-HURT-
ʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞ
Ponsel Jeno bergetar di atas meja kerja saat langit Seoul mulai memasuki warna keemasan senja. Nama yang muncul di layar cukup membuatnya berhenti mengetik.
Momy is calling
Ia diam sejenak, lalu menggeser layar untuk menjawab.
"Yeoboseyo"
"Jeno?" Suara Tiffany terdengar hangat di seberang sana. "Apa kau ada di apartemen malam ini?"
Jeno melirik jam tangannya, "kemungkinan besar ya. Ada apa mom?"
"Aku dan Mark akan ke sana nanti malam. Sudah lama sekali kita tidak makan malam bersama, dan... aku rindu" jawab Tiffany dengan nada lembut namun terdengar menahan sesuatu
Jeno terdiam sebentar, sebelum menjawab, "baik, aku akan siapkan sesuatu"
"Tidak perlu repot repot kami hanya ingin melihatmu, kau baik-baik saja kan?"
"Sejauh ini, ya"
Tiffany menghela napas dari seberang, "Mark bilang kau semakin sering pulang larut. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri Jeno"
"Mom..." ucap Jeno pelan
"Aku tahu. Aku tidak akan membahas soal itu" potong Tiffany cepat, seolah tahu apa yang akan keluar dari mulut putranya
"Hanya saja meskipun kau tidak tinggal di rumah, rumah tidak pernah menutup pintu untukmu" sambung Tiffany
Jeno menatap layar kosong di hadapannya. Di dalam dirinya, ada sesuatu yang tertahan tapi tak ingin diungkapkan malam ini.
"Terima kasih" gumamnya akhirnya
"Baiklah, sampai jumpa nanti malam"
Telepon terputus, meninggalkan ruang kerja dalam sunyi.
Setelah insiden tujuh tahun lalu, segalanya mulai berubah. Tidak hanya hubungan Jeno dengan Aeri yang terputus, tapi juga dengan ayahnya sendiri yang tak pernah benar-benar menatapnya.
Sebagai sahabat dekat Jongin, ayah Jeno merasa dipermalukan. Bukan hanya karena tindakan anaknya, tetapi karena itu menyentuh reputasi dan kepercayaan yang dibangun puluhan tahun lamanya. Dalam diam, sang ayah memutuskan sesuatu yang dingin dan tegas, bahwa Jeno bukan lagi anak yang patut ia ingat.
Waktu berlalu, kini langit yang berwaarna keemasan sudah berubah menjadi kelabu. Lampu gantung berwarna hangat menyala lembut di ruang tamu apartemen Jeno. Interiornya bersih dan modern, rapi nyaris steril, seperti milik seseorang yang menjalani hari-hari dengan rutinitas yang sama dan jarang menetap.
Tiffany melangkah masuk lebih dulu, membuka mantel panjangnya dengan gerakan tenang. Mark menyusul sambil membawa kantong belanja berisi kue dan camilan dari rumah.
"Apartemenmu ini selalu wangi. Aku curiga kau pasang diffuser 24 jam" komentar Mark sambil menjatuhkan diri ke sofa
"Bukan diffuser, aku bersih-bersih tiap pagi" sahut Jeno
Tiffany menatap Jeno lama, "tiap pagi?"
Jeno mengangguk, "itu bagian dari rutinitas, agar kepalaku tetap waras"
Mark mendecak pelan, "waras tapi sepi"
Tiffany menaruh tas kecilnya lalu menghampiri meja makan kecil yang ada di sisi ruangan, "kau makan teratur?"
KAMU SEDANG MEMBACA
HURT || Jenselle
Fanfictionaku tak pernah menyesal karena memberi seluruh hatiku padamu -Kim Aeri kau mengisi ruang kosong di hatiku dengan sempurna -Lee Jeno
