-HURT-
ʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞʚ ═══・୨ ꕤ ୧・═══ ɞ
Suasana ruang rapat sore itu terasa sedikit janggal. Langit di luar mulai menggelap, dan lampu-lampu di dalam ruangan perlahan menyala otomatis. Jeno duduk di sisi meja panjang, menatap beberapa berkas di depannya dengan ekspresi datar tapi tegas. Sementara di seberangnya, Ningning berdiri sambil memegang tablet, siap mencatat arahan baru seperti biasa.
Namun, bukan arahan kerja yang Ningning dengar pertama kali.
"Kau akan pergi ke Busan besok pagi" ucap Jeno tiba-tiba, tanpa melihat ke arah Ningning
Gadis itu terdiam. "Maaf, ke Busan? dalam rangka apa sajangnim?"
Jeno akhirnya mengangkat pandangannya. Tatapannya tajam, namun tidak menunjukkan emosi berlebihan. "Cabang kita di sana sedang bermasalah dengan sistem distribusi dan laporan keuangan internal. Aku butuh seseorang yang bisa kupercaya untuk menyelesaikannya langsung di lokasi"
Ningning mengerutkan alisnya, "Bukankah hal seperti itu bisa diselesaikan lewat panggilan video? M-maksudku kenapa tiba-tiba harus turun langsung?"
Jeno menutup berkas di hadapannya dengan satu gerakan pelan namun pasti.
"Karena aku ingin itu diselesaikan secepat mungkin. Dan kalau aku yang ke sana, artinya aku harus meninggalkan proyek ini dan itu bukan pilihan"
Nada suaranya tidak meninggi, tapi juga tidak memberi ruang untuk diskusi lebih lanjut.
Ningning menahan napas. Ia tahu, ada sesuatu yang berubah. Cara Jeno berbicara akhir-akhir ini, caranya mengambil keputusan, semuanya terasa lebih dingin. Tapi yang paling membuatnya tidak nyaman adalah ia tidak lagi tahu pasti apa yang dipikirkan pria itu.
"Aku akan menyiapkan semua keperluan untuk keberangkatan besok" ucap Ningning akhirnya, mencoba tetap profesional
"Bagus" Jeno berdiri. "Kau akan tinggal di sana selama seminggu. Atau dua, kalau diperlukan. Laporan bisa kau kirim harian, dan jika ada sesuatu yang mendesak, aku akan langsung turun tangan"
Ningning menggenggam tablet-nya erat-erat. Ada pertanyaan besar di kepalanya yang tidak terucapkan. Kenapa sekarang? Kenapa aku? Tapi ia hanya mengangguk pelan, menutupi perasaan yang mulai bergemuruh di dalam dadanya.
"Aku paham"
Dan tanpa menunggu lagi, Jeno melangkah keluar dari ruangan, menyisakan Ningning yang berdiri membeku di tengah ruangan, dengan dada yang semakin sesak.
•
•
Langit siang itu bersih, sinar matahari menyusup dari balik kaca besar di lokasi pemotretan indoor. Studio tampak sibuk seperti biasa, tim make-up, lighting, dan wardrobe berlalu-lalang menyempurnakan setiap detail. Di tengah kesibukan itu, Jeno berdiri di sudut ruangan, memperhatikan jalannya sesi pemotretan dengan tenang.
Giselle baru saja menyelesaikan satu sesi yang cukup panjang. Ia berjalan menuju kursi istirahat sambil melepas sepatu haknya. Keringat halus membasahi pelipisnya, namun ekspresinya tetap tak berubah, dingin, kaku, dan menjaga jarak.
Tanpa banyak pikir, Jeno berjalan pelan menghampirinya, membawa sebotol air mineral dingin.
"Kau pasti haus" ucapnya sambil mengulurkan botol itu
Giselle menoleh sebentar, lalu tatapannya kembali tajam seperti biasa. "Aku sudah dapat dari staff" katanya datar, tanpa menerima botol itu. Nada suaranya mengandung ketus yang tak tersamar
KAMU SEDANG MEMBACA
HURT || Jenselle
Fanfictionaku tak pernah menyesal karena memberi seluruh hatiku padamu -Kim Aeri kau mengisi ruang kosong di hatiku dengan sempurna -Lee Jeno
