini ikut menangis mendengar tangis pilu sang menantu.
Selang beberapa menit, tangis keduanya mulai mereda. Tiffany sedikit memberi jarak untuknya dan sang menantu supaya ia dapat melihat wajah cantiknya.
Tiffany mengelus surai Aeri dengan penuh kasih, ia mengusap sisa jejak air mata pada wajah itu.
"Kau sangat mirip dengan mendiang ibumu sayang" ucap Tiffany sembari tersenyum kecil
KAMU SEDANG MEMBACA
HURT || Jenselle
Fanfictionaku tak pernah menyesal karena memberi seluruh hatiku padamu -Kim Aeri kau mengisi ruang kosong di hatiku dengan sempurna -Lee Jeno
