-HURT-
ʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞ
Hari itu, matahari menyelinap lembut ke sela-sela tirai apartemen Jeno. Udara terasa hangat, tak sepanas kemarin, tapi cukup untuk membuat suasana jadi lebih bersahabat. Tak ada agenda pemotretan, tak ada staf yang datang, hanya jeda dua hari yang diberikan untuk kru agar bisa beristirahat dan entah kenapa, Jeno merasa hari ini akan terasa sangat panjang jika ia harus menjalaninya sendiri.
Saat bel pintu berbunyi, ia langsung tahu siapa yang datang. Ia berjalan dengan hati-hati ke arah pintu, bahunya masih terasa ngilu jika digerakkan terlalu cepat.
Begitu pintu dibuka, Giselle berdiri di sana. Ransel kecil di punggungnya, rambutnya dibiarkan tergerai seadanya.
"Kau datang lagi" ucap Jeno, sedikit terkejut namun tidak bisa menyembunyikan senyumnya
"Aku harus memastikan bahumu tidak membusuk" jawab Giselle tenang, berjalan masuk tanpa menunggu diundang. Ia meletakkan tasnya di dekat sofa dan menatap Jeno. "Duduklah biar aku yang mengganti perbanmu hari ini"
Setelah semua selesai dan perban diganti dengan rapi, Giselle membereskan alat-alat medis di meja. Saat itulah Jeno bersuara, dengan nada agak merengek.
"Aku lapar"
Giselle menoleh, menatapnya datar. "Lalu?"
"Aku sedang tak bisa masak" ujar Jeno ringan
Giselle mendesah pelan, memutar matanya. "Kau bisa pesan makanan"
"Aku bisa" Jeno mengangguk. "Tapi aku merindukan makanan buatanmu"
Giselle menatapnya lama, lalu berdiri dan menuju dapur tanpa berkata apa-apa.
"Apa kau—" Jeno membuka suara.
"Diamlah. Kau tak ingin supmu gosong, bukan?"
Jeno hanya tersenyum, matanya mengikuti setiap gerak Giselle dari meja makan. Tangannya yang terampil, cara dia mengaduk perlahan, aroma bawang yang mulai menguar semuanya membawa kenangan yang begitu familiar.
Beberapa saat kemudian, mereka duduk berhadapan di meja makan kecil. Dua piring sup hangat tersaji, bersama semangkuk nasi dan kimchi buatan supermarket.
Jeno mencicipi sendokan pertama, lalu mengangguk puas. "Rasanya masih sama"
"Karena resepnya tak berubah" balas Giselle pelan menatap mangkuknya sendiri
"Tapi orangnya berubah" gumam Jeno nyaris tak terdengar
Giselle terdiam. Untuk beberapa detik, yang terdengar hanya bunyi sendok menyentuh mangkuk.
"Ya" katanya akhirnya. "Orangnya memang berubah. Kau pun begitu"
Jeno menatapnya, lembut namun tak menuntut. "Mungkin. Tapi aku harap meskipun kita sudah berubah, kita masih bisa duduk seperti ini, makan siang bersama, tanpa rasa bersalah"
Giselle tersenyum kecil, senyum yang sulit diartikan. "Kalau kau tidak menyebut 'rasa bersalah' tadi, mungkin aku akan berpikir ini hanya makan siang biasa"
Jeno tertawa pelan. "Maaf, aku memang payah dalam menjaga suasana"
Setelahnya, makan siang dilanjutkan dalam obrolan-obrolan kecil. Tentang sup yang agak asin, tentang pot bunga mati di balkon yang harus diganti, bahkan tentang film dokumenter aneh yang pernah mereka tonton bersama.
Di antara tawa dan percakapan ringan itu, tak ada pengakuan cinta atau janji masa depan. Tapi ada kedekatan yang tumbuh perlahan, seperti benih yang menunggu musimnya sendiri untuk tumbuh dan tak seorang pun di antara mereka berani menyentuhnya terlalu cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
HURT || Jenselle
Fiksi Penggemaraku tak pernah menyesal karena memberi seluruh hatiku padamu -Kim Aeri kau mengisi ruang kosong di hatiku dengan sempurna -Lee Jeno
