59

337 54 10
                                        

-HURT-

ʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞ

Langit Seoul akhir-akhir ini lebih sering mendung. Tapi bagi Jeno, warna langit tak pernah lagi memengaruhi suasana hatinya. Sudah beberapa hari berlalu sejak pertemuan itu. Sejak tatapan mata yang ia rindukan selama tujuh tahun terakhir akhirnya kembali menembus jiwanya.

Namun yang membuatnya limbung bukan pertemuan itu, melainkan ingatannya mengenai perbuatan buruknya dahulu. Tatapan Aeri yang sekarang menyebut dirinya Giselle, memang tak lagi sehangat dulu namun Jeno masih bisa melihat sedikit rasa tak berdaya disana.

Dan itulah yang menghancurkan Jeno.

Di kantor, ia mencoba tetap waras. Tapi para karyawan tahu, ada sesuatu yang salah. Ia kini mudah tersulut bahkan hanya karena presentasi yang menggunakan font tidak konsisten.

"Ini draft? Apa kau pikir NovaTech ini warung kopi?" Suara Jeno meledak pada rapat hari Rabu

Padahal hanya ada satu kesalahan margin dan suasana ruangan itu membeku lagi.

Setiap hari berlalu dengan kemarahan kecil yang tidak bisa dijelaskan. Matanya kosong saat menatap layar, tangannya gemetar halus saat menandatangani dokumen. Dan setiap kali orang memanggil namanya dua kali, ia tersadar bahwa pikirannya sedang melayang entah ke mana.

Sabtu malam.

Ballroom Hotel Seraphine, Gangnam. Lampu gantung kristal bergemerlap, memantulkan cahaya dari dinding kaca dan gelas wine yang bersulang. Musik jazz mengalun tenang dari sudut ruangan, dengan pemain saksofon berdiri di bawah sorotan lampu kuning lembut.

Para undangan mengenakan gaun malam dan jas formal, tertawa dalam kelompok kecil, membahas saham, proyek strategis, atau sekadar bergosip tentang merger terakhir di distrik bisnis.

Lee Jeno berdiri sendiri di sudut ruangan. Setelan hitamnya rapi sempurna, dasinya navy gelap, rambut tersisir tanpa cela. Tapi ada sesuatu yang tidak selaras, sorot matanya kosong. Di tangannya, gelas wine kedua baru saja habis. Tangan satunya sibuk dengan saku celana, seolah mencari pegangan yang tidak pernah ada.

"Tuan Lee"

Beberapa tamu menghampiri, menyapa dengan senyum sopan. Jeno membalas anggukan seperlunya, tapi tidak bertahan dalam satu percakapan pun lebih dari tiga menit.

Ia hanya hadir. Tapi tidak benar-benar ada.

Dari seberang ruangan, Ning Yizhuo memperhatikannya. Gaun malamnya berwarna abu arang, dengan potongan sederhana dan elegan. Rambut disanggul rendah, makeup minimalis.

Ia tahu benar jika Jeno sedang menahan sesuatu. Dan malam ini, ia tidak akan mampu menahannya lebih lama.

Ningning menyapa beberapa kolega lebih dulu, lalu berjalan perlahan mendekat saat melihat Jeno sedang berdiri di meja bar.

"Ini gelas keenam" ucap Ningning pelan sambil duduk di bangku tinggi di sebelahnya. "Kau biasanya berhenti di satu gelas"

Jeno tersenyum tanpa semangat, "aku tidak sedang dalam kondisi biasa"

"Aku bisa lihat" balas Ningning sambil memberi isyarat ke bartender meminta segelas air putih

Jeno menatap cermin besar di belakang rak minuman. Bayangan dirinya terlihat seperti seseorang yang baru saja kehilangan arah.

"Aku sempat berpikir bahwa aku sudah siap" gumamnya lirih. "Ternyata aku hanya pandai menyibukkan diri"

Ningning diam. Ia tahu, pernyataan itu bukan untuk dijawab. Tapi untuk dibiarkan meluncur keluar, agar hati Jeno sedikit lebih ringan.

HURT || Jenselle Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang